Konten dari Pengguna

ODHA: Melawan Virus tak terlihat

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ammar Aryasatya Wiryawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Photo: Flat Design Bullying concept with character. Source: Freepik.
zoom-in-whitePerbesar
Photo: Flat Design Bullying concept with character. Source: Freepik.

HIV/AIDS bukan hanya sekadar tantangan medis, namun permasalahan sosial yang terkait dengan nilai, norma, dan stigma. Walaupun terapi Antiretroviral (ARV) telah mengubah HIV menjadi suatu kondisi yang dapat dikelola, namun masih banyak individu yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) seringkali mengalami penolakan, pengucilan, serta diskriminasi dari orang-orang di lingkungan sekitar mereka seperti keluarga, tetangga, bahkan teman. Stigma yang ada tidak hanya merusak harga diri individu tetapi juga menghalangi upaya dalam pencegahan, kondisi ini dapat memperburuk kualitas hidup ODHA dan menghambat mereka dalam mengakses layanan kesehatan.

Penelitian yang dilakukan oleh Fadhila et al (2022) menemukan bahwa 53,2% responden termasuk dalam kategori stigma tinggi terhadap ODHA. Hal ini menunjukkan bahwa responden memiliki tingkat stigma yang tinggi, yang menunjukkan bahwa lebih dari setengah populasi masih memiliki pandangan negatif saat berinteraksi dengan individu yang terinfeksi HIV. Jenis stigma ini terlihat melalui keengganan untuk berkomunikasi, ketakutan yang berlebihan akan penularan lewat interkasi sosial yang biasa, hingga penilaian etik yang menyalahkan ODHA atas situasi yang mereka alami.

Data dari Rahmadania (2025) memperkirakan ada sekitar 564.000 individu yang terinfeksi HIV di Indonesia, namun hanya 63% yang menyadari kondisi mereka. Dari mereka yang mengetahui, 67% menjalani perawatan ARV, dan hanya 55% yang berhasil menurunkan virus ke tingkat yang tidak terdeteksi. Angka ini menunjukkan bahwa tantangan HIV tetap signifikan. Namun, ironisnya stigma sosial bukanlah virus tetapi seringkali menjadi kendala paling besar dalam proses pencegahan dan pengobatan.

Dalam perspektif sosiologi kesehatan, teori stigma yang diperkenalkan oleh Erving Goffman, HIV bukan sekadar kondisi medis bagi banyak individu sehingga HIV telah berubah menjadi ciri moral yang menimbulkan aib. Goffman menyatakan bahwa stigma muncul ketika identitas sosial individu dipandang tidak sesuai dengan norma sosial tanpa memperlihatkan identitas asli mereka.

Akibat dari stigma tersebut, banyak ODHA yang merasa tidak nyaman untuk terbuka, sehingga mereka menunda proses pengobatan, menghindar dari pelayanan kesehatan, dan bahkan menarik diri dari interaksi sosial. Hal ini terjadi bukan karena mereka tidak ingin sembuh, melainkan karena ketakutan akan stigma, pembicaraan di belakang, atau pun dijauhi oleh orang lain.

Ketika Stigma Lebih Menyakitkan daripada Diagnosis

Stigma terkait HIV/AIDS seringkali tersembunyi, namun dampaknya sangat terasa. Banyak ODHA yang harus menghadapi pandangan penuh curiga, jarak sosial yang diciptakan oleh orang lain, serta gossip yang merugikan. Mereka tidak hanya berjuang melawan virus di dalam tubuh mereka, tetapi juga harus berhadapan dengan penilaian dari masyarakat sekitar.

Stigma ini seringkali muncul karena ketakutan yang tidak beralasan dan berkeyakinan bahwa penyakit HIV/AIDS dapat menular melalui kontak fisik, makanan, atau berbagi barang. Selain itu, masyarakat seringkali mengaitkan HIV/AIDS dengan “kesalahan moral”, sehingga individu dengan HIV/AIDS dianggap layak mendapatkan penghinaan. Sementara itu, penyakit HIV/AIDS tidak mengenal status sosial, latar belakang, atau perilaku tertentu terhadap individu yang terinfeksi.

Referensi:

Fadhila, N. A., Siswandi, I., Chairunnisa, D., & Kamil, A. R. (2022). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Stigma Masyarakat Terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Wilayah Jakarta Pusat. Indonesian Journal of Nursing Science and Practice, 2(2), 65.

Rahmadania, S. R. (2025, Juni 22). Pengidap HIV Diprediksi Tembus 564 Ribu di 2025, 11 Provinsi Ini Catat Kasus Terbanyak. Diambil kembali dari health.detik.com: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-7976169/pengidap-hiv-diprediksi-tembus-564-ribu-di-2025-11-provinsi-ini-catat-kasus-terbanyak