Konten dari Pengguna

Rekonstruksi Pendidikan Indonesia, dari Juara Kelas Menuju Pemimpin Global

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Slamet Supriyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siswa Indonesia unggul di ruang kelas, tetapi tidak banyak yang duduk di kursi kepemimpinan global. Ilustrasi: Slamet Supriyadi
zoom-in-whitePerbesar
Siswa Indonesia unggul di ruang kelas, tetapi tidak banyak yang duduk di kursi kepemimpinan global. Ilustrasi: Slamet Supriyadi

Per Juli 2026, 11 perusahaan Fortune 500 dipimpin CEO keturunan India, dengan total kapitalisasi di atas $6,5 triliun. Dari 300 perusahaan publik terbesar dunia, 61% punya eksekutif level C-suite atau direktur dari India.

Filipina juga punya jejak yang jelas: Manny Maceda pernah jadi CEO global Bain & Company, Dean Aragon jadi CEO Shell Brands International, dan Dado Banatao adalah pionir chip yang ikut membangun fondasi Silicon Valley dengan nilai pasar lebih dari $100 miliar.

Indonesia tidak ada di peta ini. Belum ada CEO Indonesia di Fortune 500. Belum ada representasi signifikan di C-suite global. Yang ada baru level negara: Country Director Google Indonesia, Managing Director Microsoft Indonesia. Perannya penting, tapi bukan pengambil keputusan global.

Di Kelas Kita Juara, di Dunia Kerja Kita Menghilang

Di akademik, murid Indonesia sangat kuat.

Di Cambridge Outstanding Learner Awards, siswa Indonesia langganan Top in the World. Tahun 2026 saja, 24 siswa dari 18 sekolah dapat nilai tertinggi di dunia.

Di tingkat universitas polanya sama. Mischka Keia Aoki diterima di Oxford dan Stanford dengan GPA 4.0, plus UCL, LSE, King's, Warwick. Rayyan Shahab dapat 15 acceptance universitas top di usia 17 tahun. Ayden Victory Haoken dapat beasiswa penuh Harvard, plus Berkeley, Wharton, Purdue. Di World Scholar's Cup, Nadine Kei Inara jadi juara 1 Asia Tenggara dan peringkat 3 dunia.

Jadi pertanyaannya: kalau di kelas kita bisa jadi yang terbaik, kenapa di dunia kerja global kita tidak sampai ke puncak?

Jawabannya bukan soal pintar atau tidak. Jawabannya ada di tiga pipa yang bocor.

Bahasa Inggris: Bukan Soal Grammar, Tapi Soal Kepercayaan Memimpin

Di perusahaan global, bahasa Inggris bukan cuma alat ngobrol. Itu alat untuk memimpin rapat, meyakinkan direksi, dan mengambil keputusan.

Filipina masuk kategori high proficiency di EF English Index. Bahasa Inggris dipakai sehari-hari di kampus dan kantor. India, dengan warisan bahasa Inggrisnya, sudah terbiasa berpikir dan berdebat dalam bahasa Inggris sejak dini.

Indonesia di bawah keduanya. Dampaknya: banyak talenta kita punya ide bagus, tapi tidak terdengar di ruang rapat global. Mereka dipercaya mengerjakan pekerjaan, tapi belum dipercaya memimpin tim global.

Menteri Keuangan Sri Mulyani pernah menyinggung ini secara terbuka. Posisi Vice President di Islamic Development Bank belum pernah diisi Indonesia, padahal kita pemegang saham terbesar ketiga. "Senior management di forum-forum dunia banyak diisi teman-teman dari Pakistan, India," katanya.

Seorang Technical Director di industri teknologi bilang: secara teknis developer Indonesia itu top 5% dunia, setara AS atau Jerman. Tapi teknis cuma menyumbang 20% untuk naik ke level global. Sisanya 80% adalah visibilitas: kemampuan untuk dilihat, didengar, dan dipercaya memimpin.

Diaspora: India Punya Eskalator, Kita Masih Sendiri-Sendiri

India punya jaringan yang sengaja dibangun untuk saling mengangkat: TiE, Indiaspora, alumni IIT/IIM. Jaringannya bukan sekadar kumpul, tapi saling memberi mentor, akses, dan rekomendasi. Dari engineer jadi manajer, jadi direktur, jadi CEO, ada yang narik ke atas.

Filipina punya Commission on Filipinos Overseas dan jaringan seperti Pwrforward yang fokus ke mentoring karier.

Indonesia punya Global Indonesia Professionals' Association dan Indonesian Diaspora Network, tapi masih lebih banyak berfungsi sebagai komunitas sosial, bukan sebagai jaringan sponsorship. Banyak profesional Indonesia di luar negeri berjuang sendiri tanpa mentor dan tanpa akses.

LinkedIn menyebut ini exposure gap. Bukan gap skill, tapi gap kesempatan untuk tampil di depan pengambil keputusan global sejak awal karier.

Pendidikan Kita Jago Mencetak Pelaksana, Belum Pemimpin

Kampus kita kuat di hard skill. Itu kenapa lulusan kita juara di kompetisi akademik.

Tapi hal-hal yang mengubah pelaksana jadi pemimpin - seperti leadership, strategic thinking, negosiasi lintas budaya, komunikasi eksekutif - masih dianggap tambahan, bukan inti.

India punya jalur yang jelas: IIT untuk teknis, IIM untuk manajemen. Riset terhadap 30.000 eksekutif global menunjukkan CEO keturunan India 5x lebih berani ambil risiko terukur, 6x lebih siap hadapi tantangan, dan 3x lebih resilient.

Filipina diuntungkan karena bahasa dan budaya kerjanya lebih nyambung dengan standar Barat.

Lulusan Indonesia? Sering harus belajar ulang cara kerja global dari nol.

Ini Bukan Takdir, Ini Pekerjaan Rumah

Ini bukan soal kita kurang pintar. Ini soal ekosistem yang belum selesai dibangun.

Kalau mau mengubahnya, ada 5 hal yang paling masuk akal:

  1. Masukkan soft skill ke inti kurikulum. Bukan SKS tambahan. Semua jurusan teknik, sains, kedokteran harus dilatih memimpin, berpikir strategis, dan presentasi eksekutif.

  2. Ubah fokus bahasa Inggris. Dari sekadar lulus tes, menjadi English for leadership - mampu memimpin diskusi dan meyakinkan board.

  3. Bangun diaspora sebagai mesin sponsorship. Bukan cuma kumpul-kumpul, tapi ada mentor, ada yang membukakan pintu, ada yang merekomendasikan untuk promosi.

  4. Buat jalur karier yang jelas dari teknis ke manajerial. Dari engineer terbaik menjadi pemimpin bisnis.

  5. Hargai inisiatif, bukan cuma kepatuhan. Budaya kerja yang memberi ruang untuk mengambil keputusan dan mengeksekusi.

Kalau pipanya beres, keunggulan kita di kelas tidak akan berhenti di ruang kelas.