Konten dari Pengguna

Mahalnya Pangan & Daya Beli Curam:Mengapa Rumah Tangga Kecil Selalu Jadi Korban?

Siti Ro'asih

Siti Ro'asih

Mahasiswi Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Ro'asih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar yang di ambil Siti Ro'asih di sekitaran rumah terkait kegiatan ekonomi, yaitu jual beli pangan antara warung sayur kecil dan rumah tangga miskin.
zoom-in-whitePerbesar
Gambar yang di ambil Siti Ro'asih di sekitaran rumah terkait kegiatan ekonomi, yaitu jual beli pangan antara warung sayur kecil dan rumah tangga miskin.

Harga pangan di Indonesia semakin sulit dijangkau. Beras, cabai, hingga telur terus mengalami kenaikan. Dan seperti biasa, rumah tangga kecil yang paling dulu merasakan dampaknya. Bagi keluarga menengah, kenaikan harga mungkin hanya mengubah menu. Tapi bagi rumah tangga miskin, itu bisa berarti porsi lauk berkurang, gizi terpangkas, bahkan kebutuhan lain harus dikorbankan.

Inflasi Pangan yang Tak Kunjung Reda

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi pangan (volatile food) pada Maret 2024 mencapai 10,33 persen (yoy), jauh lebih tinggi dari inflasi umum. Pada Desember 2024, inflasi bulanan tercatat 0,44 persen, dipicu kenaikan telur ayam ras dan cabai merah. Juli 2025 pun masih mencatat inflasi tahunan 2,37 persen, dengan makanan dan minuman sebagai penyumbang utama.

Masalahnya, rumah tangga miskin menghabiskan hampir seluruh penghasilannya untuk makanan. BPS mencatat 74,58 persen pengeluaran mereka habis untuk pangan. Dengan garis kemiskinan nasional Rp595.242 per kapita per bulan (September 2024), satu keluarga berisi empat orang butuh setidaknya Rp2,4 juta sebulan hanya untuk bertahan hidup. Kenaikan harga sedikit saja bisa langsung menjatuhkan daya beli mereka.

Kenapa Selalu Rumah Tangga Kecil?

Ada tiga alasan menbapa rumah tangga kecil selalu berdampak. Pertama, rantai distribusi pangan terlalu panjang. Dari petani ke tengkulak hingga pasar, harga terus melonjak. Ironisnya, petani tetap miskin, konsumen tetap bayar mahal. Kedua, kebijakan pemerintah cenderung reaktif. Operasi pasar baru dilakukan setelah harga telanjur naik, bukan untuk mencegah gejolak sejak awal. Ketiga, daya tawar rumah tangga kecil sangat lemah. Tanpa tabungan, tanpa akses kredit murah, mereka hanya bisa pasrah membeli dengan harga apa pun.

Efek Domino ke UMKM

Kenaikan harga pangan bukan hanya masalah dapur rumah tangga saja namun, UMKM juga ikut terpukul. Produsen kecil harus menanggung harga bahan baku yang tinggi, sementara konsumen menahan belanja. Akibatnya, penjualan turun, margin menyempit, dan ekonomi mikro ikut melemah. Sehingga menghasilkan siklus: harga naik → daya beli jatuh → UMKM lesu → ekonomi mikro rapuh.

Butuh Solusi Struktural

Mengendalikan harga pangan tidak bisa hanya mengandalkan operasi pasar sesaat. Dibutuhkan strategi yang lebih menyentuh akar persoalan:

  • Memperpendek rantai distribusi melalui koperasi desa dan logistik lokal.

  • Memperbaiki data pangan secara real time agar prediksi pasokan lebih akurat.

  • Menyalurkan bantuan pangan tepat sasaran, bukan sekadar formalitas politik.

  • Memberdayakan petani kecil dengan subsidi pupuk, akses teknologi, gudang penyimpanan, hingga asuransi pertanian.

Ukuran Nyata Ekonomi

Pada akhirnya, mahalnya pangan adalah cermin lemahnya perlindungan negara terhadap rakyat kecil. Pertumbuhan ekonomi 5 persen tak ada artinya bila jutaan keluarga tidak bisa membeli lauk bergizi. Karena keberhasilan ekonomi sejati harus diukur dari sederhana: apakah dapur rumah tangga kecil masih bisa berasap setiap hari?