Konten dari Pengguna

Ad Hominem: Ketika Perdebatan Berubah Menjadi Serangan Personal

Ahmad Fahmi, SH

Ahmad Fahmi, SH

Corporate HRD and Founder of Scriptumluris.id

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Fahmi, SH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: https://cdn.pixabay.com/photo/2015/05/12/09/13/social-media-763731_1280.jpg
zoom-in-whitePerbesar
Foto: https://cdn.pixabay.com/photo/2015/05/12/09/13/social-media-763731_1280.jpg

Media sosial hari ini sudah menjadi arena debat terbuka. Siapa saja bebas membagikan opini, video, atau pemikiran mereka melalui fitur seperti Instagram Reels atau TikTok. Berbeda pendapat itu hal yang lumrah dan sehat, tetapi pernahkah kamu membagikan konten yang sifatnya objektif, lalu mendadak dikomentari sinis oleh orang lain yang menuduhmu "dibayar" atau punya agenda terselubung?

Lebih parah lagi, saat kamu membalas tuduhan itu dengan argumen yang tenang dan logis, dia justru membalas dengan hinaan atau menjatuhkan latar belakangmu: "Berpendidikan doang tapi....".

Jika kamu pernah atau sedang mengalami hal ini, selamat kamu baru saja berhadapan dengan pelaku Ad Hominem.

Apa Itu Ad Hominem?

Dalam ilmu logika, Ad Hominem adalah salah satu bentuk kesesatan berpikir (logical fallacy). Istilah latin ini secara harfiah berarti "tertuju pada manusianya". Fenomena ini terjadi ketika seseorang tidak lagi mampu menyanggah substansi, data, atau isi dari argumen lawan bicaranya, sehingga mereka memilih jalan pintas: menyerang pribadi si penyampai pesan.

Foto: https://gemini.google.com/a7091771-847e-4f7c-a627-db11e72e1de8

Ciri-ciri utamanya sangat mudah ditebak:

  1. Mengalihkan isu: tidak menjawab pertanyaan atau poin utama konten.

  2. Menyerang karakter: membawa-bawa tingkat pendidikan, status sosial, pekerjaan, atau masa lalu.

  3. Menghina secara verbal: menggunakan kata-kata kasar atau pelabelan negatif untuk meruntuhkan kredibilitas lawan.

Siasat Terakhir Orang yang Kalah: Taktik Schopenhauer

Fenomena serang personal ini sebenarnya bukan hal baru. Filsuf terkenal Arthur Schopenhauer bahkan sudah merangkum perilaku ini ratusan tahun lalu dalam bukunya yang legendaris, The Art of Always Being Right.

Dalam bab tentang taktik debat ke-38 (Strategem 38), Schopenhauer menulis sebuah kutipan tajam: "Ketika kamu sadar bahwa lawan bicaramu lebih unggul dan kamu akan kalah argumen, lakukanlah serangan personal, jadilah orang yang kasar, menghina, dan tidak sopan".

Schopenhauer menjelaskan bahwa ketika seseorang kehabisan data dan akal sehat, ego mereka akan menolak untuk kalah. Jalan pintas satu-satunya untuk menyelamatkan muka di depan publik adalah dengan meninggalkan topik perdebatan sama sekali, lalu mulai menguliti personalitas lawannya.

Salah Kaprah "Sok Kritis" ala Mahasiswa

Lucunya ketika mendengar selentingan kalau aksi orang itu di medsos katanya bersumber dari doktrin bangku perkuliahan. Katanya, mahasiswa itu dituntut untuk selalu "kritis".

Di sinilah letak salah kaprahnya. Kuliah memang melatih kita untuk berpikir kritis (critical thinking), tapi kritis yang diajarkan dosen itu standarnya adalah berbasis data, literasi, metodologi, dan objektivitas. Kritis itu membedah isi kepala atau substansi masalahnya, bukan membedah personal orangnya.

Kalau cuma bisa menuduh tanpa bukti lalu berujung mengatai orang lain, itu bukan kritis akademik. Itu namanya krisis argumen yang dibungkus dengan ego demi terlihat keren di ruang digital. Sangat disayangkan jika status mahasiswa hanya dipakai sebagai tameng untuk melegalkan perilaku tidak pantas di media sosial.

Miskin Literasi, Kaya Ego

Ironi terbesar dari netizen yang hobi melakukan serangan personal adalah mereka sering kali merasa paling benar. Mereka terjebak dalam sindrom merasa paling tahu segalanya.

Ketika ada sebuah sudut pandang baru yang tidak sesuai dengan isi kepala atau ego mereka, mereka langsung defensif. Minimnya literasi dan ketidakmampuan mengolah informasi dengan kepala dingin membuat jempol mereka bergerak lebih cepat daripada otak. Mereka tidak sedang mencari ruang diskusi yang sehat, melainkan hanya berburu kemenangan ego di ruang digital.

Menuduh orang lain tidak pintar tanpa bisa menunjukkan letak kesalahannya secara valid adalah puncak dari sebuah kekalahan argumen yang mutlak.

Ruang Digital Membuka Topeng Asli

Menghadapi orang yang sudah menurunkan level diskusinya menjadi serangan personal sebenarnya memberi kita satu keuntungan: kita jadi tahu kualitas asli mental mereka. Orang yang sudah menyerang secara personal tidak sedang mencari kebenaran atau ruang diskusi yang sehat. Mereka hanya sedang mencari makan untuk ego mereka yang kelaparan akan validasi.

Meladeni mereka hanya akan memberikan panggung yang mereka cari-cari sejak awal, walaupun pastinya hati sangat kesal. Lagipula, membalas argumen kosong dengan data hanya akan membuang waktu secara sia-sia.

Kesimpulannya, ruang digital mencerminkan kedewasaan emosional seseorang. Orang yang benar-benar cerdas dan berwawasan akan sibuk mendebat ide atau gagasan. Sementara mereka yang isi kepalanya kosong, hanya akan sibuk menyerang orangnya.