Petik Laut di Pulau Mandangin, Tradisi Tahunan yang Menjaga Rasa Syukur

Mahasiswa IAI Sunan Kalijogo Malang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari soady Abdulla tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sampang, Madura — Ada hubungan yang begitu dekat antara masyarakat Pulau Mandangin dan laut. Bagi warga yang tinggal di sebuah pulau di Kabupaten Sampang, Madura, laut bukan hanya pemandangan yang terbentang luas di depan mata. Laut menjadi bagian dari kehidupan, tempat mencari rezeki, sekaligus ruang yang menyimpan banyak cerita bagi masyarakat dari generasi ke generasi.
Hubungan tersebut kembali terlihat dalam pelaksanaan Petik Laut yang digelar pada Selasa, 1 September 2026. Kegiatan ini merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Pulau Mandangin setiap satu tahun sekali sebagai bentuk tasyakuran atau selamatan laut.
Petik Laut menjadi salah satu momen yang dinantikan masyarakat. Di tengah kesibukan sehari-hari, warga kembali berkumpul dalam satu kegiatan yang memiliki makna cukup dalam. Bukan hanya tentang sebuah tradisi, tetapi juga tentang rasa syukur atas kehidupan dan rezeki yang selama ini diberikan melalui laut.
Bagi masyarakat Pulau Mandangin, keberadaan laut tidak dapat dipisahkan dari kehidupan mereka. Sebagian masyarakat menjalani aktivitas yang berkaitan langsung dengan laut dan hasilnya. Karena itu, laut memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat, baik dari sisi ekonomi maupun kehidupan sosial dan budaya.
Melalui tradisi Petik Laut, masyarakat menyampaikan rasa syukur atas segala rezeki yang diperoleh selama ini. Kegiatan tersebut juga menjadi bentuk doa dan harapan agar kehidupan masyarakat ke depan senantiasa diberikan keselamatan, keberkahan, serta kemudahan dalam mencari rezeki.
Tradisi ini tidak hanya berbicara mengenai hubungan manusia dengan laut. Di dalamnya juga terdapat hubungan antarmasyarakat. Pelaksanaan Petik Laut menjadi kesempatan bagi warga untuk berkumpul, berinteraksi, dan mempererat tali silaturahmi.
Suasana kebersamaan menjadi salah satu hal yang membuat tradisi ini tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Warga bersama-sama menjaga agar kegiatan yang dilakukan setahun sekali tersebut tetap berjalan dan tidak kehilangan maknanya.
Jika dilihat sekilas, Petik Laut mungkin hanya tampak sebagai kegiatan yang dilakukan satu kali dalam setahun. Namun bagi masyarakat Pulau Mandangin, tradisi tersebut memiliki arti yang lebih luas.
Petik Laut merupakan bagian dari perjalanan kehidupan masyarakat pesisir. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia sangat dekat dengan alam. Laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan juga perlu dihargai dan dijaga.
Nilai tersebut kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya. Anak-anak muda Pulau Mandangin tidak hanya menjadi penonton, tetapi diharapkan dapat memahami bahwa tradisi yang mereka lihat hari ini merupakan bagian dari identitas masyarakat mereka.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, mempertahankan tradisi bukanlah perkara mudah. Banyak kebiasaan masyarakat yang perlahan mulai ditinggalkan karena perubahan gaya hidup. Karena itu, keberadaan Petik Laut menjadi penting sebagai salah satu cara untuk tetap menjaga budaya lokal.
Tradisi tidak harus berhenti pada bentuk kegiatannya saja. Yang lebih penting adalah nilai yang ada di dalamnya tetap dipahami dan diteruskan. Rasa syukur, kebersamaan, gotong royong, silaturahmi, dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi nilai yang membuat Petik Laut tetap relevan sampai sekarang.
