Konten dari Pengguna

Overqualified Saat Melamar Kerja: Bukan Berarti Kandidat Kurang Bagus

Fahmi Fadi, SH

Fahmi Fadi, SH

Founder Scriptumluris.id

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fahmi Fadi, SH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: https://cdn.pixabay.com/photo/2021/09/15/15/49/resume-6627200_1280.jpg
zoom-in-whitePerbesar
Foto: https://cdn.pixabay.com/photo/2021/09/15/15/49/resume-6627200_1280.jpg

Mencari pekerjaan sering dianggap sebagai soal memenuhi sebanyak mungkin kualifikasi yang diminta perusahaan. Semakin banyak pengalaman, semakin banyak keterampilan yang dimiliki, dan semakin tinggi pendidikan yang ditempuh, seharusnya semakin besar pula peluang diterima.

Kenyataannya tidak selalu demikian. Ada pelamar yang justru gagal mendapatkan pekerjaan karena dianggap overqualified atau memiliki kualifikasi yang melebihi kebutuhan posisi yang dilamar. Kondisi ini mungkin terdengar aneh. Bagaimana bisa seseorang yang punya pengalaman lebih banyak atau kemampuan lebih tinggi malah tidak dipilih?

Dalam proses rekrutmen, perusahaan tidak melihat apakah seorang kandidat mampu mengerjakan pekerjaannya. Perusahaan juga mempertimbangkan apakah kandidat tersebut sesuai dengan kebutuhan posisi dan memiliki kemungkinan untuk bertahan dalam pekerjaan tersebut.

Apa Itu Overqualified?

Secara sederhana, overqualified terjadi ketika seseorang memiliki pengalaman, keterampilan, pendidikan, atau tingkat tanggung jawab yang jauh melebihi persyaratan posisi yang dilamar. Misalnya sebuah perusahaan membuka posisi staf administrasi dengan persyaratan pengalaman satu sampai dua tahun, kemudian ada kandidat yang sudah memiliki pengalaman lima tahun sebagai supervisor dan pernah memimpin sebuah tim.

Secara kemampuan, kandidat tersebut mungkin sangat mampu mengerjakan tugas administrasi, tetapi perusahaan bisa saja mempertanyakan alasan kandidat tersebut melamar posisi yang levelnya lebih rendah.

Menurut penelitian yang dikutip Society for Human Resource Management (SHRM), pengalaman yang relevan menjadi salah satu faktor utama yang dipertimbangkan perekrut. Dalam menilai kandidat, perekrut juga memperhatikan keseimbangan antara pengalaman yang cukup untuk menjalankan pekerjaan dan pengalaman yang terlalu tinggi sehingga posisi tersebut mungkin tidak lagi menjadi pilihan yang tepat bagi kandidat. Dengan bahasa mudahnya, memiliki kualifikasi lebih tinggi tidak otomatis membuat seseorang menjadi kandidat terbaik.

Kenapa Perusahaan Bisa Ragu?

Salah satu alasan yang paling sering muncul adalah kekhawatiran terhadap turnover. Perusahaan tentu mengeluarkan waktu, tenaga, dan biaya untuk merekrut serta melatih karyawan baru. Jika kandidat yang dianggap overqualified hanya bertahan sebentar karena menemukan pekerjaan yang lebih sesuai dengan levelnya, perusahaan harus kembali melakukan proses rekrutmen.

Kekhawatiran semacam ini juga disebut sebagai salah satu alasan perusahaan ragu merekrut kandidat overqualified. Selain risiko keluar lebih cepat, perusahaan dapat mempertanyakan apakah pekerjaan tersebut nantinya cukup menantang bagi kandidat. Misalnya seseorang yang sebelumnya terbiasa mengelola tim dan mengambil keputusan strategis kemudian masuk ke posisi yang sebagian besar pekerjaannya bersifat rutin. Perusahaan mungkin khawatir kandidat tersebut akan merasa bosan setelah beberapa waktu.

Bukan Soal Kemampuan

Hal lain yang dapat menjadi pertimbangan adalah tingkat tanggung jawab. Kandidat yang sebelumnya berada pada posisi lebih tinggi mungkin sudah terbiasa mengambil keputusan atau memimpin pekerjaan. Ketika masuk ke posisi yang membutuhkan arahan lebih banyak dari atasan, perusahaan bisa mempertanyakan apakah kandidat tersebut akan nyaman mengikuti struktur kerja yang ada.

Bukan berarti orang yang berpengalaman pasti sulit diarahkan. Kekhawatiran tersebut lebih berkaitan dengan kecocokan antara pengalaman kandidat dan karakter pekerjaan. SHRM mencatat bahwa tingkat tanggung jawab yang pernah dimiliki dan perkembangan karier dapat menjadi indikator seseorang dianggap overqualified.

Ekspektasi Gaji Juga Bisa Jadi Pertimbangan

Kualifikasi yang lebih tinggi juga sering dikaitkan dengan ekspektasi kompensasi yang lebih tinggi. Seorang kandidat yang sebelumnya bekerja pada posisi dengan tanggung jawab besar mungkin memiliki standar gaji tertentu. Sementara itu, posisi yang sedang dilamar mempunyai rentang gaji yang sudah ditentukan perusahaan.

Disinilah bisa muncul ketidaksesuaian. Bahkan dalam survei Indeed yang dilakukan bersama Harris Poll pada 2025, terdapat perbedaan pandangan antara perusahaan dan pencari kerja mengenai kesediaan kandidat menerima penurunan gaji. Sebanyak 55 persen perusahaan mengira kandidat bersedia menerima gaji lebih rendah, sedangkan hanya 37 persen pencari kerja yang mengatakan bersedia melakukan hal tersebut. Persoalan kompensasi memang dapat menjadi salah satu titik pertemuan yang sulit antara perusahaan dan kandidat.

Apakah Overqualified Berarti Pasti Ditolak?

Overqualified bukan berarti seorang kandidat otomatis tidak akan diterima. Ada perusahaan yang justru melihat pengalaman lebih sebagai keuntungan karena kandidat dapat membawa kemampuan tambahan ke dalam tim.

SHRM bahkan menemukan bahwa dalam eksperimen terhadap perekrut, kandidat yang overqualified dapat dipilih lebih sering dibandingkan kandidat yang underqualified, tetapi pengalaman yang relevan dan kecocokan dengan posisi tetap menjadi pertimbangan penting.

Jadi, persoalannya bukan sesederhana “terlalu pintar untuk pekerjaan ini”. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kemampuan dan pengalaman tersebut memang bisa digunakan secara optimal pada posisi yang ditawarkan.

Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan Pelamar?

Bagi pelamar yang merasa memiliki kualifikasi lebih tinggi dari posisi yang dituju, hal pertama yang perlu dilakukan adalah memahami alasan mengapa posisi tersebut ingin diambil.

Jika memang sengaja melamar posisi yang levelnya lebih rendah, alasan tersebut perlu disampaikan dengan jelas ketika wawancara. Misalnya kandidat ingin berpindah bidang, mencari lingkungan kerja tertentu, ingin lebih fokus pada bidang teknis, atau memang melihat posisi tersebut sesuai dengan arah karier yang sedang dibangun.

Hal ini penting karena perusahaan mungkin akan mempertanyakan komitmen kandidat. Pertanyaan seperti “Mengapa Anda tertarik dengan posisi ini padahal pengalaman Anda lebih tinggi?” sebenarnya bukan semata-mata untuk menjatuhkan kandidat. Perusahaan ingin memastikan bahwa kandidat memahami pekerjaan yang dilamar dan memang memiliki alasan yang masuk akal untuk memilihnya.

Jangan Masukkan Semua Hal ke CV

Memiliki banyak pengalaman bukan berarti seluruhnya harus ditampilkan dengan porsi yang sama dalam CV. CV seharusnya membantu perekrut melihat hubungan antara pengalaman kandidat dan posisi yang sedang dibuka. Pengalaman yang paling relevan sebaiknya lebih ditonjolkan.

Sebagai contoh seseorang memiliki pengalaman sebagai koordinator organisasi, guru, admin, dan penulis. Ketika melamar posisi legal, pengalaman yang menunjukkan kemampuan riset, analisis, penyusunan dokumen, atau administrasi hukum tentu lebih relevan untuk ditonjolkan.

Bukan berarti pengalaman lain harus disembunyikan. Hanya saja, kandidat perlu menunjukkan mengapa dirinya cocok untuk posisi tersebut, bukan sekadar menunjukkan sebanyak mungkin hal yang pernah dilakukan.

Bukan Siapa yang Paling Hebat

Mencari pekerjaan bukan selalu tentang siapa yang memiliki kualifikasi paling tinggi. Perusahaan mencari orang yang mampu menjalankan pekerjaan yang dibutuhkan, sementara kandidat juga mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan, tujuan, dan ekspektasinya. Kecocokan menjadi bagian penting dalam proses rekrutmen.

Overqualified juga tidak selalu berarti kandidat terlalu bagus untuk sebuah pekerjaan. Bisa saja masalahnya terletak pada ketidaksesuaian antara pengalaman kandidat dan kebutuhan posisi.

Bagi pelamar, meningkatkan kemampuan tetap penting, tetapi memahami lowongan, menyesuaikan CV, menjelaskan alasan melamar, serta menunjukkan komitmen terhadap posisi yang dituju juga tidak kalah penting. Sebab dalam dunia kerja, memiliki kualifikasi yang tinggi adalah nilai tambah, tetapi menjadi kandidat yang tepat untuk posisi yang tepat adalah hal yang berbeda.