Konten dari Pengguna

Alternatif Kelulusan Tanpa Ujian Nasional: Kuliah, Kerja, atau Berwirausaha?

Slamet Wiyono

Slamet Wiyono

Akademisi Univeritas Harkat Negeri

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Slamet Wiyono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam tiga tahun terakhir, sejak 2021, Ujian Nasional (UN) yang sebelumnya menjadi syarat kelulusan siswa di Indonesia telah dihapuskan. Namun, wacana untuk menerapkan kembali UN muncul setelah Prof. Abdul Mu’ti menjabat sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Indonesia. Sebagai ujian akhir untuk SMA, SMK, dan MA, UN bertujuan untuk memastikan bahwa lulusan memiliki standar kompetensi yang sama dan siap untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi atau memasuki dunia kerja.

Namun kenyataannya, UN sering kali membawa kecemasan yang besar bagi siswa dan orang tua. Bagi banyak siswa, UN terasa seperti ujian penentu hidup, dan rendahnya nilai UN yang diperoleh seolah akan menutup peluang masa depan. Alih-alih belajar untuk memahami materi, siswa cenderung terfokus pada persiapan menghadapi UN. Bahkan, tidak sedikit orang tua yang mengeluarkan biaya tambahan untuk "les" agar anak-anak mereka bisa lulus. Ironisnya, demi memastikan kelulusan, sering kali muncul praktik kecurangan oleh "pihak sekolah" dengan “menyelamatkan” nama baik sekolah atau dinas pendidikan terkait.

Daripada mengembalikan sistem UN, dapat dipertimbangkan sebuah sistem kelulusan yang lebih fleksibel dan berorientasi pada kompetensi serta tujuan pribadi siswa. Dalam sistem ini, kelulusan tidak hanya ditentukan oleh satu “ujian besar”, tetapi berdasarkan pencapaian siswa dalam mencapai tiga pilihan utama: melanjutkan pendidikan tinggi, bekerja, atau membuka usaha.

Sistem ini akan memberikan siswa kebebasan untuk merencanakan masa depan sesuai dengan minat mereka dan mempersiapkan diri dengan cara yang lebih relevan. Mereka yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi dapat fokus pada persiapan akademik, sementara siswa yang ingin bekerja bisa mendapatkan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja. Bagi yang ingin berwirausaha, mereka dapat diberikan bimbingan dalam keterampilan bisnis dasar.

Dengan sistem kelulusan yang lebih fleksibel ini, setiap siswa akan mendapatkan peluang yang sama untuk berkembang sesuai minat dan kemampuannya, tanpa terbebani oleh kecemasan akan satu “ujian besar”.

Sistem Kelulusan Baru yang Fleksibel dan Sesuai Kebutuhan Siswa

Di tingkat SMA, SMK, dan MA, sistem kelulusan sebaiknya didasarkan pada tiga tujuan utama yang bisa ditempuh oleh siswa setelah lulus: melanjutkan ke perguruan tinggi, bekerja, atau memulai usaha. Artinya, siswa yang telah diterima di perguruan tinggi, atau telah mendapatkan pekerjaan, atau mulai menjalankan usaha dapat langsung dinyatakan lulus tanpa perlu adanya Ujian Nasional (UN). Cara ini lebih menghargai minat dan kebutuhan masing-masing siswa, karena siswa dapat lulus sesuai dengan tujuan mereka.

Skema lulus tanpa UN, sumber: Piktochart

Untuk mendukung hal ini, sekolah bisa menyesuaikan program pendidikannya agar membantu siswa mempersiapkan diri dengan keterampilan yang sesuai dengan pilihan mereka. Dengan begitu, siswa akan lebih siap mencapai tujuan mereka, baik itu melanjutkan kuliah, bekerja, atau berwirausaha.

Namun, bagi siswa yang setelah 3 tahun belum mencapai salah satu dari tiga tujuan tersebut, mereka akan diberikan tambahan satu tahun pendidikan sebagai bekal lebih lanjut. Pendidikan tambahan ini akan disesuaikan dengan minat dan kebutuhan mereka—apakah untuk persiapan kuliah, bekerja, atau berwirausaha. Selama satu tahun tersebut, siswa akan mendapatkan bimbingan dan pelatihan khusus yang diadakan melalui kerja sama antara sekolah dan pemerintah daerah.

Dengan program tambahan ini, siswa dari beberapa sekolah yang membutuhkan "pendidikan ekstra" bisa dikumpulkan di pusat pelatihan bersama yang disediakan pemerintah, bukan hanya di sekolah asal mereka. Hal ini juga membantu agar tanggung jawab pendidikan tambahan tidak sepenuhnya dibebankan pada sekolah asal.

Pendidikan Tambahan Satu Tahun Berdasarkan Minat Siswa

Pendidikan tambahan satu tahun diberikan bagi siswa yang "belum lulus", dan akan disesuaikan dengan minat masing-masing siswa.

  1. Bagi siswa yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, pusat pendidikan tambahan menyediakan program persiapan untuk memperkuat kemampuan akademik siswa, termasuk latihan ujian masuk perguruan tinggi.

  2. Bagi siswa yang ingin bekerja, program pelatihan akan fokus pada keterampilan teknis dan kemampuan kerja seperti komunikasi, kerja sama, dan keterampilan khusus sesuai kebutuhan industri. Selain itu, siswa bisa diarahkan untuk magang di perusahaan atau balai latihan kerja (BLK) yang bekerja sama dengan sekolah dan pemerintah daerah, sehingga siswa mendapat pengalaman kerja nyata.

  3. Bagi siswa yang tertarik berwirausaha, pendidikan tambahan bisa berupa pelatihan kewirausahaan, pengelolaan bisnis dasar, dan manajemen keuangan. Program ini bisa dilakukan bekerja sama dengan komunitas wirausaha atau lembaga bisnis, sehingga siswa mendapatkan pengalaman langsung tentang cara memulai usaha.

Manfaat Sistem Kelulusan Berbasis Kompetensi dan Pendidikan Tambahan Satu Tahun

Penerapan sistem kelulusan berbasis kompetensi, ditambah dengan pendidikan tambahan satu tahun, memiliki beberapa manfaat penting.

  • Pertama, mengurangi kecemasan dan tekanan akibat Ujian Nasional (UN), karena siswa tidak lagi dihadapkan pada satu “ujian besar” yang menentukan kelulusan mereka. Siswa dapat fokus pada pengembangan keterampilan yang sesuai dengan minat dan tujuan mereka, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna.

  • Kedua, membantu meningkatkan kesiapan siswa pada jalur yang diinginkan. Siswa akan memiliki keterampilan dan pengalaman yang lebih baik untuk bekerja, berwirausaha, atau melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

  • Ketiga, membantu mengurangi angka pengangguran lulusan SMA, SMK, atau MA. Siswa yang belum mencapai salah satu dari tiga tujuan utama (kuliah, bekerja, atau berwirausaha) setelah 3 tahun sekolah, akan mendapatkan pendidikan tambahan satu tahun untuk mempersiapkan diri lebih matang.

Peran Sekolah, Pemerintah Daerah, dan Balai Latihan Kerja dalam Pendidikan Tambahan Satu Tahun

Untuk menjalankan gagasan ini, peran sekolah, pemerintah daerah, dan balai latihan kerja (BLK) sangat penting.

  • Sekolah bertugas membimbing siswa dalam mengembangkan keterampilan dasar, minat, dan pilihan karier. Sekolah juga sebaiknya menyediakan layanan konseling karier untuk membantu siswa merencanakan masa depan mereka dengan baik, apakah itu kuliah, bekerja, atau memulai usaha.

  • Pemerintah daerah memiliki peran besar dalam mendukung program ini, misalnya dengan menyediakan fasilitas, dana, dan aturan yang mendukung. Pemerintah juga perlu mendirikan pusat-pusat pendidikan tambahan di mana siswa yang belum mencapai tujuan mereka bisa berkumpul dan mendapatkan pelatihan sesuai kebutuhan masing-masing.

  • Balai Latihan Kerja (BLK) dapat memberikan pelatihan keterampilan praktis untuk siswa yang ingin langsung bekerja. BLK bisa bekerja sama dengan industri dan pemerintah agar materi pelatihannya sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja saat ini.

Selain itu, untuk siswa yang ingin berwirausaha, pemerintah dan sekolah bisa bekerja sama dengan komunitas bisnis dan organisasi lokal. Dengan demikian, siswa bisa mendapatkan akses ke mentor atau pelatihan dari para pengusaha yang akan membantu mereka belajar cara memulai usaha.