Konten dari Pengguna

Review Asus Zenfone Max M2 ZB633KL – Android ‘Poni’ di Bawah 2 Juta Paling Kenceng!

Skyegrid Media

Skyegrid Mediaverified-green

Gamer's Daily.

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Skyegrid Media tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dengan budget mulai dari 1,9 juta-an, smartphone Android Asus Zenfone Max M2 ZB633KL terbaru dari Asus ini punya config spesifikasi yang unik. Selain spesifikasi yang lebih kekinian dibanding beberapa kompetitor di level harga sejenis, smartphone ini juga cocok buat kalian yang mempertimbangkan sisi after sales.

 

  • Spesifikasi Asus Zenfone Max M2 ZB633KL

 

 

Nampaknya Asus sudah mempersiapkan smartphone ini, untuk bertarung langsung dengan beberapa kompetitor di range harga 1,8 hingga 2 juta pas. Seperti RealMe 2, Honor 9 Lite, Redmi 6 dan Infinix HOT S3X.

 

Dan jelas sekali, Asus Zenfone Max M2 ini unggul di sisi spesifikasi SoC (System-on-Chip). Dengan Snapdragon 632 Octa Core yang merupakan versi hemat dari SD636. Saya berani ramalkan, Asus akan memukul mundur para pesaing di mata calon pengguna, yang memprioritaskan performa di rentang harga 1,8 juta hingga 2 juta pas.

 

— Qualcomm Snapdragon 632 – Octa Core moderen yang lebih ‘ringan’

 

Mari telisik dahulu sales poin Snapdragon 632 yang tergolong SoC baru di kelas mid-to-low. Konfigurasi Big-Little untuk keseimbangan performa dan efisiensi daya, juga fabrikasi 14nm-nya, membuat Snapdragon 632 alternatif yang paling menggiurkan dibanding SoC sekelasnya saat ini.

 

Selain SD632, kapasitas baterai Max M2 sebesar 4000 mAH hanya bisa dijajagi oleh RealMe 2 (4250 mAH) dan Infinix S3X (4000 mAH). Tapi kamera dengan kemampuan f 1.8 – nya, cukup superior dibanding pesaing lain. Walau sensor yang digunakan bukan dari kasta profesional, tapi cukup membuat smartphone ini punya daya tarik bagi mereka yang juga memprioritaskan kemampuan kamera pada smartphone Android.

 

Unit review Asus Zenfone Max M2 yang Skyegrid review kali ini adalah SKU dengan RAM 3 GB dan ROM 32 GB. Di atasnya, ada SKU dengan RAM 4 GB dan ROM 64 GB yang dibanderol di harga 2,350 ribu. Untuk pilihan warna, nampaknya yang tersedia di Indonesia hanya Midnight Black saja. Sedangakan Space Blue dan Meteor Silver, belum ada tanda-tanda kehadirannya, baik di pasar offline maupun online.

 

Untuk konektifitas, saya cukup maklum jikalau beberapa jenis koneksi kelas atas seperti WiFi a/c dan NFC, tidak dihadirkan pada seri ini. Untuk bluetooth, Asus Zenfone Max M2 ini juga belum menggunakan versi 5 seperti versi Pro M2. Melainkan masih versi 4.2.

 

  • Handling

 

— Design & Dimensi

 

Berbeda dengan Max Pro M2, Asus Zenfone Max M2 ini masih menggunakan garis desain serupa kakaknya, Max Pro M1. Unit review Asus Zenfone Max M2 yang Skyegrid dapat adalah Midnight Black. Warna yang juga sama dengan seri Max M1 sebelumnya. Overall nyaris mirip di sisi belakang, namun berbeda signifikan di bagian muka. Yap, Max M2 sudah ikut Max Pro M2 mengaplikasikan layar notch.

 

 

Hal ini berefek pada sisi dimensi keseluruhan yang terasa sekali melebar dibanding versi Max M1. Dengan panjang 158 mm dan lebar 76 mm, terasa sekali smartphone ini sangat tidak user friendly di operasikan dengan satu tangan. Tapi sisi baiknya, ketebalan dipangkas sekitar 1mm, dari 8,7 mm kini hanya tinggal 7,7 mm.

 

 

Yang saya agak heran, dengan baterai 4000 mAH, Smartphone ini punya berat mencapai 160 gram dimana Max Pro M1 dengan baterai 5000 mAH, beratnya hanya 150 gram. Sebagai informasi, Real Me 2 dengan baterai 4250 mAH punya berat 168 gram.

 

 

Sebab menawarkan layar poni, mau tidak mau area yang tersedia di sisi atas hanya tersisa 30%. Asus cukup baik mengatur tata letak komponen, dengan menyatukan lubang earpiece dan led notifikasi. Sedangkan kamera depan dan sensor cahaya, diposisikan mendekap lubang earpiece.

 

 

Saya tak melihat improvisasi mayor yang dilakukan Asus untuk Max M2 ini dibanding pendahulunya. Ini membuat saya berasumsi, Asus menginvestasikan hal lain untuk menjadi nilai jual Max M2 ini. Overall, untuk sisi desain. Max M2 ini kurang ‘mengkilat’ dibanding beberapa kompetitornya.

 

— Material

 

 

Begitupun dengan material yang digunakan, 75% logam dan sisanya plastik di back-case atas dan bawah, sebagai akses masuk frekuensi nirkabel, baik sinyal GSM maupun WiFi. Tak seperti Max Pro M2, seri ini tak dibekali pelindung layar khusus untuk permukaan LCD nya. Saya merekomendasikan untuk sesegera mungkin memasang anti gores, atau tempered glass sebagai tambahan pelindung.

 

— Tombol dan Port I/O

 

 

Penempatan tombol menurut saya kurang strategis, terutama tombol volume yang agak sulit terjangkau ibu jari saat smartphone ini digenggam. Sedangkan untuk posisi lubang headset yang berada dibagian atas sebelah kiri, cocok untuk pengguna yang senang menyimpan smartphone di saku atas. Tapi kurang ramah untuk yang suka mengantongi smartphone di saku celana, atau yang suka mendengarkan musik saat smartphone diletakan di atas meja.

 

  • Layar

 

 

Dengan dana mulai dari 1,9 juta rupiah, Max M2 akan jadi salah satu pilihan bagi pengguna yang mencari smartphone Android berponi, dengan spesifikasi ‘lumayan’. Warna yang tampil memang biasa saja, masih dibawah Max Pro M2. Sepanjang yang saya lihat, range warna-nya, terutama merah, agak kurang. Level brighness-nya cukup tinggi, menjadikan kecerahaan layar cukup mumpuni dilihat di luar ruangan.

 

Resolusi HD+ (1520 x 720p) pada panel 6,3”memang bukan paduan yang pas. Tapi Screen-to-Body ratio yang cukup superior mencapai 88%, menjadikan perbedaan yang terlihat saat dibandingkan dengan panel 1080p milik Max Pro M1 saat memutar video 4K, tidak terlihat berbeda.

 

  • Kamera

 

video youtube embed

 

Untuk pengalaman videography digital, tidak ada yang berbeda dibanding kakaknya, Max Pro M2. Kamu bisa lihat pada video review Max Pro M2 di atas. Saya sarankan, gunakan aplikasi kamera pihak ketiga agar hasil video lebih terlihat profesional. Sedangkan untuk still foto, aplikasi Snapdragon cameranya sudah cukup OK.

 

Hasil Foto Outdoor Kamera Asus Zenfone Max M2

 

Walau sensor yang dipakai beda kasta dengan sensor yang dipakai kakaknya, Max Pro M2, namun untuk hasil tangkapan kamera saya bisa bilang masih melebihi ekspektasi saya untuk sebuah Smartphone kurang dari dua (2) juta-an. Kemampuannya mengambil gambar di tempat gelap-pun lumayan baik. Kemampuan bukaan sensor hingga f1,8 sangat berperan di sini.

 

  • Performa

 

 

Secara performa, ia tampil lebih superior 45% lebih kencang dibanding Snapdragon 450 yang jadi andalan beberapa smartphone Android di segmen harga ini. Sedangkan dibanding kakaknya Snapdragon 636, score physx nya hanya tertinggal paling besar 10%.

 

 

Bedanya, performance core pada SD636 diseting bisa berlari hingga 2,2 GHz, dengan SD632 ini hanya 1,8 GHz maksimal. Untuk GPU, SoC ini menawarkan Adreno 506 yang serupa dengan yang ditawarkan Snapdragon 625. Bisa dipastikan, performa pengolah grafisnya identik.

 

Melalui pantauan selama benchmark berlangsung, clockspeed SoC ini berjalan sesuai kodratnya. Jadi tidak ada penyesuaian clockspeed seperti yang dilakukan Asus pada SD660 di Max Pro M2.

 

– Power Management

 

 

Asus membekali Max M2 dengan charger berspesifikasi 5V~2A yang serupa dengan kebanyakan smartphone Asus di level harga 3 juta kebawah.

 

Jika charger ini mampu mengisi daya baterai 5000 mAH pada Max Pro M2 dari 15% hingga 100% selama kurang lebih 2 jam. Untuk mengisi baterai 4000 mAH pada unit review Asus Zenfone Max M2, charger ini membutuhkan waktu 1 jam 51 menit.

 

 

  • Kesimpulan

 

Asus Zenfone Max M2 ini lebih menawarkan spesifikasi yang lebih baik dibanding kompetitor yang rata-rata masih menawarkan Snapdragon 430, 450 atau seri mid-high MediaTek. Bahkan di sisi komputasi PhysX, tidak perbedaan performanya dengan SDM 636 tidak akan terasa di penggunaan real.

 

Kepasitas baterai sebesar 4000 Wh, bukan yang paling besar untuk smartphone di segmen ini. Tapi dengan SoC berfabrikasi 14 nm, nampaknya tetap sulit mencari tandingan untuk smartphone ini saat di andalkan sebagai daily driver. Jika Optimasi proses charging bisa Asus hadirkan pada seri ini (dan juga kakak nya Max Pro M2), pasti akan lebih meyakinkan calon pembeli yang mengutamakan mobilisasi.

 

Sisi desain mungkin yang akan mempengaruhi banyak calon pembeli jika membandingkan dengan beberapa kompetitor. Sayapun berandai-andai, jikalau Asus meneteskan desain Max pro M2 pada seri ini, bakal lengkap smartphone ini sebagai .  Walaupun nampaknya tidak mungkin banderolnya tetap sama.

 

 

So, jika kamu terpaksa hanya bisa mengeluarkan uang 1,9 juta untuk sebuah smartphone Android. Punya prioritas layar ber-poni, performa yang lebih baik dari Snapdragon 400 series, juga kemampuan kamera yang cukup bisa di andalkan, Asus Zenfone Max M2 zb633kl adalah kandidat paling atas yang Skyegrid sarankan.

The post Review Asus Zenfone Max M2 ZB633KL – Android ‘Poni’ di Bawah 2 Juta Paling Kenceng! appeared first on Skyegrid Media.