Industri Properti 2026: SDM Menjadi Kunci Bertahan

Founder Scriptumluris.id
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Fahmi Fadi, SH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perlambatan industri properti sepanjang 2026 membuat banyak perusahaan berlomba mencari strategi untuk mempertahankan penjualan. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari menawarkan promo, memberikan skema pembayaran yang lebih fleksibel, hingga menghadirkan inovasi produk, tetapi dari sudut pandang saya sebagai seorang pengamat, terdapat satu aspek yang sering kali luput dari perhatian, yaitu kesiapan sumber daya manusia (SDM) dalam menghadapi perubahan pasar.
Data survei kuartal I-2026 menunjukkan penjualan hunian mengalami kontraksi sebesar 25,67% secara year on year (yoy), berbanding terbalik dengan pertumbuhan 7,83% pada kuartal sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa tantangan industri properti saat ini berasal dari perubahan perilaku konsumen yang semakin selektif dalam mengambil keputusan membeli rumah.
Kenaikan suku bunga acuan membuat cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) semakin mahal. Di sisi lain, perbankan juga memperketat proses persetujuan kredit sehingga banyak calon pembeli memilih menunda pembelian rumah. Kondisi tersebut menyebabkan pasar primer mengalami perlambatan, sementara konsumen lebih berhati-hati dalam memilih proyek maupun pengembang.
Perubahan perilaku konsumen juga terlihat dari meningkatnya pembatalan pembelian (cancellation rate) dan bergesernya minat terhadap rumah siap huni (ready stock). Konsumen kini cenderung menghindari proyek yang masih berada pada tahap pembangunan (off-plan) karena mempertimbangkan risiko keterlambatan proyek maupun ketidakpastian ekonomi. Selain itu, kawasan penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi semakin diminati karena menawarkan harga yang lebih kompetitif serta didukung pengembangan kawasan berbasis Transit-Oriented Development (TOD).
Perubahan tersebut tentu memengaruhi strategi bisnis perusahaan properti, tantangan yang lebih besar justru berada pada pengelolaan SDM. Ketika transaksi menurun, tekanan terhadap tim penjualan akan meningkat. Target yang sebelumnya masih realistis dapat berubah menjadi sulit dicapai sehingga berpotensi menurunkan motivasi kerja bahkan meningkatkan angka turnover.
Dalam kondisi seperti ini, perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan strategi pemasaran. HRD perlu mengambil peran yang lebih strategis dengan menyesuaikan sistem pengelolaan talenta terhadap kondisi pasar. Salah satunya melalui evaluasi target penjualan dan skema insentif agar tetap mampu memotivasi karyawan tanpa mengabaikan kondisi bisnis perusahaan. Sistem penghargaan yang lebih adaptif dapat membantu menjaga produktivitas sekaligus mempertahankan karyawan berprestasi.
Perusahaan juga perlu mempercepat peningkatan kompetensi karyawan. Perubahan perilaku konsumen membuat proses pemasaran properti tidak lagi dapat mengandalkan metode konvensional. Tim sales perlu menguasai digital marketing, customer relationship management (CRM), pemanfaatan artificial intelligence (AI), analisis data pelanggan, hingga penggunaan teknologi virtual tour dan visualisasi 3D. Kompetensi tersebut akan membantu perusahaan menjangkau konsumen secara lebih efektif sekaligus meningkatkan pengalaman calon pembeli sebelum memutuskan transaksi.
Efisiensi organisasi juga perlu dilakukan secara bijak. Efisiensi tidak selalu identik dengan pengurangan tenaga kerja. Perusahaan justru perlu melakukan evaluasi beban kerja, mengoptimalkan penempatan karyawan sesuai kompetensi, serta membangun budaya kerja yang adaptif terhadap perubahan. Dengan cara tersebut, perusahaan dapat menjaga produktivitas tanpa kehilangan talenta terbaik yang nantinya dibutuhkan ketika pasar kembali pulih.
Di sisi lain, pengembang tetap perlu menjaga arus kas (cash flow) dengan menyelesaikan proyek yang sedang berjalan dan menghadirkan inovasi produk sesuai kebutuhan pasar. Pengembangan konsep smart home, penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), serta fleksibilitas skema pembayaran menjadi beberapa strategi yang dapat meningkatkan daya tarik produk di tengah persaingan yang semakin ketat. Seluruh strategi tersebut pada akhirnya tetap bergantung pada kualitas SDM yang menjalankannya.
Menurut saya, perlambatan pasar properti seharusnya dipandang sebagai momentum bagi perusahaan untuk membangun organisasi yang lebih adaptif. Ketika kondisi pasar kembali membaik, perusahaan yang telah berinvestasi pada pengembangan kompetensi karyawan akan lebih siap memanfaatkan peluang dibandingkan perusahaan yang hanya berfokus pada efisiensi jangka pendek.
Kesimpulannya, daya saing industri properti tidak hanya ditentukan oleh lokasi proyek, harga jual, atau inovasi produk, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan dalam mengelola sumber daya manusianya. Di tengah perubahan pasar yang terus berlangsung, SDM yang kompeten, adaptif, dan mampu mengikuti perkembangan teknologi akan menjadi faktor pembeda yang menentukan keberlangsungan bisnis di masa depan.
