Konten dari Pengguna

Ubi Bombing: Inovasi Baru untuk Memadamkan Karhutla

Fahmi Fadi, SH

Fahmi Fadi, SH

Founder Scriptumluris.id

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fahmi Fadi, SH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: https://cdn.pixabay.com/photo/2016/07/30/16/15/yams-1557440_960_720.jpg
zoom-in-whitePerbesar
Foto: https://cdn.pixabay.com/photo/2016/07/30/16/15/yams-1557440_960_720.jpg

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu persoalan yang membutuhkan penanganan cepat, terutama ketika api menyebar di wilayah yang sulit dijangkau dari darat. Selama ini salah satu metode yang digunakan adalah water bombing dengan menjatuhkan air dari udara.

Kini muncul gagasan lain yang cukup unik, yaitu penggunaan bahan berbasis tepung ubi atau singkong untuk membantu memadamkan karhutla. Inovasi tersebut mendapat perhatian setelah diusulkan kepada Presiden Prabowo Subianto dan diperintahkan untuk dikembangkan serta diuji lebih lanjut.

Berawal dari Inovasi di Lubuklinggau

Gagasan penggunaan bahan berbasis tepung ubi ini disebut berasal dari temuan seorang anggota Babinsa di Lubuklinggau, Sumatra Selatan.

Konsep tersebut kemudian mendapat perhatian pemerintah karena dinilai berpotensi menjadi alternatif dalam penanganan karhutla. Presiden Prabowo bahkan mendorong agar teknologi tersebut dikembangkan dan diproduksi dalam skala lebih besar untuk dilakukan pengujian.

Metode ini kemudian dikenal dengan istilah “ubi bombing”, yaitu konsep pemadaman dari udara menggunakan bahan berbasis tepung ubi sebagai pendamping atau alternatif water bombing.

Bagaimana Cara Kerjanya?

Berbeda dengan air yang bekerja terutama dengan menurunkan temperatur api, bahan yang dikembangkan dalam konsep ubi bombing diklaim memiliki mekanisme yang berkaitan dengan proses pembakaran.

Serbuk berbasis tepung tersebut dirancang untuk membantu menghambat unsur-unsur yang mendukung pembakaran sekaligus meredam panas pada tahap awal kebakaran, tetapi penting dipahami bahwa bahan yang dimaksud bukan tepung ubi yang biasa digunakan untuk kebutuhan dapur. Formula pemadaman membutuhkan pengolahan atau pencampuran tertentu agar dapat digunakan sesuai tujuan tersebut.

Karena itu, konsep ubi bombing tidak dapat disederhanakan menjadi anggapan bahwa semua jenis tepung dapat digunakan untuk memadamkan api.

Mengapa Tidak Boleh Menggunakan Tepung Dapur?

Munculnya informasi mengenai ubi bombing juga menimbulkan pertanyaan di masyarakat. Jika tepung dapat digunakan untuk membantu memadamkan karhutla, apakah tepung terigu atau tapioka di dapur juga bisa digunakan untuk memadamkan kebakaran Jawabannya jangan dicoba.

Tepung dalam bentuk serbuk halus justru dapat memiliki risiko kebakaran ketika partikelnya tersebar di udara dan bercampur dengan oksigen dalam konsentrasi tertentu. Kondisi tersebut dapat memicu fenomena yang dikenal sebagai dust explosion atau ledakan debu. Artinya melempar tepung dapur ke sumber api bukanlah cara aman untuk memadamkan kebakaran. Dalam kondisi tertentu, tindakan tersebut justru berpotensi membuat api semakin cepat menyebar atau menimbulkan flash fire.

Formula Khusus Menjadi Faktor Penting

Perbedaan utama antara konsep ubi bombing dengan tepung biasa terletak pada formulanya.

Bahan yang sedang dikembangkan untuk pemadaman karhutla bukan tepung mentah yang diambil dari dapur. Diperlukan formulasi dan pengujian agar bahan tersebut dapat bekerja sesuai tujuan, termasuk mempertimbangkan efektivitas pemadaman, keamanan penggunaan, serta dampaknya terhadap lingkungan.

Karena masih dalam tahap pengembangan dan pengujian, efektivitasnya juga perlu dibuktikan melalui uji lapangan sebelum dapat diterapkan secara luas.

Berpotensi Menjadi Pendamping Water Bombing

Jika hasil pengujian menunjukkan efektivitas yang baik, teknologi berbasis tepung ubi ini berpotensi menjadi salah satu pilihan tambahan dalam penanganan karhutla.

Penggunaannya dari udara dapat menjadi alternatif ketika pemadaman membutuhkan material yang tidak hanya berfungsi mendinginkan api, tetapi juga membantu menghambat proses pembakaran.

Konsep tersebut juga tidak serta-merta menggantikan water bombing. Keduanya dapat dipandang sebagai teknologi dengan karakteristik berbeda yang penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi kebakaran.

Inovasi Tetap Harus Dibuktikan

Gagasan ubi bombing menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan inovasi, terutama untuk menghadapi kebakaran di wilayah yang sulit dijangkau. Sebuah inovasi tidak cukup hanya menarik secara konsep. Efektivitas, keamanan, biaya produksi, dampak lingkungan, hingga penerapannya di lapangan perlu diuji secara ilmiah.

Yang tidak kalah penting, masyarakat juga perlu memahami bahwa inovasi tersebut bukan artinya tepung dapur dapat digunakan sebagai alat pemadam kebakaran.

Kesimpulannya, teknologi berbasis tepung ubi masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut melalui pengujian. Jika berhasil, ubi bombing dapat menjadi salah satu tambahan teknologi dalam menghadapi karhutla. Tetapi sebelum itu, jangan mencoba meniru metode tersebut dengan tepung biasa di rumah karena serbuk tepung justru memiliki risiko kebakaran tersendiri.