Konten dari Pengguna

Fresh Graduate Sarjana Hukum: Minimal Harus Bisa Legal Drafting

Fahmi Fadi, SH

Fahmi Fadi, SH

Founder Scriptumluris.id

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fahmi Fadi, SH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: https://cdn.pixabay.com/photo/2022/02/13/02/01/terms-7010195_1280.jpg
zoom-in-whitePerbesar
Foto: https://cdn.pixabay.com/photo/2022/02/13/02/01/terms-7010195_1280.jpg

Lulus dari fakultas hukum tidak otomatis membuat seseorang siap bekerja di bidang legal. Gelar sarjana memang menjadi modal awal, tetapi dunia kerja membutuhkan kemampuan yang lebih praktis. Salah satu kemampuan yang menurut saya setidaknya perlu dimiliki oleh fresh graduate sarjana hukum adalah legal drafting.

Legal drafting secara sederhana merupakan kemampuan menyusun dokumen hukum dengan memperhatikan struktur, bahasa, dasar hukum, serta tujuan dari dokumen tersebut. Kemampuan ini tidak hanya dibutuhkan oleh advokat atau perancang peraturan. Di perusahaan, instansi pemerintah, maupun berbagai lembaga lainnya, kemampuan menyusun dokumen hukum juga menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari.

Bentuknya pun beragam. Seorang staf legal perusahaan, misalnya dapat berhadapan dengan kontrak kerja sama, perjanjian kerahasiaan, surat peringatan, legal opinion, hingga surat-surat hukum lainnya. Mereka yang bekerja di instansi pemerintahan dapat berhadapan dengan rancangan peraturan, keputusan, nota dinas, atau dokumen hukum lainnya.

Fresh graduate hukum tidak harus langsung menjadi ahli dalam semua jenis dokumen, tetapi setidaknya perlu memahami bagaimana sebuah dokumen hukum disusun dengan benar.

Bukan Hanya Menulis

Kesalahpahaman yang cukup sering terjadi adalah menganggap legal drafting sama dengan kemampuan menulis menggunakan bahasa yang formal. Legal drafting terdapat logika hukum yang harus diperhatikan di dalamnya.

Ketika menyusun sebuah perjanjian, misalnya seorang legal harus memahami siapa para pihaknya, apa objek perjanjiannya, apa hak dan kewajiban masing-masing pihak, bagaimana mekanisme pelaksanaan, apa yang terjadi jika salah satu pihak melakukan wanprestasi, hingga bagaimana penyelesaian sengketa dilakukan.

Begitu juga ketika menyusun peraturan. Struktur, dasar hukum, materi muatan, penggunaan istilah, serta hubungan antara satu ketentuan dengan ketentuan lainnya harus diperhatikan. Legal drafting membutuhkan kemampuan untuk menerjemahkan analisis hukum menjadi dokumen yang dapat digunakan secara konkret.

Fresh Graduate Harus Mulai dari Mana?

Tidak perlu langsung belajar semuanya sekaligus. Fresh graduate dapat memulainya dari jenis dokumen yang paling sering ditemui dalam pekerjaan legal, misalnya belajar menyusun surat resmi, perjanjian sederhana, legal memo, legal opinion, atau dokumen hukum lainnya. Dari sana, kemampuan dapat dikembangkan ke dokumen yang lebih kompleks.

Hal yang tidak kalah penting adalah membiasakan diri membaca dokumen hukum yang sudah digunakan dalam praktik. Dengan membaca berbagai contoh kontrak, peraturan, putusan pengadilan, maupun dokumen hukum lainnya, seseorang akan lebih mudah memahami bagaimana struktur dan bahasa hukum digunakan, tetapi contoh dokumen bukan cuma ditiru. Fresh graduate perlu memahami alasan di balik setiap klausul atau ketentuan. Dengan begitu kemampuan yang terbentuk bukan sekadar copy-paste template.

Harus Bisa Membaca Sebelum Menulis

Legal drafting juga tidak dapat dipisahkan dari legal research. Sebelum menulis sebuah dokumen hukum, seorang legal perlu mengetahui aturan apa yang menjadi dasar, apakah terdapat perubahan peraturan, bagaimana ketentuan terkait diterapkan, dan apakah terdapat aturan lain yang harus diperhatikan.

Misalnya ketika diminta membuat perjanjian kerja sama, seseorang tidak cukup hanya membuka template perjanjian lama. Ia perlu memahami kebutuhan para pihak dan memastikan klausul yang digunakan tidak bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku. Kemampuan mencari, membaca, memahami, dan menganalisis peraturan menjadi fondasi sebelum seseorang menuangkan hasilnya ke dalam dokumen.

Jangan Takut dengan Bahasa Hukum

Bagi sebagian mahasiswa atau fresh graduate, bahasa hukum terkadang terasa rumit. Kalimat yang panjang, istilah hukum, serta struktur dokumen yang berbeda dari tulisan biasa dapat membuat legal drafting terlihat sulit.

Tujuan utama dokumen hukum justru harus menghasilkan ketentuan yang jelas dan tidak mudah menimbulkan penafsiran berbeda. Kemampuan menggunakan bahasa yang jelas, konsisten, tepat, dan tidak ambigu justru menjadi bagian penting dalam legal drafting.

Seorang fresh graduate tidak perlu membuat dokumen dengan bahasa yang berbelit-belit hanya agar terlihat “legal”. Yang lebih penting adalah memastikan maksud hukumnya dapat dipahami dan setiap ketentuannya memiliki hubungan yang jelas.

Kuliah Saja Tidak Cukup

Kemampuan legal drafting memang bisa dipelajari di bangku kuliah, tetapi pengalaman praktik akan membantu mempercepat pemahaman.

Mahasiswa dapat mulai berlatih dengan membuat perjanjian sederhana, menyusun legal opinion berdasarkan kasus tertentu, melakukan review terhadap kontrak, atau mencoba menyusun rancangan peraturan berdasarkan permasalahan hukum yang ada.

Magang juga menjadi kesempatan yang sangat baik untuk melihat bagaimana dokumen hukum benar-benar digunakan dalam pekerjaan. Dari sana, mahasiswa dapat belajar bahwa dokumen yang terlihat sederhana sekalipun membutuhkan ketelitian.

Kesalahan kecil dalam istilah, angka, nama pihak, dasar hukum, atau rumusan klausul dapat menimbulkan persoalan ketika dokumen tersebut digunakan.

Buktikan, Jangan Hanya Ditulis di CV

Menuliskan “memiliki kemampuan legal drafting” di CV tentu mudah. Tantangannya adalah ketika kemampuan tersebut benar-benar diuji saat proses rekrutmen atau ketika sudah bekerja.

Fresh graduate akan memiliki nilai lebih jika dapat menunjukkan pengalaman yang konkret. Misalnya pernah menyusun draft perjanjian dalam tugas kuliah, membuat legal opinion, melakukan review peraturan ketika magang, atau terlibat dalam penyusunan dokumen hukum di organisasi.

Portofolio juga dapat menjadi cara untuk menunjukkan kemampuan tersebut, selama dokumen yang ditampilkan tidak mengandung informasi rahasia atau data milik institusi. Dengan begitu, recruiter mendapatkan gambaran mengenai kemampuan berpikir dan cara seseorang menyusun dokumen hukum.

Legal Drafting Bukan Satu-Satunya Skill

Meski penting, legal drafting tentu bukan satu-satunya kemampuan yang harus dimiliki fresh graduate hukum. Kemampuan tersebut sebaiknya berjalan bersama dengan legal research, legal analysis, komunikasi, ketelitian, manajemen dokumen, dan kemampuan memahami regulasi.

Seseorang tidak akan dapat menghasilkan dokumen hukum yang baik jika tidak mampu memahami masalah yang hendak dituangkan ke dalam dokumen tersebut. Kemampuan legal drafting sebenarnya menjadi titik temu antara teori hukum dan praktik. Ilmu yang dipelajari selama kuliah akhirnya harus dapat diterjemahkan menjadi sesuatu yang bisa digunakan untuk menyelesaikan persoalan hukum.

Kesimpulannya, fresh graduate sarjana hukum memang tidak dituntut langsung menjadi ahli, tetapi setidaknya mereka perlu memiliki fondasi yang cukup untuk bekerja secara praktis. Legal drafting menjadi salah satu kemampuan dasar yang layak dikuasai sejak awal, karena kemampuan tersebut menunjukkan bahwa seorang sarjana hukum mampu mengubah pengetahuan hukumnya menjadi dokumen yang memiliki fungsi nyata.