Konten dari Pengguna

Ketika Tenang Menyimpan Luka: Belajar dari Kisah Kakek di ‘Robohnya Surau Kami’

Siti Rahmawati

Siti Rahmawati

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Rahmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Gambar Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Gambar Pribadi

Tokoh Kakek dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis merupakan sosok yang selama ini dikenal sebagai penjaga surau, taat beribadah, dan hidup sederhana dari sedekah serta hasil pemunggahan ikan di kolam desa. Di balik ketenangan dan keikhlasannya, tersimpan luka dan gejolak emosi yang jarang terlihat oleh orang lain. Kakek adalah pribadi yang introvert, lebih memilih menyembunyikan perasaannya, sehingga ketika ia menghadapi tekanan atau masalah, hanya sedikit yang tahu betapa berat beban yang ia tanggung.

Suatu hari, kehadiran Ajo Sidi, tokoh pembual desa, mengubah segalanya. Ajo Sidi membawa cerita tentang Haji Saleh, seorang alim yang di akhirat tetap masuk neraka karena terlalu egois dan melupakan kewajiban kepada keluarga. Cerita ini seolah-olah menyindir Kakek, yang selama ini hanya fokus beribadah dan mengabaikan kehidupan sosialnya. Kakek yang biasanya pendiam tiba-tiba menjadi muram, pandangannya sayu, dan tak lagi menyahut salam seperti biasanya. Ini menunjukkan betapa besar gejolak emosi yang ia rasakan, meski tak pernah ia ungkapkan secara terbuka.

Kakek, dengan kepribadian ekstrovert-penginderaan yang praktis dan realistis, akhirnya menerima kenyataan bahwa apa yang ia lakukan selama ini mungkin tidak sepenuhnya benar. Ia menjadi sensitif terhadap omongan orang lain, dan bualan Ajo Sidi berhasil membuatnya mempertanyakan hidupnya sendiri. Akhirnya, Kakek memilih jalan tragis dengan mengakhiri hidupnya di surau.

Cerita Kakek mengajarkan kita bahwa orang yang terlihat tenang dan stabil di luar, bisa saja menyimpan luka dan tekanan batin yang sangat besar di dalam. Kakek tidak hanya menjadi korban dari kehidupannya yang sepi, tetapi juga dari kurangnya dukungan sosial dan pemahaman dari lingkungan sekitar. Ia mudah terpengaruh oleh omongan orang lain karena selama ini hidupnya terlalu tertutup dan kurang berinteraksi dengan masyarakat luas.

Melalui kisah Kakek, kita diajak untuk lebih peka terhadap orang-orang di sekitar kita, terutama mereka yang pendiam dan jarang mengungkapkan perasaannya. Penting untuk membangun komunikasi yang sehat dan memberikan dukungan emosional, agar mereka tidak merasa sendiri dan terjerumus dalam keputusasaan. Selain itu, cerita ini juga mengingatkan kita bahwa ketaatan beribadah harus diimbangi dengan kepedulian terhadap sesama, karena hidup yang seimbang adalah kunci kebahagiaan dan ketenangan jiwa.