Konten dari Pengguna

Dilema Suku Bunga: Menjinakkan Inflasi Tanpa Bikin Ekonomi Mati Suri

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti puput tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dok. Ilustrasi AI
zoom-in-whitePerbesar
Dok. Ilustrasi AI

Setiap kali harga bahan pokok naik atau nilai tukar Rupiah melemah, Bank Indonesia (BI) hampir selalu jadi sorotan. Salah satu jurus andalan BI untuk menahan laju kenaikan harga adalah dengan menaikkan suku bunga acuan. Tapi, langkah ini sebenarnya ibarat menekan pedal rem kendaraan: kalau remnya diinjak terlalu keras, ekonominya memang melambat, tapi penumpangnya bisa terpental.​

Di dalam ilmu ekonomi makro, menaikkan suku bunga bertujuan untuk "mendinginkan" pasar. Ketika suku bunga naik, bunga kredit bank seperti KPR, kredit kendaraan, hingga pinjaman modal usaha ikut melambung. Akibatnya, masyarakat dan pengusaha akan berpikir dua kali sebelum mengambil utang baru. Ketika orang-orang menahan diri untuk belanja dan berinvestasi, jumlah uang yang beredar berkurang, lalu harga barang perlahan-lahan stabil kembali.

Masalahnya, menahan suku bunga di tingkat yang tinggi dalam waktu lama itu ada harganya.

​Konsumsi masyarakat dan investasi pengusaha adalah mesin utama penggerak ekonomi Indonesia. Kalau modal usaha mahal dan cicilan makin berat, pengusaha enggan membuka cabang atau merekrut karyawan baru. Dampak terburuknya, daya beli masyarakat ambruk dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) tidak bisa dihindari. Usaha meredam inflasi yang terlalu agresif justru bisa menyeret kita ke jurang resesi.

Inilah yang disebut dilema kebijakan moneter. Lantas, apa yang harus dilakukan?

​Jawabannya adalah mencapai soft landing—sebuah kondisi ideal saat inflasi berhasil diturunkan tanpa harus mematikan roda perekonomian. Menurut saya, untuk sampai ke titik aman ini, BI tidak bisa berjuang sendirian:

1.​ Pemerintah dan BI Harus Sejalan: Saat BI "mengerem" belanja masyarakat lewat suku bunga, pemerintah harus "mengegas" penyaluran bantuan sosial dan insentif untuk UMKM. Langkah ini penting agar masyarakat kelas bawah tidak kena dampak paling parah.

​2. Jangan Bikin Pasar Kaget: BI perlu mengomunikasikan arah kebijakannya secara transparan sejak jauh hari. Kalau pengusaha dan perbankan tahu arah angin kebijakan ekonomi, mereka bisa bersiap tanpa perlu panik.

Menjaga harga-harga agar tidak melonjak memang tugas penting. Namun, menjaga dapur masyarakat tetap ngebul dan lapangan kerja tetap ada jauh lebih krusial. Keberhasilan menjaga keseimbangan tipis inilah yang menjadi ujian nyata bagi para pengambil kebijakan kita hari ini.