Konten dari Pengguna

Flexing di Dunia Maya: Ketika Anak Muda Menukar Jati Diri Demi Validasi

Siti Patiah

Siti Patiah

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Patiah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.pexels,com
zoom-in-whitePerbesar
https://www.pexels,com

Dibalik gemerlap unggahan mewah di media sosial,tersembunyi tekanan sosial dan krisis identitas yang dialami generasi muda. Flexing bukan hanya soal pamer, tapi juga cermin repuhnya nilai diri yang dibentuk oleh validasi semu.

Di zaman serba digital ini, media sosial telah menjadi panggung utama kehidupan. Tidak hanya untuk berbagi kabar, tapi juga menjadi alat pembentuk citra diri. Salah satu fenomena yang kian ramai di jumpai adalah flexing pamer kekayaan, gaya hidup mewah, dan pencapaian pribadi yang ditampilkan seolah menjadi tolok ukur keberhasilan hidup.

Bagi generasi muda, flexing sering kali dianggap sebagai cara untuk menunjukan eksistensi. Semakin sering "wah", semakin besar pula perhatian yang datang. Padahal, tidak semua yang tampak mewah di layar mencerminkan kenyataan. Banyak yang memaksakan penampilan demi pengakuan sosial, bahkan sampai berutang hanya agar terlihat sukses.

Fenomena ini membawa dampak yang tidak bisa diangga sepele. Flexing menciptakan standar palsu tentang kebahagiaan, seakan hidup ideal itu harus penuh barang branded, mobil mahal, dan liburan ke luar negri. Akibatnya, muncul tekanan sosial yang besar, terutama bagi mereka yang sedang berjuang dengan keterbatasan. Rasa percaya diri bisa runtuh, iri hati tumbuh subur, dan akhirnya membentuk generasi yang lelah berpura-pura.

Yang lebih mengkhawatirkan, flexing bisa menjadi gejala krisis identitas. Ketika nilai diri diukur dari jumlah likes, followers, atau seberapa mewah isi postingan, maka generasi muda beresiko kehilangan jati dirinya. Kita mulai melupakan nilai-nilai dasar seperti kejujuran, kerja keras, kesederhanaan, dan empati terhadap sesama.

Media sosial seharusnya menjadi ruang berbagi, bukan ajang perlombaan status. Menampilkan kehidupan pribadi sah-sah saja, tetapi akan lebih bijak jika dibarengi dengan kesadaran sosial. Alih-alih memamerkan kemewahan, mengapa tidak lebih banyak berbagi proses, perjuangan, atau pengalaman yang menginspirasi?

Sudah saatnya kita membuka mata. Bahwa tidak semua yang viral itu benar, tidak semua terlihat itu sukses itu bahagia. Kita perlu membangun budaya digital yang sehat yang mendorong keaslian, bukan pencitraan semu. Karena pada akhirnya, manusia tidak diingat dari apa yang dipamerkan,melainkan dari nilai yang ditinggalakan.

Artikel ini dibuat sebagai sebagian syarat untuk mmenuhi tugas mata kuliah pendidikan kewarganegaraan yang di bimbing oleh Bapak Mawardi Nurullah S.pd.,M.pd.

Siti Patiah Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi S1.