Perempuan, Trauma, dan Kebebasan

Khoir, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Jakarta yang juga aktif sebagai Jurnalis Magang di PIH UIN Jakarta. Fokus membagikan tulisan seputar dunia pendidikan, analisis sastra, dan dinamika opini publik. LinkedIn: Khoirillah
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari khoirillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hampir seabad lalu, Hamidah menulis novel Kehilangan Mestika, sebuah kisah yang merekam pergulatan batin perempuan di tengah kuatnya tekanan adat dan norma sosial. Menariknya, jika hari ini kita menutup novel tersebut lalu membuka media sosial, kita masih menemukan kegelisahan yang serupa. Banyak perempuan modern hidup di antara tuntutan untuk menjadi anak yang berbakti, pasangan yang ideal, atau pekerja yang sukses, sekaligus keinginan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.
Tokoh Hamidah dalam Kehilangan Mestika bukan sekadar karakter fiksi. Ia merepresentasikan keinginan seorang perempuan untuk memperoleh kebebasan atas hidupnya sendiri. Jika dibaca melalui teori psikoanalisis Sigmund Freud, dalam diri Hamidah bergejolak apa yang disebut sebagai Id, yakni dorongan naluriah yang menginginkan pemenuhan hasrat secara langsung. Bagi Hamidah, hasrat tersebut bukanlah sesuatu yang melanggar norma, melainkan hak paling dasar sebagai manusia yaitu memperoleh pendidikan, menentukan pilihan hidup, dan mencintai tanpa paksaan.
Namun, keinginan tersebut segera berhadapan dengan kekuatan lain yang dalam teori Freud disebut Superego. Dalam kehidupan Hamidah, Superego hadir dalam bentuk adat, norma sosial, serta harapan keluarga yang mengatur bagaimana seorang perempuan seharusnya bersikap. Perempuan yang baik dianggap patuh, menjaga nama keluarga, dan menerima keputusan yang telah ditentukan oleh lingkungan sekitar. Akibatnya, ruang untuk menentukan nasib sendiri menjadi semakin sempit.
Di tengah tarik-menarik dua kekuatan itu, Ego berperan sebagai penengah. Ego berusaha mencari jalan agar Hamidah tetap dapat hidup dalam masyarakat tanpa sepenuhnya mengubur keinginan pribadinya. Akan tetapi, negosiasi tersebut bukanlah proses yang mudah. Setiap keputusan yang diambil menuntut pengorbanan, baik terhadap mimpi yang ingin diraih maupun terhadap tuntutan sosial yang harus dipenuhi.
Ketika Ego tidak lagi mampu menyeimbangkan benturan antara Id dan Superego, muncul kecemasan. Dalam kasus Hamidah, kecemasan itu tidak berhenti sebagai beban psikologis semata, tetapi juga memengaruhi kondisi fisik dan kesejahteraan hidupnya. Ia mengalami tekanan batin yang berkepanjangan karena harus terus-menerus menekan keinginan yang sebenarnya ingin diwujudkan.
Dampak tekanan psikologis tersebut tergambar dalam kondisi Hamidah yang semakin menarik diri dari lingkungan sekitarnya, sebagaimana tampak dalam kutipan berikut:
“Hai Dah, mengapa engkau mengurung dirimu di dalam bilikmu? Keluarlah! Cahaya di luar amat terang, udaranya menyegarkan. Tak sukakah engkau kepada sinar bulan? Tak inginkah engkau akan hawa yang menyehatkan,?” (Hamidah, hlm. 79).
Melalui kutipan tersebut, pembaca dapat melihat bagaimana penderitaan batin Hamidah perlahan memengaruhi kehidupannya sehari-hari. Ia tidak hanya kehilangan kebebasan, tetapi juga kehilangan semangat untuk berinteraksi dengan dunia di sekelilingnya.
Untuk mempertahankan kesehatan jiwanya, Hamidah secara tidak sadar melakukan apa yang dalam psikoanalisis Freud disebut sebagai mekanisme pertahanan diri. Salah satunya adalah represi, yaitu menekan rasa kecewa, marah, dan frustrasi ke alam bawah sadar. Akan tetapi, emosi yang ditekan tidak benar-benar hilang. Emosi itu tetap hadir dan membentuk penderitaan yang terus membayangi kehidupannya.
Meski demikian, Hamidah tidak sepenuhnya menyerah pada keadaan. Dalam istilah Freud, ia melakukan sublimasi, yakni mengubah penderitaan pribadi menjadi aktivitas yang bernilai sosial. Energi negatif yang berasal dari kegagalan dan keterbatasan hidup tidak dilampiaskan dalam bentuk destruktif, melainkan dialihkan menjadi kegiatan mengajar dan menulis.
Melalui pendidikan dan tulisan, Hamidah berusaha merebut kembali ruang kebebasan yang tidak ia peroleh dalam kehidupan pribadinya. Ia mengubah pengalaman pahit menjadi sarana refleksi dan perlawanan. Dengan kata lain, luka yang dialaminya tidak berhenti sebagai penderitaan individual, tetapi berkembang menjadi kritik terhadap struktur sosial yang membatasi perempuan.
Di sinilah letak kekuatan Kehilangan Mestika. Novel ini bukan sekadar kisah cinta yang berakhir tragis atau roman yang mengandalkan kesedihan sebagai daya tarik utama. Lebih dari itu, karya Hamidah merupakan gugatan terhadap sistem sosial yang membatasi pilihan hidup perempuan. Melalui cerita yang tampak sederhana, Hamidah memperlihatkan bagaimana adat dan norma dapat menjadi sumber tekanan psikologis ketika digunakan untuk mengendalikan kehidupan seseorang.
Sadar atau tidak, membaca Kehilangan Mestika hari ini membawa kita pada kenyataan bahwa sebagian persoalan yang dihadapi Hamidah belum sepenuhnya hilang. Bentuknya mungkin berubah, tetapi tekanannya tetap ada. Jika dahulu perempuan berhadapan dengan adat pingitan dan perjodohan, kini banyak perempuan menghadapi tuntutan untuk berhasil dalam pendidikan, karier, keluarga, dan kehidupan sosial secara bersamaan. Dalam banyak kasus, tuntutan tersebut melahirkan kelelahan emosional, kecemasan, bahkan krisis identitas.
Melalui kacamata Freud, novel ini menunjukkan bahwa penderitaan perempuan sering kali bukan lahir dari kelemahan pribadi, melainkan dari tekanan sosial yang membatasi ruang mereka untuk menentukan pilihan hidup sendiri. Karena itu, Kehilangan Mestika tetap relevan untuk dibaca hingga hari ini. Novel tersebut mengingatkan bahwa selama kebebasan perempuan masih harus dibayar dengan kecemasan dan tekanan batin, maka perjuangan yang disuarakan Hamidah hampir satu abad lalu belum benar-benar selesai.
