Konten dari Pengguna

Ketika Puisi Perlawanan Menjadi Suara Zaman: Rendra dan Wiji Thukul

Siti Rahmawati

Siti Rahmawati

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Rahmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Gambar: Potret Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Gambar: Potret Pribadi

Puisi tidak selalu lahir untuk dinikmati dalam diam. Pada waktu tertentu, puisi justru muncul sebagai reaksi terhadap tekanan sosial dan politik yang membatasi suara manusia. Dalam konteks Indonesia, karya W.S. Rendra dan Wiji Thukul menunjukkan bagaimana puisi dapat berfungsi sebagai suara zaman, merekam kegelisahan kolektif, dan menyuarakan perlawanan dengan cara yang berbeda.

Puisi “Aku Tulis Pamflet Ini” karya W.S. Rendra lahir pada masa ketika kebebasan berpendapat mulai menyempit, tetapi belum sepenuhnya tertutup. Rendra menggambarkan situasi sosial yang penuh kecurigaan, di mana pendapat umum tidak lagi terbuka dan kritik harus melewati jalur resmi. Akibatnya, suara masyarakat berubah menjadi bisik-bisik, dan hidup kehilangan ruang dialog yang sehat. Melalui metafora sederhana namun tajam, seperti “sayur tanpa garam”, Rendra menegaskan bahwa kritik bukan gangguan, melainkan kebutuhan dalam kehidupan bersama.

Menariknya, sikap perlawanan Rendra tidak disampaikan dalam bentuk seruan keras. Ia memilih jalur reflektif dan argumentatif. Penyair dalam puisi ini masih percaya pada kemungkinan dialog, perdebatan, dan pertukaran gagasan secara wajar. Puisi menjadi ruang berpikir, tempat penyair mengajak pembaca untuk menyadari bahwa kebebasan berpendapat adalah bagian dari martabat manusia.

Berbeda dengan Rendra, Wiji Thukul menulis “Bunga dan Tembok” dari kondisi sosial yang jauh lebih menekan. Pada akhir Orde Baru, ruang kritik hampir sepenuhnya tertutup, terutama bagi rakyat kecil. Dalam puisi ini, Thukul menggunakan simbol bunga untuk menggambarkan mereka yang keberadaannya dianggap mengganggu, sementara tembok melambangkan kekuasaan yang menindas dan membatasi ruang hidup. Bahasa yang digunakan sangat sederhana, tetapi justru itulah kekuatannya. Pesan perlawanan disampaikan secara langsung dan tanpa kompromi.

Thukul tidak berbicara sebagai individu, melainkan sebagai bagian dari “kami”. Puisi ini menyuarakan keyakinan kolektif bahwa penindasan tidak akan bertahan selamanya. Tidak ada ajakan berdialog dengan kekuasaan, karena dialog itu sendiri telah dirampas. Perlawanan dalam puisi ini lahir dari pengalaman hidup yang keras dan nyata.

Jika dilihat melalui pendekatan sosiologi sastra, perbedaan cara berbicara antara Rendra dan Thukul bukanlah sekadar persoalan gaya. Keduanya merepresentasikan posisi sosial yang berbeda dalam struktur masyarakat yang sama. Rendra hadir sebagai intelektual kritis yang masih memiliki akses terhadap ruang wacana, sementara Thukul mewakili suara rakyat tertindas yang ruang bicaranya semakin dipersempit.

Dengan demikian, kedua puisi ini dapat dibaca sebagai dua respons terhadap tekanan sosial yang sama. Rendra menyuarakan kegelisahan melalui refleksi dan dialog, sedangkan Thukul menyuarakan keyakinan melalui perlawanan yang tegas. Perbedaan ini justru memperlihatkan bagaimana sastra bekerja mengikuti perubahan situasi sosial.

Membaca puisi-puisi Rendra dan Wiji Thukul hari ini mengingatkan kita bahwa sastra tidak pernah sepenuhnya terpisah dari zamannya. Ketika ruang berbicara masih ada, puisi mengajak berpikir. Ketika ruang itu tertutup, puisi berubah menjadi suara yang menolak untuk diam. Dalam kedua bentuk itu, puisi tetap hadir sebagai penanda bahwa manusia selalu berusaha mempertahankan martabat dan kebebasannya.