Konten dari Pengguna

“Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi”: Engkong Salim Ikon Betawi dari Jagakarsa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Salma Triana Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Jangan ngaku orang betawi Jagakarsa kalo gak kenal Engkong Salim,” begitu kata orang-orang. Engkong Salim yang kerap dipanggil “Kong Salim” adalah seorang tokoh budaya sekaligus kolektor kawakan asal Jagakarsa yang kini berusia 70 tahun. Ia merupakan keturunan asli Betawi yang berdedikasi dalam melestarikan kebudayaan Betawi melalui penampilan eksentriknya.

Beberapa waktu lalu saya dan beberapa rekan saya berkunjung ke kediaman Engkong Salim di wilayah Kampung Kandang, Jagakarsa, tepatnya pada 7 Mei. Lokasinya tidak begitu jauh dari kawasan Setu Babakan. Begitu pertama kali Engkong Salim menyambut kedatangan kami, saya langsung mengenalinya.

Engkong Salim yang berpakaian sederhana, dengan kopiah merah marun, kaos oblong bermotif macan, dan celana pangsi bermotif serupa. Tetapi ada belasan aksesorinya yang berusaha mencuri perhatian saya, sebelum kami sempat berjabat tangan mengenalkan diri. Terdapat beberapa pin kecil berbentuk golok menempel berbaris di kopiah dan belasan aksesori lainnya yang menggantung di leher dan tangan Engkong Salim.

Pin-pin yang saya kira hanya pemanis, ternyata bukan sekadar hiasan yang asal tempel. “Ini asli, ibarat kalo butuh piso buat ngerujak, gampang lah ngupasnya,” begitu ujar Engkong sambil terkekeh, seolah berhasil menebak isi pikiran saya.

Engkong Salim memang begitu orangnya. Semua yang bisa ditempel, ditempel. Semua yang bisa dikustom, dikustom. Pin-pin di kopiahnya itu ia pesan khusus ke teman --berbeda dengan yang dijual di pasaran yang sekadar hiasan dan tidak tajam. Selain kopiah goloknya, hampir seluruh jari Engkong Salim tertutup batu akik.

Berbagai jenis batu bertengger manis hampir di semua jari, kalung, gelang akar bahar di kedua pergelangan tangan, dan bahkan goloknya pun tidak luput dari tempelan batu akik. Entah berapa harga semua koleksi itu. Ada Pancawarna, Kelor, Klawing, Blue Oval, ia hafal semua nama batu di luar kepala. Sudah lebih dari dua puluh tahun ia menggeluti hobi itu.

Gambar 1. Koleksi Engkong Salim (Dokumentasi penulis)

Penampilan Engkong yang khas itu tidak luput dari perhatian orang. Ke mana pun ia pergi, tidak jarang orang mendekat. Menyapa, bertanya, berswafoto. Engkong sama sekali tidak keberatan, Engkong menikmatinya. Ia sudah terbiasa dan sepertinya memang itu tujuannya. Mengenalkan koleksinya ke khalayak. Saya lah salah satu orangnya.

Kalau saya tidak bertemu dengan Engkong, mungkin sampai sekarang saya belum tahu eksistensi gelang akar bahar yang katanya khas betawi itu. Hitam, keras, dan ternyata asalnya dari laut. Akar bahar adalah sejenis tanaman laut yang aslinya lentur, melambai-lambai di dalam air. Begitu diangkat dan mengering, ia mengeras, dan jadilah gelang.

Akan tetapi, di balik penampilannya yang mencolok itu, ada seseorang yang sudah tinggal di Jagakarsa sejak tahun 1970-an. Seseorang yang melihat sendiri bagaimana “rumah” masa kecilnya yang kini berubah dengan sangat perlahan-lahan, menjadi sesuatu yang terasa asing dan sangat berbeda.

Sesekali Engkong bernostalgia menceritakan kenangan masa kecilnya. Engkong Salim masih mengingatnya dengan jelas, "Dulu sini kebun semua," katanya. "Luas banget, kosong, sepi. Ibarat mah Engkong udah akrab sama semua demit sini, kuntilanak, pocong, semua dah kenal” lanjut Engkong sambil terkekeh.

Jagakarsa yang Engkong kenal di masa mudanya bisa dikatakan berbeda dengan Jagakarsa yang sekarang, sekarang telah berubah menjadi kawasan padat dengan gang-gang sempit, dan suara kendaraan berlalu lalang. Dulu yang ada hanyalah hamparan kebun yang luas, tanah lapang, dan keheningan yang berbeda jauh dibandingkan sekarang.

Apalagi kawasan ini dekat kuburan. Dan karena itu pula, cerita soal "penghuni" kawasan itu bukan sekadar cerita seram yang dilebih-lebihkan. Engkong bercerita dengan santai sambil tertawa, nyaris terlalu santai ini mah. Dedemit bukan hal yang asing di telinga orang yang tumbuh besar di Jagakarsa tempo dulu. Sesuatu yang orang-orang tua ceritakan, yang anak-anak dengarkan, dan yang perlahan membentuk cara pandang mereka terhadap lingkungan sekitarnya.

Sekarang? Kebun-kebun itu sudah lama berganti menjadi rumah dan jalan. Suasananya sudah berbeda. Dulu, katanya, anak-anak Jagakarsa main di luar. Main congklak, yoyo, bekel. Engkong bilang ia senang sekali melihat pemandangan seperti itu.

Ada sesuatu yang hidup di sana, karena sekarang itu sudah sangat jarang terlihat. Anak-anak lebih banyak di dalam rumah, mata menunduk ke layar. Engkong pun tidak menyalahkan perkembangan zaman. Tapi ia tahu ada yang hilang, sesuatu yang tidak mudah dijelaskan tapi langsung terasa kalau kamu pernah ada di kedua zaman itu. Saya sendiri yang masih sempat merasakan main congklak dan bete di jalanan, tahu persis yang ia maksud.

Gambar 2. Wawancara Penulis dengan Engkong Salim

Di tengah semua perubahan itu, Engkong punya caranya sendiri untuk tetap terhubung dengan apa yang dulu ia kenal. Salah satunya lewat Sanggar Pahaman, sanggar silat yang pernah ia dirikan dan pimpin sendiri.

Di sana ia mengajar jurus-jurus yang bukan untuk dipertunjukkan, bukan untuk atraksi, tapi untuk keperluan pribadi. Ilmu yang ia jaga dengan serius. Sanggarnya kini sudah tidak aktif karena murid-muridnya sudah dewasa, sudah punya kehidupan masing-masing.

Hari itu obrolan kami memang cukup banyak. Saya datang pun dengan banyak pertanyaan lain. Penasaran soal golok, lebih tepatnya soal Lebaran Golok yang baru digelar di Setu Babakan beberapa minggu sebelumnya. Pada Minggu, 12 April 2026, Setu Babakan tampak berbeda dari biasanya.

Kawasan yang sehari-harinya tidak begitu ramai pengunjung itu tiba-tiba dipadati ratusan orang berbadan tegap, berbaju pangsi hitam khas jawara Betawi, golok terselip di pinggang masing-masing. Komunitas Golok Pedang Sepuh Nusantara (GPSN) menggelar Lebaran Golok, yaitu sebuah ajang silaturahmi dan halal bihalal para pelestari golok Nusantara, dan untuk pertama kalinya diadakan di Setu Babakan.

Acaranya berlangsung dari pagi hingga sore. Dibuka dengan sambutan panitia; lalu ada sarasehan yang membahas sejarah dan filosofi golok Betawi; pameran golok dan senjata tradisional pusaka Nusantara; pertunjukan silat dari berbagai perguruan; dan penampilan tarian betawi.

Puluhan jawara dari berbagai perguruan silat bergantian unjuk jurus, bukan sekadar atraksi, tetapi juga demonstrasi bahwa ilmu ini masih hidup dan masih ada yang meneruskan.

Gatut Susanta, penggagas Lebaran Golok hari itu, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program yang dinamai “Golok Road to UNESCO”.

Sebuah upaya untuk mendorong golok diakui sebagai warisan budaya dunia. Bukan impian kecil. Dan kehadiran Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim yang menyampaikan apresiasinya langsung di acara itu menunjukkan bahwa gerakan ini sudah mulai mendapat banyak perhatian.

Meski begitu, Engkong mengingatkan saya bahwa acara tersebut bukanlah Lebaran Golok Nusantara yang skalanya nasional. Untuk skala nasional biasanya lebih besar dan lebih meriah lagi yang biasa digelar di berbagai daerah--tergantung penggelar acaranya. Acara yang diselenggarakan di Setu Babakan kemarin penyelenggaranya berasal dari komunitas di Banten. Golok tua dan golok baru bercampur di pameran tersebut. Ada yang datang untuk menyumbangkan atraksi, berjualan, atau sekadar menonton acara.

"Yang paling menarik itu pas atraksi, kayak debus gitu" kata Engkong. Orang-orang dari Banten unjuk ilmu kekebalan, golok besar diacungkan ke tubuh, tapi tidak ada yang terluka. Ilmu kanuragan namanya. Ada yang belajar ilmu pancasona, konon ilmu ini yang membuat seseorang tidak bisa mati kecuali digantung di pohon.

Engkong bercerita soal ini bukan dengan nada takjub berlebihan, tapi seperti orang yang memang sudah lama akrab dengan dunia semacam itu. Bukan hal aneh baginya. Sedangkan saya dan rekan-rekan saya? Ya, melongo. Masih banyak yang mempelajari dan meyakininya, katanya bukan hanya dari Banten, dari daerah Jawa juga ada.

Dan di tengah puluham pendekar berbaju pangsi itu, tentu saja Engkong Salim tetap jadi orang yang paling mudah dikenali. Kopiah goloknya, batu akik di sekujur tubuhnya, penampilannya yang all out--semua itu membuat ia menonjol bahkan di kerumunan para jawara sekalipun. Tidak perlu kenalan dulu, tidak perlu tanya nama. Orang juga sudah tahu itu Engkong Salim.

Soal golok itu sendiri, Engkong punya banyak cerita. Golok bagi masyarakat Betawi bukan hanya sekadar alat. Ia adalah senjata daerah, identitas, pusaka. Setiap daerah juga pasti memiliki senjata tradisional masing-masing.

Madura punya celurit, Jawa Barat punya kujang, Aceh punya rencong, Kalimantan punya mandau. Dan tentunya Betawi punya golok. Sudah dari dulu, sejak golok masih menjadi senjata perang sebelum ada yang lebih canggih.

Zaman dulu golok tidak bisa dibuat sembarangan. Harus ada ritualnya, terutama golok-golok yang dianggap bertuah. Golok Ciomas dari Banten adalah salah satu yang paling terkenal, proses pembuatannya melibatkan ritual khusus, dimandikan, dijaga dengan tatacara tertentu. Sampai sekarang pun masih ada orang yang memiliki golok pusaka turun-temurun dan merawatnya dengan serius--dicuci, diminyaki, diperlakukan dengan hormat. Kalau kata Engkong “ada isinya”.

Engkong sendiri tidak punya golok pusaka semacam itu. Ia lebih suka golok-golok baru yang mudah didapat. "Temen engkong banyak yang punya golok pusaka dari kakek atau bapaknya. Terlalu susah ngerawatnya, yang biasa-biasa aja lah," ujarnya.

Meski begitu, bukan Engkong namanya kalau benar-benar biasa saja. Engkong punya karakternya sendiri. Ia suka yang unik, suka yang berbeda, suka yang ada ceritanya. Sarung golok miliknya dihias sedemikian rupa, seperti dengan menempelkan berbagai jenis batu akik tentunya.

Koleksi kustom lainnya antara lain golok berkepala macan yang berasal dari Jawa Barat, ukiran kepala macan di bagian pangkal pegangan golok yang menjadi ciri khas daerah itu. Dan yang paling ia banggakan adalah golok full tanduk. Dari kepala golok sampai sarungnya, semuanya dari tanduk kerbau. Harganya tentu saja jauh di atas golok kayu biasa yang hanya ratusan ribu rupiah.

Gambar 3. Golok Full Tanduk Kepala Macan

Ada juga yang namanya Golok Kembar. Jadi terdapat dua bilah dalam satu sarung, dilengkapi dengan "raja"-nya kata Engkong. Raja di sini bukan orang, melainkan tulisan Arab yang tertera di bilah golok. Khas Betawi biasanya bertuliskan bismillahirrahmanirrahim.

Namun di zaman sekarang, detail semacam ini makin jarang ditemukan di golok-golok baru. Kebanyakan hanya polosan saja, tanpa tulisan, tanpa pamor. Untuk merawat koleksinya, Engkong bilang caranya sederhana saja, cukup diminyaki secara rutin.

Gambar 4. Pin Golok Kembar dan Golok Kepala Macan

Soal generasi muda dan budaya Betawi, Engkong justru tidak khawatir maupun pesimis. Katanya, sejak sekitar 2023, ia melihat banyak perubahan. Banyak anak muda yang mulai melirik budaya Betawi lagi, dari pencak silat yang diminati anak usia 6 tahun, tari-tarian kembali dipelajari, minat pada golok pun ikut tumbuh bersama. Saat berlangsungnya perayaan Hari Tari Sedunia di Setu Babakan, yang tampil bukan hanya generasi tua.

Anak-anak usia enam atau tujuh tahun pun sudah mulai belajar gerak dan jurus. Dengan bangga Engkong berkata ke saya, "Dulu mah dianggap sebelah mata. Justru sekarang udah makin banyak yang mau belajar," katanya.

Ada satu pesan yang kembali Engkong sampaikan ke saya, dengan harapan generasi muda lainnya juga dapat membaca dan/atau mendengarnya. Pesannya dibalut dengan pantun, begini kata Engkong,

“Anak buaya mencari makan

Melata di waktu pagi

Budaya harus kita lestarikan

Kalau bukan kita, siapa lagi”

Itu adalah pesan dari Engkong Salim sebagai penutup dari obrolan kami. Sebuah pengingat sederhana yang penting sekali untuk disampaikan kepada siapa saja.

Pengingat dari seorang anak betawi yang telah melihat kampungnya berubah sedikit demi sedikit. Di usianya yang kini menginjak 70 tahun, Engkong Salim masih menyimpan rapi semua cerita dan kebiasaan tentang Betawi.