Konten dari Pengguna

Bukti Audit: Mengapa Angka yang Terlihat Benar Belum Tentu Bisa Dipercaya?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Asrorotul Ikah Hiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

AI Editing
zoom-in-whitePerbesar
AI Editing

Dalam dunia bisnis, angka sering kali menjadi dasar untuk mengambil keputusan. Perusahaan melihat laporan keuangan untuk menilai keuntungan, investor menggunakannya untuk mempertimbangkan investasi, dan pihak lain menjadikannya sebagai bahan untuk menilai kondisi perusahaan. Namun, pernahkah kita berpikir, dari mana angka-angka tersebut berasal dan bagaimana kita mengetahui bahwa informasi itu benar?

Laporan keuangan yang tersusun rapi belum tentu cukup untuk membuktikan bahwa seluruh informasi di dalamnya telah disajikan secara wajar. Di balik setiap angka, seharusnya terdapat transaksi, dokumen, atau informasi lain yang dapat mendukung pencatatannya. Di sinilah bukti audit memiliki peran penting.

Menurut saya, bukti audit merupakan salah satu bagian paling penting dalam proses pemeriksaan karena kesimpulan auditor tidak seharusnya hanya didasarkan pada penjelasan pihak perusahaan atau penampilan laporan yang terlihat meyakinkan.

Tidak Cukup Hanya Mengandalkan Penjelasan

Bayangkan sebuah perusahaan mencatat penjualan dalam jumlah besar pada akhir tahun. Jika hanya melihat laporan keuangan, angka tersebut mungkin terlihat wajar. Namun, auditor perlu menilai apakah transaksi itu benar-benar terjadi, dicatat pada periode yang tepat, dan didukung oleh informasi yang memadai.

Auditor dapat memeriksa faktur penjualan, dokumen pengiriman barang, bukti penerimaan pembayaran, serta informasi lain yang relevan. Dalam kondisi tertentu, auditor juga dapat meminta konfirmasi kepada pihak ketiga untuk memperoleh bukti secara langsung.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa pemeriksaan tidak cukup dilakukan dengan menerima penjelasan dari pihak yang diperiksa. Informasi perlu dievaluasi dan dibandingkan dengan bukti yang mendukungnya.

Bukan berarti penjelasan manajemen selalu salah atau tidak dapat dipercaya. Namun, penjelasan tersebut perlu dinilai bersama bukti lain yang relevan sebelum auditor menarik kesimpulan.

Banyak Bukti Belum Tentu Berarti Bukti yang Kuat

Ada hal menarik yang sering terlupakan ketika membahas bukti audit: jumlah bukti tidak selalu menentukan kualitasnya.

Dalam standar audit, bukti audit harus dinilai berdasarkan kecukupan dan ketepatannya. Kecukupan berkaitan dengan kuantitas bukti, sedangkan ketepatan berkaitan dengan relevansi dan keandalan bukti tersebut.

Misalnya, perusahaan memiliki banyak dokumen internal yang menunjukkan bahwa suatu transaksi telah dicatat. Namun, jika dokumen tersebut tidak cukup mendukung bahwa transaksi benar-benar terjadi, auditor masih perlu mempertimbangkan bukti tambahan.

Sebaliknya, konfirmasi langsung dari pihak independen dapat memberikan informasi yang lebih relevan untuk menguji suatu saldo atau transaksi, meskipun auditor tetap perlu menilai keandalan dan kesesuaiannya dengan tujuan pemeriksaan.

Artinya, auditor tidak sekadar mengumpulkan dokumen sebanyak-banyaknya. Auditor harus mempertimbangkan apakah bukti yang diperoleh benar-benar membantu menjawab pertanyaan dalam pemeriksaan.

Bukti Audit Bukan Hanya Berupa Kertas

Ketika mendengar istilah bukti audit, sebagian orang mungkin langsung membayangkan faktur, kuitansi, dan tumpukan dokumen. Padahal, bukti audit dapat diperoleh melalui berbagai prosedur.

Auditor dapat melakukan inspeksi dokumen atau aset, mengamati proses tertentu, meminta konfirmasi kepada pihak ketiga, melakukan perhitungan ulang, melaksanakan prosedur analitis, maupun meminta keterangan yang kemudian dievaluasi bersama bukti lainnya.

Dalam lingkungan bisnis yang semakin digital, informasi elektronik juga dapat menjadi bagian dari bukti audit. Data transaksi, catatan sistem, dan dokumen digital dapat membantu auditor memahami serta menguji informasi keuangan.

Namun, bukti digital juga perlu dinilai keandalannya. Auditor perlu mempertimbangkan sumber data, kelengkapan informasi, serta pengendalian yang berkaitan dengan sistem tempat data tersebut dihasilkan.

Dengan demikian, perkembangan teknologi bukan berarti auditor dapat menerima seluruh data digital begitu saja. Justru, kemampuan menilai kualitas informasi menjadi semakin penting.

Apa yang Terjadi Jika Bukti Tidak Memadai?

Bukti audit yang tidak memadai dapat membuat auditor kesulitan memperoleh dasar yang cukup untuk menyimpulkan apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar.

Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan proses pemeriksaan. Pengguna laporan keuangan juga dapat menghadapi risiko ketika mengambil keputusan berdasarkan informasi yang belum didukung secara memadai.

Karena itu, perusahaan perlu membangun sistem pencatatan yang tertib, menyimpan dokumen pendukung, dan memastikan transaksi dapat ditelusuri. Sementara itu, auditor harus tetap menjaga sikap kritis serta tidak menarik kesimpulan melampaui bukti yang diperoleh.

Perlu dipahami pula bahwa audit tidak menjamin seluruh kesalahan atau kecurangan pasti ditemukan. Pemeriksaan dilakukan berdasarkan prosedur dan pertimbangan profesional untuk memperoleh keyakinan memadai, bukan kepastian mutlak.

Jika bukti yang diperlukan tidak dapat diperoleh, auditor harus mempertimbangkan dampaknya terhadap laporan audit sesuai dengan standar yang berlaku.

Kepercayaan Harus Memiliki Dasar

Menurut saya, pelajaran terpenting dari bukti audit adalah bahwa kepercayaan perlu disertai dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam bisnis, sebuah pernyataan bahwa perusahaan memperoleh keuntungan tentu lebih meyakinkan apabila didukung oleh pencatatan transaksi yang jelas. Begitu pula dengan informasi mengenai aset, kewajiban, dan kondisi keuangan lainnya.

Bukti audit membantu auditor menilai apakah informasi tersebut memiliki dukungan yang memadai. Proses ini menjadi bagian penting untuk meningkatkan keandalan laporan keuangan bagi para penggunanya.

Pada akhirnya, audit bukan hanya tentang menemukan kesalahan dalam angka, melainkan juga tentang memahami alasan di balik angka tersebut dan menilai apakah informasi yang disajikan memiliki dasar yang kuat.

Sebab, laporan keuangan yang baik bukan sekadar laporan yang terlihat rapi. Laporan tersebut juga perlu didukung oleh informasi yang relevan, andal, dan dapat dipertanggungjawabkan.