Konten dari Pengguna

Relasi Luas tanpa Kompetensi: Tidak Cukup untuk Bertahan di Dunia Kerja

Ahmad Fahmi, SH

Ahmad Fahmi, SH

HRD, Kreator Scriptumluris.id, dan Sarjana S1 Hukum UIN Jakarta

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Fahmi, SH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: https://cdn.pixabay.com/photo/2017/05/04/16/37/meeting-2284501_1280.jpg
zoom-in-whitePerbesar
Foto: https://cdn.pixabay.com/photo/2017/05/04/16/37/meeting-2284501_1280.jpg

Di dunia kerja sekarang, sering banget kita dengar kalimat “yang penting punya koneksi”. Enggak sedikit juga yang percaya fenomena kalau kenal orang yang tepat bisa bikin jalan jadi lebih mudah.

Sebenernya, anggapan itu enggak sepenuhnya salah. Koneksi memang bisa membuka peluang, tapi masalahnya banyak yang berhenti di situ, sibuk cari relasi, tapi lupa ningkatin kemampuan diri sendiri. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, koneksi tanpa kompetensi itu ibarat dikasih pintu masuk, tapi kita enggak tau harus ngapain setelah masuk.

Koneksi Itu Pembuka, Bukan Penentu

Koneksi bisa bantu kita dapat kesempatan, entah itu kerjaan, proyek, atau dikenalin ke orang penting, tapi setelah kesempatan itu datang, yang diuji tetap kemampuan kita.

Mungkin kita bisa “masuk” karena kenal seseorang, tapi untuk bertahan, berkembang, bahkan dihargai, itu enggak bisa ditopang koneksi terus-terusan. Dititik ini, kompetensi jadi hal yang enggak bisa ditawar.

Banyak Koneksi, tapi Enggak Diimbangi Kemampuan

Masalah biasanya mulai kelihatan ketika seseorang punya banyak koneksi, tapi enggak punya skill yang cukup. Dampaknya nggak cuma ke diri sendiri, tapi juga ke orang lain.

Beberapa hal yang sering terjadi:

  1. Kepercayaan cepat hilang: kalau kita direkomendasikan orang tapi hasil kerja kita enggak sesuai, bukan cuma nama kita yang kena, tapi juga orang yang “bawa” kita.

  2. Jadi beban tim: ketika kemampuan enggak sejalan dengan pekerjaan, orang lain harus nutupin kekurangan kita. Ini lama-lama bikin kerja tim jadi enggak sehat.

  3. Relasi jadi enggak nyaman: koneksi itu bukan buat dimanfaatin sepihak. Kalau kita cuma “pakai” orang tanpa kontribusi, relasi itu biasanya enggak akan bertahan lama.

  4. Sulit bangun reputasi: kita dikenal bukan karena kualitas, tapi karena “siapa yang kita kenal”. Dalam jangka panjang, ini justru merugikan.

Networking Adalah Nilai, Bukan Cuma Kenal

Banyak yang salah paham soal networking. Dikira cukup kenal banyak orang, padahal bukan itu intinya. Networking yang sehat itu soal tukar nilai, kita punya sesuatu yang bisa ditawarkan dan orang lain juga punya.

Sejalan dengan itu, dalam buku Give and Take, Give and Take, Adam Grant menjelaskan bahwa hubungan profesional yang kuat biasanya dibangun oleh orang-orang yang memberi kontribusi, tidak hanya mengambil keuntungan. Artinya, koneksi yang kuat justru datang dari kemampuan yang kita punya.

Lebih Penting Mana?

Kalau harus jujur, ini bukan soal pilih salah satu. Koneksi dan kompetensi itu harus jalan bareng, tapi kalau dipaksa milih mana yang lebih penting untuk dibangun dulu, jawabannya: kompetensi.

Kenapa? Karena koneksi tanpa skill enggak akan bertahan lama, tapi skill tanpa koneksi masih bisa berkembang, meskipun mungkin lebih pelan.

Dalam buku So Good They Can’t Ignore You, So Good They Can't Ignore You, Cal Newport menekankan bahwa yang membuat seseorang berhasil dalam karier lebih dari passion atau koneksi, tapi kemampuan yang benar-benar bernilai dan diakui. Dengan bahasa mudahnya, jadi “jago” di bidang kita itu jauh lebih penting daripada cuma dikenal.

Jadi Harus Gimana?

Foto: https://cdn.pixabay.com/photo/2021/09/09/04/25/problem-6609450_1280.jpg

Biar enggak salah arah, ada beberapa hal yang bisa mulai diperbaiki:

  1. Fokus ningkatin skill, bukan cuma cari kenalan.

  2. Bangun reputasi dari hasil kerja, bukan dari relasi.

  3. Gunakan koneksi sebagai jalan, bukan tujuan.

  4. Pastikan kita punya sesuatu yang bisa “dibawa ke meja”.

Dengan begitu, koneksi yang kita bangun juga jadi lebih sehat dan bertahan lama.

Kesimpulannya, koneksi memang bisa membuka pintu, tapi yang bikin kita tetap di dalam ruangan itu adalah kemampuan kita sendiri. Jadi, enggak ada salahnya bangun relasi, tapi jangan sampai sibuk kenal banyak orang, tapi lupa ngembangin diri sendiri. Karena di dunia kerja, yang dicari bukan “siapa yang kamu kenal”, tapi juga “apa yang bisa kamu lakukan”.