Konten dari Pengguna

Konsumen Gen Z di Media Sosial: FOMO dan Tren Belanja Online

Sitti

Sitti

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sitti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi Pribadi penulis
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pribadi penulis

Perilaku konsumen hari ini sudah banyak berubah, terutama di kalangan Gen Z yang hidup di tengah arus media sosial yang tidak pernah berhenti.Sekarang, kita hidup di situasi yang aneh: semakin mudah membeli sesuatu, semakin sulit merasa cukup.

Kita bisa beli apa saja, kapan saja. Tinggal buka aplikasi, scroll sedikit, lalu checkout. Semuanya cepat dan terasa memuaskan setidaknya di awal.Tapi kalau jujur, banyak dari apa yang kita beli sebenarnya tidak benar-benar kita butuhkan.Kita membeli karena ingin. Dan lebih dari itu, karena ingin terlihat.

Perilaku konsumen saat ini tidak lagi berdiri di atas kebutuhan, tapi di atas keinginan yang sering kali dibentuk oleh media sosial. Kita melihat orang lain memakai sesuatu, lalu merasa harus punya juga.Di situlah keinginan semu mulai terbentuk.

Keinginan yang bukan berasal dari kebutuhan nyata, tapi dari perbandingan sosial yang terus terjadi. Tanpa sadar, kita tidak lagi membeli untuk diri sendiri, tapi untuk memenuhi standar yang bahkan tidak kita buat.Dan di balik itu semua, ada satu hal yang sering kita cari: validasi sosial.

Kita ingin diakui. Ingin dianggap cukup. Belanja akhirnya menjadi cara cepat untuk mendekati perasaan itu, meskipun hanya sementara.Fenomena ini juga tidak lepas dari FOMO, di mana kita takut tertinggal dari tren yang ada di media sosial.

Masalahnya, validasi itu tidak pernah benar-benar selesai.Setelah satu keinginan terpenuhi, akan muncul keinginan lain. Kita terus mengejar, tanpa pernah benar-benar merasa cukup.Perilaku konsumen di era digital semakin dipengaruhi oleh tren sosial dan gaya hidup yang terus berubah.

Apa yang dianggap penting hari ini, bisa jadi tidak relevan besok. Dan kita terus mengikuti arus itu tanpa banyak bertanya.Di titik ini, perilaku konsumen bukan lagi soal kebutuhan, tapi soal bagaimana kita ingin dilihat oleh orang lain.