Konten dari Pengguna

Dari Salah Jurusan ke Salah Karier: Kenapa Pemetaan Potensi Itu Sangat Penting

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siva Kandina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Universitas Pamulang Kampus 2 (UNPAM Viktor),  Foto: [Siva Kandina]
zoom-in-whitePerbesar
Universitas Pamulang Kampus 2 (UNPAM Viktor), Foto: [Siva Kandina]

Pernah nggak sih kamu lagi asyik nongkrong di coffee shop sekitar kampus, terus dengar obrolan dari meja sebelah—atau mungkin kamu sendiri yang pernah ngomong gini ke temanmu: "Sumpah ya, kayaknya aku salah jurusan, deh." Kalimat ini biasanya paling sering muncul pas kita lagi ada di fase krisis pertengahan semester. Tugas lagi numpuk-numpuknya, dosen lagi strict-strict-nya, tapi motivasi buat belajar malah mendadak hilang entah ke mana. Rasanya, setiap mau buka laptop buat ngerjain tugas, energi kita udah habis duluan.

Menariknya—dan sekaligus bikin ironis—perasaan "salah jurusan" ini sering banget baru muncul pas kita udah nemuin passion atau bidang yang sebenarnya jauh lebih kita nikmati. Misalnya nih, kamu kuliah di jurusan Teknik, tapi gara-gara iseng ikut kepanitiaan divisi media kreatif, kamu malah ngerasa lebih hidup pas lagi ngurusin design atau nulis copywriting. Sayangnya, momen realisasi ini seringnya datang terlambat. Kita ibarat udah kecemplung di kolam yang salah, tapi baru sadar pas udah berenang setengah jalan.

Dampaknya? Wah, ini nggak main-main. Mulai dari ngerasa stuck, ngalamin burnout yang parah secara mental dan fisik, sampai akhirnya menganggap rutinitas kuliah itu ya cuma sekadar formalitas. "Yang penting masuk kelas, lulus, dan dapet ijazah," gitu katanya. Bahkan, buat sebagian mahasiswa yang udah nggak kuat menahan beban mentalnya, mereka bisa memilih jalan pintas untuk drop out alias berhenti kuliah di tengah jalan. Sayang banget, kan, waktu, tenaga, dan biaya yang udah keluar?

Kalau kamu pikir ini cuma drama musiman yang wajar dialami anak kuliahan, well, siap-siap kaget karena data justru bilang sebaliknya. Berdasarkan hasil riset dari Indonesia Career Center Network (ICCN) pada tahun 2017, tercatat ada sekitar 87%—iya, hampir 9 dari 10—mahasiswa di Indonesia yang mengaku merasa salah pilih jurusan. Angka ini red flag banget! Ini bukan lagi soal mahasiswa yang gampang bosan atau kurang resilience (daya juang). Tingginya persentase ini jadi bukti kuat kalau ada sistem atau tahap pengambilan keputusan yang gagal sebelum mereka menginjakkan kaki di dunia perguruan tinggi.

Lebih jauh lagi, efek domino dari fenomena ini ternyata merembet panjang sampai ke dunia kerja. Nggak heran kalau sekarang kita sering banget lihat fenomena "banting setir". Lulusan sarjana pertanian kerja di bank, lulusan hukum jadi social media specialist, dan masih banyak lagi. Memang sih, karier yang cross-major (lintas jurusan) itu bukan sebuah dosa dan sah-sah aja. Tapi, sering kali ini terjadi sebagai bentuk pelarian karena sedari awal mereka udah belajar hal yang sama sekali nggak mereka nikmati. Akibatnya, mereka harus mulai dari nol lagi buat mengejar karier yang beneran sejalan dengan ketertarikan mereka.

Nah, supaya adik, keluarga, atau bahkan anak kita nanti nggak kena jebakan FOMO (ikut-ikutan tren) atau terlalu mementingkan gengsi jurusan semata, pemetaan potensi sejak dini itu posisinya krusial banget. Sayangnya, proses mengenali diri sendiri ini sering banget nggak dapat porsi atau support yang cukup dari lingkungan keluarga.

Kadang orang tua atau orang di sekitar kita terlalu fokus pada metrik yang kaku: nilai rapor yang harus selalu bagus, akreditasi kampus yang bergengsi, atau prospek profesi yang katanya paling "cuan" dan aman di masa depan. Faktor-faktor itu memang valid dan sangat rasional, mengingat jenjang pendidikan tinggi butuh investasi yang nggak sedikit. Tapi, hal-hal tersebut nggak seharusnya dijadikan patokan tunggal dalam mengambil keputusan.

Sebagai keluarga atau support system terdekat, kita harus ambil peran lebih besar buat bantu mereka kenal sama diri mereka sendiri. Gimana sih cara konkretnya? Nih, ada tiga langkah nyata yang bisa mulai diterapkan:

1. Bangun Dialog yang Mindful dan Dua Arah

Daripada mendikte masa depan cuma berdasarkan deretan angka di buku rapor, mending luangkan waktu buat ngobrol santai dari hati ke hati. Daripada nanya "Kamu besok kalau lulus mau jadi apa?", coba ubah pertanyaannya jadi "Kegiatan apa sih yang bikin kamu sampai lupa waktu pas ngerjainnya?". Gali terus apa yang bikin mereka excited, mata pelajaran apa yang justru bikin mereka cepat drain atau kehabisan energi, dan lingkungan kayak apa yang bikin mereka nyaman. Ingat, pemetaan bakat itu berawal dari active listening—kemampuan kita mendengarkan minat asli mereka, tanpa buru-buru nge-judge atau menghakimi duluan.

2. Cek Hobi dan Observasi "Me Time" Mereka

Bakat yang sebenarnya itu sering kali sembunyi di balik hal-hal yang mereka lakukan pas lagi punya waktu luang alias tanpa ada yang nyuruh. Coba perhatikan, apakah mereka lebih suka olahraga, merakit barang, jago banget komunikasi dan networking sama teman baru, suka nulis cerita fiksi, atau malah punya jiwa leadership yang kuat pas lagi main game online secara tim? Keterampilan-keterampilan natural (soft skills) semacam ini justru jauh lebih valid buat mengukur potensi jangka panjang, ketimbang sekadar nilai ujian sekolah yang kadang cuma hasil dari SKS (Sistem Kebut Semalam).

3. Kasih Ruang buat Trial and Error Sebelum Memilih

Ibarat masa probation (percobaan) pas baru masuk kerja di sebuah perusahaan, dorong mereka buat "cek ombak" secara langsung sebelum mengambil keputusan final. Ajak mereka ngobrol santai bareng mahasiswa di jurusan incaran, alumni, atau praktisi yang udah nyebur langsung di industri tersebut. Kalau perlu, dukung mereka buat ikut workshop singkat, bootcamp, atau minimal menonton video dokumenter tentang profesi tersebut di YouTube. Exposure kayak gini penting banget biar mereka punya gambaran real soal dunianya nanti, jadi ekspektasinya nggak cuma berdasarkan asumsi semata.

Intinya, memilih jurusan kuliah itu adalah sebuah keputusan yang cukup berat dan butuh pertimbangan matang. Ada waktu yang panjang, uang yang nggak sedikit, tenaga, dan pastinya harapan keluarga yang ikut dipertaruhkan di sana. Karena itu, keputusan ini sebaiknya nggak cuma didasari sama tren sesaat, rasa gengsi, atau anggapan klise kalau "jurusan A pasti gampang cari kerja".

Tujuan utama kita kuliah bukan cuma buat flexing berhasil masuk kampus favorit atau sekadar formalitas untuk dapat gelar sarjana. Lebih dari itu, fase ini adalah stepping stone alias batu loncatan awal untuk mengembangkan potensi terbaik, ngebangun networking, dan mempersiapkan mental buat terjun ke dunia profesional yang sesungguhnya. Untuk bisa sampai ke titik itu, mereka pastinya butuh arahan yang on point, tapi sekaligus ruang yang membebaskan mereka untuk mengenali dan menentukan jalannya sendiri.

Di sinilah letak peran penting keluarga. Yuk, kita mulai jadi support system yang asyik, biar fenomena "salah jurusan" ini nggak jadi rantai yang terus berulang!