Konten dari Pengguna

Kota Tua Reborn: Antara Estetika dan Sejarah yang Tersisih

Sitti

Sitti

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sitti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

dokumentasi pribadi penulis.
zoom-in-whitePerbesar
dokumentasi pribadi penulis.
dokumentasi pribadi penulis.
zoom-in-whitePerbesar
dokumentasi pribadi penulis.

Beberapa waktu lalu saya kembali mengunjungi Kota Tua Jakarta, tempat yang dulu dikenal dengan bangunannya yang penuh cerita, tapi juga identik dengan kesan kusam dan semrawut. Kini tampilannya berbeda. Lebih rapi, terang, dan menarik. Banyak yang menyebutnya lebih hidup, lebih Instagramable.Revitalisasi yang dilakukan memang membuat kawasan ini jadi magnet baru, terutama bagi anak muda dan wisatawan yang senang mencari spot foto estetik. Tapi di balik keramaian dan cantiknya pencahayaan malam, saya merasa ada yang pelan-pelan hilang: napas sejarahnya.

Dulu, setiap sudut Kota Tua seperti menyimpan jejak masa lalu. Gedung-gedung tua dengan cat mengelupas, jalanan berbatu yang retak, bahkan seniman jalanan dan pedagang kaki lima yang akrab di sekitar Museum Fatahillah, semuanya terasa menyatu dalam satu cerita. Sekarang, banyak dari itu yang berganti suasana. Indah? Ya. Tapi jujur saja, terasa agak asing.Bukan berarti saya anti dengan perubahan. Saya senang kawasan ini jadi lebih aman dan nyaman untuk dikunjungi. Tapi saya juga merasa penting untuk bertanya: apakah revitalisasi ini tetap menjaga ruh sejarah Kota Tua, atau justru hanya fokus pada tampilan luar?

Beberapa bangunan tampak seperti properti dalam film sejarah, rapi dan indah tapi terasa dingin. Minim informasi, minim konteks. Saya sempat berharap ada lebih banyak papan cerita atau tur sejarah interaktif yang bisa bantu pengunjung mengenal lebih dalam makna tiap tempat. Tapi sayangnya, pengalaman semacam itu masih jarang.Saya juga melihat perubahan ini berdampak ke masyarakat yang dulu hidup dari kawasan ini. Beberapa pedagang dan seniman yang dulu sering terlihat, kini tak lagi punya ruang. Kawasan yang lebih tertata ternyata juga membuat sebagian dari mereka terpinggirkan.

Revitalisasi seharusnya bukan hanya tentang membenahi fisik. Ia juga harus memberi ruang bagi warga yang sudah lebih dulu ada, dan tetap menjaga nilai sejarah sebagai inti, bukan pelengkap. Kota Tua bukan sekadar tempat foto cantik ia adalah saksi zaman.Kota Tua yang sekarang memang lebih enak dipandang, tapi jangan sampai ia kehilangan jati dirinya. Menurut saya, keindahan Kota Tua seharusnya datang dari kemampuannya bercerita. Bukan cuma jadi latar foto, tapi jadi tempat di mana kita bisa benar-benar memahami sejarah Jakarta dan Indonesia.

Modernisasi dan pelestarian sejarah seharusnya bisa berjalan beriringan. Dan untuk itu, kita butuh lebih dari sekadar cat baru dan lampu temaram. Kita butuh narasi, edukasi, dan keterlibatan masyarakat.