Gonjang-ganjing Jaran Goyang itu Bernama Demokrasi

Mahasiswa STIH IBLAM Semester akhir juga sebagai pemilik warung rica mr. ceppot
Tulisan dari Affandwi affan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.
Pengertian demokrasi menurut Hans Kelsen adalah pemerintahan oleh rakyat dan untuk rakyat. Yang melaksanakan kekuasaan negara ialah wakil-wakil rakyat yang terpilih. Saat rakyat telah yakin, bahwa segala kehendak dan kepentingannya akan diperhatikan di dalam melaksanakan kekuasaan negara.
Kata “demokrasi” berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Konsep demokrasi menjadi sebuah kata kunci tersendiri dalam bidang ilmu politik. Hal ini menjadi wajar, sebab demokrasi saat ini disebut-sebut sebagai indikator perkembangan politik suatu negara.
Isitilah “demokrasi” berasal dari Yunani Kuno yang diutarakan di Athena pada abad ke-5 SM. Negara tersebut biasanya dianggap sebagai contoh awal dari sebuah sistem yang berhubungan dengan hukum demokrasi modern. Namun, arti dari istilah ini telah berubah sejalan dengan waktu, dan definisi modern telah berevolusi sejak abad ke-18, bersamaan dengan perkembangan sistem “demokrasi” di banyak negara.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa di mata banyak pengamat perpolitikan di Indonesia dan pengamatan asing, demokrasi Indonesia saat ini berada dalam tahap perkembangan yang positif dan layak diapresiasi. Pendapat ini merujuk beberapa realitas politik seperti pelaksanaan pemilukada serentak di tahun 2017 lalu, meski di dalamnya banyak sekali terjadi intrik dan drama berbau sara, fitnah bahkan cenderung membunuh karakter calon tertentu karena perbedaan agama. Akan tetapi banyak sekali yang menganggap wajar dan beranggapan itulah demokrasi.
Disadari atau tidak justru negara ini di dalam ambang batas kekhawatiran, demokrasi yang diagung-agungkan saat ini justru menjadi momok yang menakutkan bagi sebuah persatuan bangsa ini, disadari atau tidak masyarakat bangsa ini seolah menempati ruang yang dikotak-kotakan oleh demokrasi itu sendiri. Bukankah masyarakat Indonesia saat ini sudah sangat cerdas?
Demokrasi pada akhirnya hanya akan membuat gonjang-ganjing di negara ini jika masyarakat itu sendiri tidak faham arti dari demokrasi itu sendiri. Demokrasi pada akhirnya akan menjadi bara di tengah kerumunan keanekaragaman yang dimiliki bangsa ini jika partai politik masih dikotomi dengan berebut kekuasaan di setiap daerah demokrasi itu sedang digelar.
Seolah apapun caranya menjadi halal asalkan kandidat yang dicalonkan mendapat simpati dari masyarakat dan mampu memenangi kontestasi pemilihan pemimpin di tingkat daerah, sungguh sangat ironi..
Tahun ini kembali rakyat akan disuguhkan oleh pesta demokrasi serentak di beberapa wilayah. Baik pemilihan bupati/wali kota, dan pemilihan gubernur.
Saat ini seluruh partai kasak-kusuk mencari dukungan agar bisa berkoalisi dan mencalonkan kandidat yang dipunya, tidak lagi melihat siapa dan bagaimana sosok yang akan dicalonkan. Mahar dan deal-deal politiklah yang menjadi referensi kuat seorang akan dicalonkan.
Siapa sebenarnya yang akan berpesta?
Rakyatkah atau partai politikkah?
Rakyat hanya disuguhi janji-janji saat kampanye, uang bensin dan nasi kotak saat ikut berkampanye, kaos oblong bergambar salah satu calon peserta pemilu, berteriak sekencang kencangnya, berpanas-panas bahkan rela meluangkan waktu dan materi demi sebuah pesta demokrasi, setelah datang ke TPS disuguhi kertas bergambar dan diharuskan memilih. Setelah itu apa? partai politiklah yang akan menikmati kue-kue nan lezat di meja pemimpin terpilih.
Dan rakyat hanya gigit jari, setelah menjadi pelaku drama gonjang-ganjing demokrasi yang hampir memecah-belah persatuan bangsa ini.
Semoga pesta kontestasi pemilihan kepala daerah serentak tahun 2018 ini, tidak lagi menjadikan isu sara sebagai senjata adu domba, tidak lagi fitnah dan hoax menjadi santapan rohani setiap harinya.
Salam Indonesia Satu!!!
Affandwi Affan
