Upah Buruh Rendah, Hidup Layak Masih Jauh dari Nyata

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sitti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap kali buruh turun ke jalan, suara-suara sumbang langsung muncul. “Ngapain demo? Ganggu jalan aja.” Atau yang lebih halus: “Harusnya buruh tuh bersyukur masih bisa kerja.”
Tapi tunggu sebentar. Kita ini hidup di negara yang menyuruh rakyatnya bersabar tapi lupa jadi negara yang sabar sama rakyatnya. Terutama buruh. Dibilang rewel kalau menuntut. Dibilang manja kalau menolak lembur. Padahal dari pagi sampai malam, mereka yang bikin semua ini jalan. Pabrik bisa produksi, barang bisa dijual, ekonomi bisa muter, itu karena buruh.
Tapi siapa yang mikir mereka makan apa? Tidur cukup atau nggak? Bisa anter anak ke sekolah atau enggak?
Kita hidup di negeri yang terlalu santai menganggap buruh itu ya begitu aja nasibnya. “Sudah dari dulu kok begitu,” kata banyak orang. Nah, itu masalahnya. Karena sudah dari dulu, makanya harusnya kita muak. Harusnya kita marah.
Upah minimum selalu jadi perdebatan, tapi harga kebutuhan nggak pernah bisa ditawar. Buruh dikasih gaji pas-pasan, tapi dituntut kerja maksimal. Sakit? Cuti sulit. Lembur? Wajib. Nolak? Ancaman PHK.
Yang lebih bikin greget, kebijakan negara justru makin meminggirkan buruh. Dikasih dalih “demi investasi”, terus muncullah UU yang malah longgarin aturan kerja. Kontrak dipermudah, outsourcing makin bebas. Jadi buruh makin rentan, makin gampang didepak, makin tidak punya pegangan.
Pertanyaannya sekarang: siapa yang benar-benar bela buruh? Pemerintah? Jangan mimpi. Mayoritas diam. Elit sibuk mikirin pertumbuhan ekonomi, tapi lupa bahwa ekonomi itu bukan grafik itu isi dapur orang.
Kita nggak minta negara jadi malaikat. Kita cuma minta negara jangan ikut-ikutan jadi beban. Biar buruh bisa hidup, bukan cuma bertahan.
Karena kenyataannya, buruh itu bukan cuma angka statistik. Mereka bukan mesin produksi. Mereka manusia, kepala keluarga, tulang punggung, dan bagian dari hidup kita juga. Mungkin yang nganterin paketmu, yang masakin di restoran favoritmu, atau yang jahit seragam anakmu itu semua buruh.
Kita nggak bisa terus hidup nyaman di atas ketidakadilan yang dianggap biasa. Sudah cukup lama kita diam. Sekarang saatnya ngomong.
Buruh juga manusia. Mereka punya hak untuk hidup baik. Dan kita, sebagai sesama manusia, punya kewajiban untuk nggak tutup mata.
