Konten dari Pengguna

Sungkeman: Tradisi Lebaran yang Penuh Makna

Ahmad Fahmi Fadilah
Mahasiswa Aktif - S1 Hukum, UIN Jakarta
3 April 2025 16:32 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Ahmad Fahmi Fadilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
https://cdn.pixabay.com/photo/2023/03/14/11/50/gamelan-7852165_1280.jpg (Ilustrasi tradisi di Jawa)
zoom-in-whitePerbesar
https://cdn.pixabay.com/photo/2023/03/14/11/50/gamelan-7852165_1280.jpg (Ilustrasi tradisi di Jawa)
ADVERTISEMENT
Setiap kali Lebaran tiba, masyarakat Jawa punya satu tradisi yang begitu kuat mengakar, yaitu sungkeman. Bagi orang Jawa, Lebaran bukan hanya soal baju baru, makanan melimpah, atau perjalanan mudik yang melelahkan, tetapi juga tentang merendahkan hati dan meminta maaf kepada orang yang lebih tua. Tradisi ini bukan sekadar ritual biasa, tapi memiliki makna yang dalam dan menyentuh, jauh melampaui sekadar formalitas.
ADVERTISEMENT
Sungkeman biasanya dilakukan setelah salat Idul fitri, ketika seluruh anggota keluarga berkumpul. Momen ini adalah saat yang paling mengharukan, di mana anak-anak berlutut di hadapan orang tua, mencium tangan mereka, dan meminta maaf atas segala kesalahan yang telah dilakukan selama setahun terakhir. Ada suasana yang sulit diungkapkan dengan kata-kata dalam prosesi ini. Tangis haru sering kali pecah, baik dari anak maupun orang tua. Ada sesuatu yang menyentuh hati ketika seseorang dengan tulus mengakui kesalahannya dan diberikan maaf tanpa syarat oleh orang yang lebih tua.
Dalam budaya Jawa, sungkeman bukan hanya sekadar gestur fisik, tapi juga simbol kepatuhan dan penghormatan. Sungkeman menunjukkan betapa pentingnya nilai hormat kepada orang tua dan leluhur. Ini adalah cara orang Jawa mengajarkan bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada restu dan doa dari orang tua. Bahkan, banyak yang percaya bahwa hidup seseorang akan lebih berkah jika mendapatkan restu dari mereka.
ADVERTISEMENT
Namun, seiring berjalannya waktu, ada kekhawatiran bahwa tradisi sungkeman mulai mengalami pergeseran makna. Generasi muda yang semakin terpengaruh budaya luar mungkin melihat ini sebagai sesuatu yang kuno atau tidak relevan lagi. Padahal, dalam era modern yang serba cepat ini, momen-momen untuk benar-benar saling berinteraksi dengan keluarga semakin jarang. Sungkeman adalah kesempatan langka untuk kembali mempererat hubungan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan masing-masing.
Di beberapa keluarga, sungkeman dilakukan dengan sangat serius dan khidmat. Sementara di keluarga lain, ada yang lebih santai dengan menambahkan humor atau canda tawa agar suasana tidak terlalu haru. Tapi terlepas dari caranya, esensi dari sungkeman tetaplah sama: saling memaafkan, menghormati yang lebih tua, dan mempererat silaturahmi.
ADVERTISEMENT
Yang menarik, tradisi ini bukan hanya berlaku antara anak dan orang tua, tetapi juga antara menantu dan mertua, cucu dan kakek-nenek, bahkan kadang antar saudara atau sahabat dekat. Ini menunjukkan bahwa sungkeman bukan hanya tentang hubungan darah, tetapi juga tentang ikatan emosional dan sosial. Seseorang yang melakukan sungkeman berarti mengakui bahwa dirinya tidak luput dari kesalahan dan dengan rendah hati meminta maaf, sesuatu yang sering kali sulit dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Lebaran di Jawa tanpa sungkeman tentu akan terasa ada yang kurang. Tradisi ini adalah bagian dari jati diri masyarakat Jawa, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan harmoni. Di tengah kehidupan modern yang sering kali individualistis, sungkeman mengajarkan bahwa manusia tetaplah makhluk sosial yang membutuhkan restu dan pengampunan dari sesamanya.
ADVERTISEMENT
Sungkeman adalah refleksi dari nilai kehidupan itu sendiri. Bahwa tidak ada manusia yang sempurna, bahwa setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, dan bahwa kebesaran hati untuk meminta maaf serta memberi maaf adalah sesuatu yang sangat berharga. Tradisi ini mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki dampak yang luar biasa dalam menjaga hubungan keluarga tetap erat dan harmonis.
Hidup ini terlalu singkat untuk menyimpan dendam atau gengsi dalam meminta maaf. Sungkeman mengajarkan bahwa hubungan baik jauh lebih penting daripada ego. Tidak ada ruginya meminta maaf lebih dulu, justru itu menunjukkan kebesaran hati. Yang muda harus menghormati yang tua, dan yang tua harus memberikan kasih sayang tanpa batas. Dengan begitu, hidup akan lebih tenang, berkah akan mengalir, dan kebahagiaan akan terasa lebih nyata.
ADVERTISEMENT