Quiet Quitting dan Perubahan Cara Pandang terhadap Dunia Kerja

HRD, Kreator Scriptumluris.id, dan Sarjana S1 Hukum UIN Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ahmad Fahmi, SH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Istilah quiet quitting sering terdengar dalam percakapan di dunia kerja. Banyak yang langsung menganggapnya sebagai bentuk kemalasan atau kurangnya dedikasi, padahal jika dilihat lebih dalam, fenomena ini tidak sesederhana itu.
Quiet quitting bukan seseorang yang berhenti bekerja. Karyawan tetap datang, menyelesaikan tugas, dan memenuhi kewajibannya. Hanya saja mereka tidak lagi memberikan usaha lebih di luar yang memang menjadi tanggung jawabnya. Fenomena ini lebih tepat dipahami sebagai perubahan cara pandang terhadap kerja dari yang sebelumnya serba “all out”, menjadi lebih terukur dan berbatas.
Bekerja Secukupnya, Tidak Lebih
Dalam implementasinya, quiet quitting terlihat dari perubahan perilaku yang cukup jelas, meskipun tidak selalu mencolok. Karyawan tetap bekerja, tetapi hanya sebatas yang memang menjadi tanggung jawabnya.
Beberapa ciri yang sering muncul antara lain:
Bekerja sesuai deskripsi pekerjaan tanpa inisiatif tambahan.
Pulang tepat waktu tanpa merasa perlu lembur.
Tidak merespons pekerjaan di luar jam kerja.
Tidak terlalu terlibat dalam aktivitas di luar tugas utama.
Secara kasat mata, tidak ada yang salah. Semua tugas tetap selesai, tetapi yang hilang adalah kontribusi lebih yang biasanya mendorong perkembangan individu maupun perusahaan.
Antara Burnout dan Kebutuhan Batas
Munculnya quiet quitting tidak terjadi tanpa sebab. Dalam banyak kasus, ini justru menjadi respons terhadap kondisi kerja yang tidak sehat. Ini dijelaskan juga oleh Burnout: The Secret to Unlocking the Stress Cycle karya Emily Nagoski dan Amelia Nagoski pada halaman 3, yang menyebutkan bahwa burnout terjadi ketika stres berlangsung terus-menerus tanpa adanya pemulihan yang memadai. Dalam kondisi seperti ini, individu cenderung mencari cara untuk melindungi dirinya, salah satunya dengan mengurangi keterlibatan secara emosional dalam pekerjaan.
Beberapa faktor yang sering menjadi pemicu quiet quitting antara lain:
Kelelahan mental akibat beban kerja berlebihan.
Kurangnya apresiasi dari perusahaan.
Ketidakseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi.
Ekspektasi tinggi tanpa kompensasi yang sebanding.
Pada situasi seperti ini, sebagian karyawan memilih “menarik diri” secara perlahan untuk menjaga dirinya tetap stabil.
Dampak yang Tidak Selalu Terlihat
Bagi perusahaan, quiet quitting bisa menjadi tantangan tersendiri. Fenomena ini tidak mudah dideteksi karena secara formal karyawan tetap menjalankan tugasnya, tetapi dalam jangka panjang, dampaknya mulai terasa, seperti produktivitas cenderung stagnan, inovasi menurun, keterlibatan tim melemah, dan budaya kerja menjadi kurang dinamis.
Hal ini berkaitan dengan konsep employee engagement. Dalam buku Employee Engagement 2.0 karya Kevin Kruse di halaman 29, dijelaskan bahwa keterlibatan karyawan sangat berpengaruh terhadap produktivitas dan kinerja organisasi. Ketika keterlibatan menurun, performa perusahaan pun ikut terdampak.
Perubahan Cara Pandang terhadap Kerja
Quiet quitting sering dikaitkan dengan generasi muda seperti Gen Z dan milenial, tetapi sebenarnya fenomena ini mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam dunia kerja.
Saat ini, semakin banyak orang yang menyadari bahwa bekerja bukan satu-satunya pusat kehidupan. Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi mulai dianggap sebagai kebutuhan bukan lagi pilihan. Pada konteks ini, quiet quitting bisa dilihat sebagai bentuk penegasan batas dan tidak ingin terus-menerus berada dalam tekanan tanpa batas.
Antara Masalah dan Sinyal
Menariknya, quiet quitting bisa dipandang dari dua sisi. Disatu sisi, perusahaan melihatnya sebagai penurunan performa, namun disisi lain, fenomena ini juga bisa menjadi sinyal adanya masalah dalam sistem kerja. Bisa jadi yang perlu diperbaiki lingkungan kerja itu sendiri, seperti budaya kerja yang terlalu menuntut, kurangnya penghargaan, beban kerja yang tidak realistis, dan minimnya komunikasi.
Kesimpulannya, quiet quitting adalah fenomena yang mencerminkan perubahan cara pandang terhadap kerja, batas diri, dan keseimbangan hidup. Ketika seseorang memilih untuk tidak memberi lebih, mungkin bukan karena ia tidak mampu, tetapi karena ia sedang berusaha untuk tidak kehilangan dirinya sendiri.
