Mengapa Kita Gemar Adu Nasib?

Mahasiswa Psikologi Universitas Airlangga
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Khansa Asiyah Aufa Hibatullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu merasa beban hidup yang sedang kamu pikul jauh lebih berat daripada orang lain?
Bagi sebagian anak tunggal, ada kalanya muncul rasa sepi saat tumpuan dan harapan keluarga dirasa bertumpu di pundak mereka sendiri. Di sisi lain, tumbuh di keluarga dengan banyak anak membawa ceritanya sendiri—bisa jadi tentang terbatasnya perhatian orang tua, rasa harus selalu mengalah, ataupun hiruk-pikuk rumah yang tak pernah benar-benar tenang.
Hal serupa juga dirasakan oleh mereka yang kini harus menopang orang tua yang menua, ibu rumah tangga yang kelelahan tanpa jam kerja pasti, maupun wanita karier yang memendam lelah di balik tuntutan profesionalitas sehari-hari.
Perasaan-perasaan itu sangat wajar dan sepenuhnya valid. Rasa lelah, tekanan, dan luka emosional yang kita alami adalah respons manusiawi terhadap realitas hidup yang memang tidak mudah.
Namun, kalau kita coba mengamati ruang diskusi publik dan lini masa media sosial belakangan ini, ada dinamika menarik yang sering terjadi. Kita kerap terjebak dalam bias perbandingan beban hidup: anak tunggal versus anak di keluarga besar, ibu rumah tangga versus wanita karier, hingga perdebatan antar-generasi tentang siapa yang paling menanggung luka.
Mengapa narasi "saya yang paling menderita" ini begitu sering muncul dan memicu perdebatan?
Strategi Koping dan Peran Algoritma
Dalam kacamata psikologi, kecenderungan untuk merasa bahwa penderitaan dialami secara sepihak bukanlah acuan bahwa seseorang itu egois, melainkan respons kognitif yang wajar dan manusiawi. Di antaranya, ada beberapa bias persepsi yang kerap bekerja tanpa kita sadari:
Heuristik Ketersediaan (Availaility Heuristic): Otak kita memiliki akses 24/7 terhadap rasa sakit, kelelahan, dan stres pribadi. Sebaliknya, penderitaan orang lain bersifat eksternal dan hanya terlihat sekilas, sehingga kurang "tersedia" dalam memori emosional kita.
Bias Egosentris (Egocentric Bias): Kebutuhan alami untuk mengandalkan perspektif pribadi membuat pengalaman emosional sendiri terasa jauh lebih nyata, intens, dan mendesak dibandingkan pengalaman orang lain.
Asimetri Informasi: Kita mengetahui setiap detail perjuangan sendiri—termasuk kecemasan yang tersembunyi—tetapi hanya melihat permukaan atau hasil akhir dari hidup orang lain. Ketimpangan ini membuat beban pribadi tampak jauh lebih menumpuk.
Tanpa disadari, menganggap beban sendiri sebagai yang paling berat sering kali menjadi strategi koping (coping mechanism)—sebuah dorongan untuk meminta pertolongan, pemakluman, atau sekadar ingin diakui bahwa perjuangan kita sungguh berarti.
Kondisi ini makin parah di era digital. Algoritma media sosial dirancang untuk mengangkat konten-konten yang memicu emosi dengan cepat.
Saat kita sedang lelah dan secara tidak sengaja menonton konten yang mewakili "rasa tersakiti" kita, algoritma akan terus menyuapkan narasi serupa ke dalam ruang gema (echo chamber) kita. Hasilnya? Terbentuk persepsi seolah-olah hanya kelompok atau posisi kitalah yang paling terintimidasi oleh keadaan.
Setiap Luka Punya Konteksnya Masing-Masing
Psikologi perkembangan menekankan bahwa tidak ada satu pun label sosial atau status yang secara otomatis menentukan kadar penderitaan seseorang. Kesehatan emosional tiap orang selalu dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sangat kompleks:
Kualitas Dukungan Emosional (Social Support): Keberadaan lingkungan pengasuhan atau komunitas yang hangat jauh lebih menentukan kesehatan mental seseorang ketimbang label atau status perannya.
Proses Edukasi dan Resiliensi: Cara seseorang merespons tekanan hidup sangat dibentuk oleh stimulasi mental, literasi emosional, serta keteladanan yang ia dapatkan sejak kecil.
Dinamika Realitas yang Berbeda: Faktor ekonomi, iklim komunikasi, hingga riwayat kesehatan keluarga memiliki dampaknya masing-masing yang tidak bisa diperbandingkan secara setara.
Membandingkan penderitaan antar-individu tidak akan pernah menemukan titik temu, sebab setiap orang tumbuh dengan latar belakang dan kapasitas bertahan yang berbeda.
Menuju Validasi Tanpa Mengisolasi
Menyadari bias ini bukan bertujuan untuk mengecilkan atau menyalahkan rasa lelah siapa pun. Validasi atas luka pribadi adalah hak setiap manusia. Namun, penting bagi kita untuk tidak berhenti pada validasi diri yang justru mengisolasi kita dari orang lain.
Sudah saatnya kita melangkah satu tahap lebih tinggi: bergerak dari sekadar mencari validasi emosional menuju pembentukan empati kolektif. Di balik perbedaan peran, posisi, atau profesi, kita semua sebenarnya sedang bertarung dengan ujian hidup masing-masing. Rasa sakitmu nyata, perjuanganmu berharga, dan kamu tidak pernah sendirian memikulnya di dunia ini.
