Belajar Jadi Pengelola Perpustakaan: Cerita Mahasiswa Unpam PLP di SMAN 28 Tangerang

seorang mahasiswa universitas pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari siti nursyamsiyyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ternyata mengurus perpustakaan bukan sekadar menyusun buku agar rapi di rak. Ada sistem, ada ketelitian, dan ada cerita di baliknya. Itulah yang saya dan tiga rekan mahasiswa Program Lapangan Praktik (PLP) Universitas Pamulang pelajari selama dua minggu di Perpustakaan SMAN 28 Kabupaten Tangerang, 5–19 Oktober 2026.
PLP sendiri merupakan program praktik lapangan yang wajib ditempuh mahasiswa untuk menerapkan ilmu dari bangku kuliah langsung di lapangan. Kami berasal dari Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI), dan kali ini kami mendapat kesempatan mengelola perpustakaan sekolah.
Selama dua minggu, kami didampingi guru bagian perpustakaan, Ibu Anti dan Bapak Faris, serta berada di bawah pengawasan Ibu Saidah selaku Kepala Perpustakaan SMAN 28 Kabupaten Tangerang. Pendampingan mereka membuat kami leluasa bertanya dan berdiskusi, bahkan saat menemui hal-hal teknis yang belum kami pahami.
Aktivitas PLP Unpam: Menata buku, menginput data, sampai membuat grafik
Salah satu tugas pertama kami adalah penataan koleksi buku di rak-rak perpustakaan. Dengan teliti, kami memastikan setiap buku berada pada tempatnya sehingga siswa lebih mudah mencari referensi yang dibutuhkan.
Setelah rak tertata, kami lanjut ke tugas administratif: mendata siswa yang meminjam buku beserta judul buku yang dipinjam. Kami harus teliti mencatat setiap detail peminjaman. Dari data ini, kami bisa melihat buku apa saja yang paling sering dipinjam, sehingga pihak perpustakaan tahu koleksi mana yang perlu diperbanyak.
Tugas teknis lainnya adalah menginput data buku ke dalam sistem web INLISLite. Ini bukan pekerjaan yang bisa dilakukan sambil lalu—setiap judul, nomor klasifikasi, dan data bibliografi harus dimasukkan dengan akurat. Langkah ini penting untuk modernisasi pengelolaan perpustakaan, agar pencarian koleksi bisa dilakukan secara digital dan efisien.
Kami juga berinisiatif membuat grafik daftar siswa yang berkunjung ke perpustakaan. Tujuannya sederhana: memahami pola kunjungan dan minat baca siswa. Data ini kami harapkan bisa menjadi masukan bagi pihak sekolah dan perpustakaan dalam merancang program literasi yang lebih tepat sasaran.
Tugas praktis lainnya adalah mencetak dan menempelkan label pada buku-buku. Kedengarannya sepele, tapi di sinilah kami belajar soal ketelitian. Satu label salah tempel, proses peminjaman dan pengembalian bisa jadi kacau.
"Selama dua minggu ini, kami benar-benar merasakan denyut nadi perpustakaan sekolah. Mulai dari menyusun buku agar rapi, mendata peminjaman siswa, mengelola data digital lewat INLISLite, hingga menganalisis grafik kunjungan. Semua pengalaman ini sangat berharga," ujar Ketua Tim PLP Unpam.
Sambutan hangat dari pihak sekolah
Ibu Saidah, Kepala Perpustakaan SMAN 28 Kabupaten Tangerang, menyambut baik kontribusi kami. "Kami sangat terbantu dengan adanya kegiatan PLP dari Universitas Pamulang ini. Tugas-tugas yang dilakukan mahasiswa sangat relevan dengan kebutuhan perpustakaan kami saat ini. Kerja mereka rapi, cepat, dan penuh semangat," ungkapnya. "Semoga pengalaman ini menjadi bekal berharga bagi para mahasiswa di masa depan."
Bagi saya pribadi, PLP ini bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik. Ini adalah pengalaman pertama saya melihat langsung bagaimana sebuah perpustakaan sekolah bekerja—dari hal-hal kecil seperti menempel label, sampai hal strategis seperti menganalisis data kunjungan dan peminjaman.
Program PLP di Perpustakaan SMAN 28 Kabupaten Tangerang ini menjadi bukti nyata sinergi antara institusi pendidikan tinggi dan sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan modern. Kehadiran para mahasiswa tidak hanya membantu operasional perpustakaan, tetapi juga menanamkan semangat literasi bagi generasi penerus.
