Konten dari Pengguna

Fungsi Lain Post-It yang Pasti Belum Kamu Ketahui

sobrakh

sobrakh

Hidup dalam semesta cengek

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari sobrakh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jika menurut kamu Post-It itu hanya berfungsi sebagai media pengingat belaka, heeeyyy... kamu salah besar, Sembara. Di tangan orang-orang kreatif, kertas warna-warni berperekat ini punya daya guna lebih. Orang-orang kreatif itu tentu saja bukan saya—saya mah apa atuh, hanya seonggok bidadari yang kehilangan tunggangan untuk naik kembali ke kahyangan, kemudian banting setir jadi penjual seblak di kantin SD. Orang-orang kreatif yang dimaksud adalah teman-teman saya.

Lantas, dijadikan apa Post-It itu sama mereka? Tenang, akan saya ceritakan. Tapi sebelumnya, kamu baris yang betul dulu, ya. Rambut rapikan. Kemeja masukkan ke dalam celana atau rok. Jari-jari tangan rentangkan. Nanti kukunya saya periksa satu per satu (ini udah kayak anak SD tahun 90-an pas mau masuk kelas aja).

Jadi begini... berada dalam satu tim dengan para desainer grafis menjadikan profesi kami saling berkaitan—ya iyalah, makannya jadi satu tim juga. Bahkan, kami sering kali tidak bisa dipisahkan. Kalau dalam konteks makan, kami ini ibarat sendok dan piring: saling melengkapi. Kalau hanya ada sendok tapi tidak ada piring, kamu tidak bisa makan (eh, tapi bisa diganti pakai mangkok, ya). Begitu pun kalau hanya ada piring tapi sendok absen, kamu juga akan susah makan (lebih susah kalau tidak ada makanannya, sih) FIXED, SALAH BIKIN PERUMPAMAAN.

Nah, bukan hanya dalam masalah kerja, tapi dalam hal gabut pun kami saling melengkapi. Jika saya senang membaca atau melamun kala gabut, maka para desainer itu lebih senang melakukan kegiatan... ya, tentu saja menggambar. Kalau menjahit, mereka pasti penjahit. Kalau melempar lembing, mereka mungkin atlet. Kalau merampok uang rakyat, sudah pasti mereka koruptor. Eh.

Lalu... lalu... apa yang mereka gambar? Tentu saja ke-gabut-an kami, sist.

Nah (lagi), kegiatan menggambar ke-gabut-an itu mereka lakukan bukan di media-media mainstream, tapi pada Post-It keluaran 3M tadi. Kenapa di sticky notes Post-It dan tidak di media lain? Tembok, misalnya? Yakaleee... mural. Menurut hasil penerawangan saya, alasan utamanya sih karena Post-It itu lucu (lucu ya, bukan humoris), warna-warna kertasnya sangat menggiurkan untuk dibubuhi coretan artsy, gampang dipakai, dan setelah beres digambari bisa langsung ditempel di berbagai medium.

Semacam gambar yang akhirnya ditempel pada folder kertas ini, nih:

Juga di sekitar laci meja ini:

Atau di muka loker ini:

Sayang, saat ini saya sudah terpisah dengan mereka. Dan, hanya gambar-gambar dalam Post-It itu sajalah warisan yang tersisa dari mereka. Duh, jadi sedih. Ingusan, deh.