Memahami Nahwu Menghafal Nadhom Nahwu

Mahasiswa UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan
Tulisan dari Siti Salamah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Umumnya, pondok pesantren dalam mempelajari ilmu bahwu selalu menggunakan kitab-kitab salaf klasik seperti Jurumiyah, Imriti dan Alfiyah. Santri tidak luput selalu menghafal nadhom-nadhom yang ada di dalamnya. Ketiga kitab nahwu yang disebutkan tersebut merupakan kitab umum nahwu yang dipelajari dalam pondok pesantren. Kitab Nahwu bagi sebagian santri merupakan indikator sederhana serta berbobot atau tidaknya sebuah pesantren. Namun, kenyataannya pondok terdahulu memang tidak luput dari kajian kitab ini seperti Pondok Pesantren Lirboyo, Tambakberas, Kajen dan lain sebagainya.
Namun beberapa pondok pesantren seperti Pondok Pesantren Nurul Hidayah Kaliwungu dan Pondok Pesantren Asyaibany yang tidak lagi menerapkan sistem hafalan nadhom. Tetapi pengasuh pondok pesantren tersebut memiliki cara tersendiri dalam memahamkan santrinya mempelajari ilmu nahwu. Hal ini dikarenakan agar santri lebih cepat dalam membaca kitab kuning gundul. Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hidayah sendiri beranggapan bahwa jika santri menghafal nadhom dan memahami nahwu terbilang berat bagi santri. Begitu juga yang pernah diungkapkan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Asyaibany dalam muqodimah sebelum pembelajaran nahwu beliau mengatakan bahwa
“Nadhom Alfiyah dihafalkan dulu sampai akhir, lalu belajarlah memahami Nahwunya”.
Jadi, Problematika disini adalah Bagaimana Santri Memahami Nahwu tanpa harus menghafal Nadhom untuk bisa baca kitab kuning. Hal ini karena salah satu kontribusi kitab kuning adalah sebagai bahan bacaan untuk merajut budaya literasi di Pesantren. Kitab-kitab yang ditulis para ulama terdahulu menjadi teman yang akrab bagi santri. Pada dasarnya, kitab gundul atau kitab kuning memang menjadi ikon di dunia kepesantrenan. Itulah mengapa rasanya kurang pas jika santri tidak memiliki kemampuan dalam membaca kitab kuning. Karena antara kitab kuning dan santri adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Namun, Santri juga merasa terbebani apabila mempelajari nahwu harus juga menghafalkan nadhomnya. Akibatnya, santri cenderung fokus menghafal daripada memahami. Tak hanya itu, apabila sistem menghafal tersebut menjadikan sebagian aturan wajib dan evaluasi akhir dari kelulusan pondok pesantren maka santri menjadi tidak betah tinggal di Pesantren. Walaupun menghafal nadhom di dalam pondok pesantren sudah menjadi tradisi yang melekat dalam santri. Tak hanya itu apabila santri dituntut oleh keadaan bahwa dalam kurun waktu sekian tahun harus bisa baca kitab kuning. Hal ini menjadikan waktu sebagai landasan dasar harus bisa memberikan kontribusi utama dalam menjalankan tuntutan itu.
Oleh karena itu, sebagian pengasuh pondok pesantren di Indonesia sudah memberikan solusi dengan cara menciptakan cara baru dalam mempelajari nahwu. Tanpa harus menghafal nadhom namun paham mengenai ilmu nahwu dan bisa menerapkannya dalam membaca kitab kuning. Diantaranya seperti Pondok Pesantren Nurul Hidayah yang menggunakan Kitab Utawikiku sebagai pedoman dalam mempelajari Nahwu dan Shorof. Kitab 'Utawikiku' tersebut ditulis sendiri oleh Pengasuhnya yaitu K.H. Abdul Muiz Syamsul Ma’arif selama 2 bulan. Kitab ringkas yang terdiri dari 3 jilid dengan jumlah halaman yang sedikit dan bahasa sangat sederhana. Tujuannya agar santri bisa lebih cepat memahami nahwu dan membaca kitab kuning. Bagitu pula dengan Pondok Pesantren Asyaibany Memiliki Kitab berjudul '30 jam Cara Cepat Baca Kitab'. Kitab ini hanya satu jilid namun isinya lengkap menggunakan bahasa pendidikan yang sederhana namun tetap bisa dipahami dengan mudah.
Istilah nahwu sendiri yaitu
عِلْمٌ بِاُصُوْلٍ مُسْتَنْطَةِ مِنْ قَوَاعِدِ الْعَرَبِ يُعْرَفُ بِهَا اَحْوَالُ آَوَاخِرِ الْكَلِمِ إعْرَابًا وَبِنَاءٌ
Ilmu tentang pokok-pokok yang diambil dari qoidah-qoidah arab, untuk mengetahui keadaan akhirnya kalimat dari segi I’rob dan mabni. (Sukri Almarosyi, 2018)
Dari definisi di atas menjelaskan bahwa nahwu lebih menjurus keadaan akhirnya kalimah dari segi I’rob dan mabninya. Ilmu nahwu juga menjelaskan keadaan kalimat ketika tidak ditarkib, yang berupa I’lal, idghom, pembuangan dan pergantian huruf, dan lain-lain.
Nahwu merupakan salah satu dari dua belas cabang ilmu Lughot Al-arobiyyah menduduki posisi penting. Oleh karena itu, nahwu lebih layak untuk dipelajari mendahului pengkayaan kosakata dan ilmu-ilmu lughot yang lain. Sebab, nahwu merupakan instrument yang amat fital dalam memahami kalam allah, kalam rasul serta menjaga dari kesalahan terucap.
Berdasarkan hal itu cara cepat baca kitab yang diterapkan di pondok pesantren itu memiliki keunikan tersendiri seperti berikut :
Adanya pedoman kitab khusus yang bisa dijadikan rujukan dalam memahami. Seperti pondok pesantren Nurul Hidayah dan Asyaibany
Memiliki rumus sederhana sehingga santri mudah dalam mengingat tanpa harus banyak menghafal. Contohnya dalam membedakan jamak mudzakar salim dan isim tasniyah yang sama-sama beralamat i’rob menggunakan ya’ ketika tingkah nasob dan jer. Walaupun berbeda ketika rofa’ yakni jama mudzakar salim dengan wawu sedangkan isim tasniyah dengan alif. Namun dipermudah dengan rumus jika Jama mudzakar salim dengan ‘UNA’ dan ‘INA'. Una artinya menggunakan wawu sedangkan INA dengan ya’. Sedangkan dalam isim tasniyah menggunakan istilah Ani dan Aini. Ani menggunakan alif aini dengan ya’.
Menghafal sedikit tapi menyenangkan. Seperti halnya menghafal namun disini tidak menghafal keseluruhan hanya bagian penting saja seperti menghafal huruf jer dengan metode bernyanyi.
Penerapan langsung dalam kitab kuning. Hal ini dilakukan agar santri bisa dengan cepat memahami nahwu dan praktiknya agar mudah diingat. Contohnya seperti mubtada khobar dicontohkan dengan judul yang ada di kitab fiqih.
Santri tersebut juga di berikan evaluasi dan tes ketika sudah selesai mempelajari ilmu nahwu dengan diadakannya kegiatan Qiroatul Kutub. Kegiatan ini adalah santri membaca kitab kuning gundul yang kemudian ditanyai Kedudukan kalimatnya. Dalam hal ini santri bisa membaca kitab dan memahami qoidah nahwunya.
Demikianlah uraian cara cepat baca kitab kuning tanpa harus menghafal nadhom namun tetap bisa dipahami santri. Walaupun pengaturan pesantren yang berbeda namun pada intinya dapat membantu santri bisa dengan cepat memahami nahwu dan membaca kitab kuning dalam waktu dekat.
