Konten dari Pengguna

Dari Gas ke Rem: Membaca Transisi Paradigma Fiskal Purbaya ke Suahasil

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Slamet Supriyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suahasil Nazara dan Purbaya Yudhi Sadewa dalam sebuah kegiatan resmi di Jakarta.Foto: Slamet Supriyadi
zoom-in-whitePerbesar
Suahasil Nazara dan Purbaya Yudhi Sadewa dalam sebuah kegiatan resmi di Jakarta.Foto: Slamet Supriyadi

Ketika seorang dokter dihadapkan pada pasien yang lemah, ada dua pilihan: memacu jantungnya agar segera berdetak lebih kencang, atau memperkuat imunitasnya agar tidak ambruk saat virus baru datang. Keduanya adalah tindakan medis yang sah. Perbedaannya hanya pada diagnosis.

Itulah yang sedang terjadi di Kementerian Keuangan.

Pergantian dari Purbaya Yudhi Sadewa ke Suahasil Nazara bukanlah sekadar rotasi personel. Ini adalah pergantian diagnosis atas tubuh ekonomi Indonesia. Dari ekonomi yang didiagnosis mengalami sumbatan likuiditas dan butuh akselerasi, menuju ekonomi yang didiagnosis menghadapi badai global dan butuh ketahanan.

I. Dua Paradigma dalam Satu Mesin yang Sama

Dalam filsafat ilmu Thomas Kuhn (1962) dalam The Structure of Scientific Revolutions, pergeseran paradigma terjadi bukan karena teori lama bodoh, melainkan karena ia tak lagi mampu menjawab anomali baru.

Paradigma Purbaya adalah paradigma akselerasi. Ia melihat ekonomi sebagai mesin balap yang potensinya tertahan oleh rem birokrasi. Tugas negara adalah debottlenecking: membuka sumbatan, menyiramkan likuiditas ke sektor riil, dan memaksa mesin berputar lebih cepat. Ini adalah logika hydraulic Keynesianism.

Paradigma Suahasil adalah paradigma ketahanan. Ia melihat ekonomi dari ketinggian 30.000 kaki. Di sana terlihat awan gelap: suku bunga global yang persisten tinggi, fragmentasi geopolitik, dan volatilitas arus modal. Dalam lanskap itu, tugas negara adalah memastikan sasisnya kuat. APBN diposisikan bukan sebagai motor, melainkan sebagai shock absorber. Ini adalah logika fiscal credibility.

Satu ingin bergerak cepat. Satu ingin bertahan lama.

II. Akar Teorinya: Keynes vs Rogoff-Reinhart

Secara akademik, keduanya berpijak pada tradisi yang sangat mapan dan saling melengkapi.

  1. Akar Paradigma Purbaya: Keynesianisme dan Fiscal Multiplier

Logikanya bersumber dari John Maynard Keynes (1936) dalam The General Theory: ketika sektor swasta menahan belanja (paradox of thrift), negara harus menjadi spender of last resort. Dalam konteks modern, ini dikembangkan oleh Blanchard & Summers (2017) tentang pentingnya stimulus saat hysteresis terjadi.

Di Indonesia, logika ini didukung oleh studi Bank Indonesia (Warjiyo & Juhro, 2019) yang menunjukkan fiscal multiplier untuk belanja infrastruktur dan bansos di Indonesia berada di kisaran 0.9 - 1.4, artinya sangat efektif untuk mendongkrak PDB jangka pendek jika transmisi likuiditas tidak tersumbat.

2. Akar Paradigma Suahasil: Sustainability dan Credibility Theory

Logikanya bersumber dari tradisi keuangan publik modern. Reinhart & Rogoff (2010) dalam Growth in a Time of Debt — meski kontroversial secara metodologi — berhasil menunjukkan threshold effect: ketika rasio utang melewati batas psikologis, biaya pinjaman melonjak.

Ini diperkuat oleh Blanchard (2019) dalam Presidential Address di American Economic Association: "Utang itu tidak buruk, tetapi kepercayaan untuk bisa berutang murah itu yang mahal." Inilah inti dari Fiscal Space Theory (Ostry et al., IMF 2015): negara harus menjaga ruang fiskal di masa tenang agar bisa menghamburkannya di masa krisis.

III. Ujian Empiris: Sprint vs Maraton

Sejarah fiskal Indonesia memberikan pelajaran yang jujur.

Model akselerasi bekerja saat ekonomi mengalami domestic liquidity trap. Riset LIPI (2021) mencatat, percepatan belanja di Q1-Q2 terbukti meningkatkan velocity of money di daerah hingga 23%.

Namun model ketahanan yang menyelamatkan saat tekanan eksternal. Studi IMF Fiscal Monitor (2024) pada 32 negara emerging markets menyimpulkan: negara yang menjaga defisit di bawah 3% dan memiliki debt anchor yang kredibel mengalami kenaikan yield obligasi 110 basis poin lebih rendah saat terjadi global risk-off dibandingkan negara yang ekspansif tanpa jangkar.

Data ini menjelaskan trade-off-nya: Purbaya unggul dalam sprint. Suahasil unggul dalam maraton.

IV. Sintesis: Menuju Ambidextrous Fiscal Policy

Kesalahan terbesar dalam debat kebijakan kita adalah memaksanya menjadi pilihan biner: gas ATAU rem.

Padahal ekonomi modern membutuhkan keduanya secara simultan — sebuah konsep yang di Harvard Business School disebut sebagai Organizational Ambidexterity (O'Reilly & Tushman, 2004): kemampuan untuk mengeksploitasi hari ini sambil mengeksplorasi ketahanan untuk esok.

Sintesis yang kita butuhkan adalah Ekspansif Selektif, Disiplin Strategis, sejalan dengan kerangka Sustainable Development-Oriented Fiscal Policy yang dikembangkan Stiglitz & Greenwald (2014):

  1. Ekspansif di sektor dengan high multiplier, low import content: perlindungan sosial, padat karya, dan ketahanan pangan.

  2. Disiplin di sektor pembiayaan: menjaga debt-to-GDP anchor dan reputasi di mata pemegang SBN.

Transisi dari Purbaya ke Suahasil seharusnya tidak dibaca sebagai koreksi, melainkan sebagai pendewasaan siklus kebijakan. Dari pertanyaan "seberapa cepat kita bisa tumbuh?" menuju pertanyaan yang lebih dewasa: "seberapa lama kita bisa tumbuh tanpa tumbang?