Dampak Kenaikan Harga Minyak Global Terhadap Rupiah dan Ekonomi Indonesia

mahasiswa universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Siti Nur Hikmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kenaikan harga minyak dunia kembali menjadi perhatian bagi perekonomian Indonesia. Pergerakan harga minyak tidak hanya berdampak pada harga bahan bakar minyak (BBM), tetapi juga dapat memengaruhi nilai tukar rupiah, inflasi, biaya transportasi, hingga kondisi anggaran negara.
Pada Agustus 2026, pemerintah mencatat harga rata-rata Indonesian Crude Price (ICP) mencapai US$89,43 per barel, naik dari US$81,68 per barel pada Juli. Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya risiko geopolitik dan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global.
Mengapa Harga Minyak Dunia Naik?
Kenaikan harga minyak global saat ini berkaitan erat dengan kondisi geopolitik dan terganggunya jalur distribusi minyak. Ketegangan di kawasan Timur Tengah, termasuk gangguan terhadap jalur perdagangan melalui Selat Hormuz, meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap ketersediaan pasokan minyak.
International Energy Agency (IEA) pada September 2026 memperkirakan pasokan minyak global tahun ini dapat turun sekitar 5,7 juta barel per hari atau sekitar 6 persen akibat konflik dan gangguan di kawasan Teluk. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dan produk olahan seperti bahan bakar.
Pengaruh terhadap Nilai Tukar Rupiah
Harga minyak global dan nilai tukar rupiah memiliki hubungan yang cukup kompleks. Indonesia masih membutuhkan impor minyak dan produk BBM untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Ketika harga minyak naik, kebutuhan pembayaran dalam dolar AS juga meningkat.
Jika permintaan dolar meningkat sementara kondisi pasar global sedang tidak stabil, tekanan terhadap rupiah dapat bertambah. Pada 14 September 2026, rupiah ditutup di sekitar Rp17.640 per dolar AS, di tengah penguatan dolar dan meningkatnya tekanan dari pasar global.
Bank Indonesia juga mencatat bahwa kenaikan harga minyak akibat ketegangan geopolitik dapat meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar dan inflasi. Karena itu, stabilitas rupiah menjadi salah satu perhatian dalam menghadapi gejolak harga komoditas global.
Dampak terhadap Harga BBM
Salah satu dampak yang paling mudah dirasakan masyarakat adalah perubahan harga BBM, khususnya BBM nonsubsidi. Ketika harga minyak mentah meningkat dan rupiah melemah, biaya pengadaan bahan bakar dapat ikut meningkat.
Pada September 2026, harga minyak Brent bahkan kembali berada di atas US$100 per barel. Kondisi tersebut membuat harga BBM nonsubsidi mendapat tekanan. Namun, harga BBM di dalam negeri tidak hanya ditentukan oleh harga minyak dunia, karena terdapat kebijakan pemerintah, nilai tukar, biaya pengolahan, distribusi, serta faktor lainnya.
Sementara itu, pemerintah menyatakan harga BBM subsidi akan dipertahankan hingga akhir 2026. Tingginya harga BBM nonsubsidi juga mendorong sebagian masyarakat beralih menggunakan BBM subsidi, sehingga di sejumlah wilayah terjadi peningkatan permintaan dan antrean di SPBU.
Risiko terhadap Inflasi
Kenaikan harga minyak juga dapat memberikan tekanan terhadap inflasi. Dampaknya tidak hanya berasal dari harga BBM, tetapi dapat merambat ke berbagai sektor.
Ketika biaya bahan bakar meningkat, biaya transportasi dan distribusi barang dapat ikut naik. Pelaku usaha kemudian menghadapi biaya produksi yang lebih tinggi, sehingga sebagian biaya tersebut berpotensi diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga barang dan jasa.
Bank Indonesia mencatat bahwa kenaikan harga energi global dapat mendorong imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor. Kenaikan harga energi yang diatur pemerintah juga dapat memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi.
Dampak terhadap Masyarakat dan Dunia Usaha
Bagi masyarakat, kenaikan harga energi dapat meningkatkan pengeluaran untuk transportasi dan kebutuhan sehari-hari. Jika kenaikan biaya tersebut berlangsung lama, daya beli masyarakat dapat ikut tertekan.
Sementara bagi dunia usaha, terutama sektor yang membutuhkan bahan bakar dalam jumlah besar, kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya operasional. Sektor transportasi, logistik, manufaktur, hingga beberapa kegiatan perdagangan dapat merasakan dampaknya.
Namun, dampaknya tidak sama bagi seluruh sektor. Indonesia juga memiliki sektor yang dapat memperoleh manfaat ketika harga komoditas energi meningkat, terutama pihak yang berkaitan dengan produksi dan ekspor komoditas energi.
Tekanan terhadap Anggaran Negara
Kenaikan harga minyak juga menjadi tantangan bagi pemerintah dalam mengelola anggaran negara. Ketika harga energi global meningkat, kebutuhan anggaran untuk menjaga stabilitas harga energi dan memberikan kompensasi atau subsidi dapat ikut meningkat, tergantung kebijakan yang diterapkan pemerintah.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak juga dapat meningkatkan penerimaan negara dari sektor migas. Artinya, dampak terhadap APBN tidak hanya berasal dari sisi pengeluaran, tetapi juga dari sisi penerimaan.
Karena itu, pengaruh kenaikan harga minyak terhadap APBN sangat bergantung pada kombinasi harga minyak, volume produksi, nilai tukar rupiah, kebijakan harga energi, serta besarnya subsidi dan kompensasi yang diberikan pemerintah.
Bagaimana Pemerintah dan Bank Indonesia Merespons?
Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah dan Bank Indonesia perlu menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan pertumbuhan. Bank Indonesia telah memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah serta melakukan koordinasi dengan pemerintah untuk menghadapi ketidakpastian global.
Bank Indonesia juga menempatkan pengendalian inflasi sebagai salah satu perhatian utama karena kenaikan harga komoditas global dapat memberikan tekanan terhadap harga domestik.
Kesimpulan
Kenaikan harga minyak global merupakan persoalan yang dampaknya dapat merambat ke berbagai bagian perekonomian Indonesia. Mulai dari nilai tukar rupiah, harga BBM, inflasi, biaya transportasi, biaya produksi, daya beli masyarakat hingga APBN.
Dalam kondisi harga minyak global yang masih tinggi, perkembangan geopolitik dan pasokan energi dunia menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Bagi Indonesia, menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan inflasi, memastikan ketersediaan energi, dan menjaga daya beli masyarakat menjadi bagian penting dalam menghadapi tekanan tersebut.
Dengan demikian, kenaikan harga minyak tidak hanya menjadi persoalan sektor energi, tetapi juga menjadi tantangan bagi stabilitas perekonomian Indonesia secara keseluruhan.
