Soe Hok Gie, Kesunyian, dan Keberanian yang Mulai Langka

Human Resource General Affair. Sarjana Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surabaya.
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Ganda Fidi Styawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di sebuah ruang kelas seorang mahasiswa mengangkat tangan dan menyampaikan pendapat yang berbeda dari mayoritas teman-temannya. Seketika ruangan menjadi sunyi. Beberapa orang tersenyum sinis, sebagian lainnya saling berpandangan. Setelah kelas berakhir, tidak ada yang membahas isi argumennya. Yang dibicarakan justru keberaniannya untuk berbeda. Peristiwa seperti itu mungkin terdengar sepele. Namun bagi banyak orang, menjadi satu-satunya suara yang berbeda di tengah keramaian adalah pengalaman yang tidak nyaman. Bahkan menakutkan.

Manusia pada dasarnya ingin diterima. Kita ingin menjadi bagian dari kelompok, mendapatkan pengakuan, dan merasa bahwa keberadaan kita memiliki tempat di tengah orang lain. Karena itulah, tidak sedikit orang yang memilih diam ketika memiliki pandangan berbeda. Bukan karena mereka tidak memiliki pendapat, melainkan karena harga sosial yang harus dibayar terkadang terasa terlalu mahal. Fenomena ini tidak hanya terjadi hari ini. Puluhan tahun lalu, seorang mahasiswa bernama Soe Hok Gie juga hidup di tengah tekanan yang serupa, meskipun dalam konteks yang jauh berbeda.
Gie tumbuh sebagai sosok yang gelisah melihat berbagai ketidakadilan di sekitarnya. Ia menulis, mengkritik, dan mempertanyakan banyak hal yang dianggap biasa oleh orang lain. Yang menarik, keberaniannya tidak hanya muncul ketika berhadapan dengan pihak yang berkuasa. Ia juga berani berbeda pendapat dengan orang-orang yang berada di lingkaran yang sama dengannya. Pilihan itu membuat hidupnya tidak selalu mudah.
Dalam berbagai catatan pribadinya, yang kemudian dikenal melalui Catatan Seorang Demonstran, terlihat seorang anak muda yang tidak hanya marah terhadap keadaan, tetapi juga sering merasa terasing. Ia berada di tengah banyak orang, tetapi tidak selalu merasa menjadi bagian dari keramaian itu.
Di sinilah kisah Gie menjadi menarik jika dilihat dari sudut pandang psikologi. Psikologi sosial menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan kuat untuk menyesuaikan diri dengan kelompok. Kecenderungan ini dikenal sebagai konformitas. Dalam banyak situasi, konformitas membantu kehidupan sosial berjalan lebih mudah. Kita mengikuti aturan lalu lintas, norma masyarakat, dan berbagai kesepakatan bersama agar kehidupan dapat berjalan tertib.
Namun konformitas memiliki sisi lain. Ketika keinginan untuk diterima menjadi terlalu besar, seseorang dapat kehilangan keberanian untuk berpikir secara mandiri. Ia mulai mengatakan apa yang ingin didengar orang lain, bukan apa yang benar-benar ia yakini. Di dunia modern tekanan semacam itu justru terasa semakin kuat.
Media sosial menciptakan ruang di mana setiap orang dapat memberikan penilaian dalam hitungan detik. Sebuah opini dapat memperoleh ribuan dukungan, tetapi juga ribuan kecaman. Tidak sedikit orang yang akhirnya memilih menyembunyikan pandangannya karena takut diserang atau dikucilkan. Perlahan kita belajar untuk mencari pendapat yang aman.
Kita membaca suasana terlebih dahulu sebelum berbicara. Kita mengukur respons lingkungan sebelum menyampaikan apa yang sebenarnya kita pikirkan. Kita lebih takut tidak disukai daripada salah.
Di tengah situasi seperti itu, sosok Soe Hok Gie terasa semakin relevan. Bukan karena semua pendapatnya harus disetujui. Bukan pula karena ia selalu benar. Melainkan karena ia menunjukkan sesuatu yang semakin sulit ditemukan: keberanian untuk tetap jujur pada pikirannya sendiri.
Keberanian seperti itu sering kali tidak terlihat heroik. Tidak selalu hadir dalam bentuk pidato besar atau aksi yang menggemparkan. Kadang keberanian hadir dalam bentuk yang sederhana, seperti mempertahankan pendapat ketika semua orang menginginkan kita untuk mengubahnya. Masalahnya, keberanian semacam itu hampir selalu berjalan berdampingan dengan kesunyian.
Tidak semua orang menyukai mereka yang mempertanyakan keadaan. Tidak semua kelompok nyaman dengan orang yang berpikir berbeda. Karena itu, mereka yang memilih jalan independen sering kali harus menerima konsekuensi berupa kesalahpahaman, penolakan, atau bahkan keterasingan.
Mungkin itulah sebabnya keberanian menjadi sesuatu yang langka. Banyak orang mampu berbicara ketika didukung mayoritas. Banyak orang berani bersuara ketika berada di tengah kerumunan yang sependapat. Namun tidak banyak yang tetap berdiri ketika dukungan itu menghilang.
Soe Hok Gie pernah menunjukkan bahwa menjadi manusia yang berpikir merdeka tidak selalu membawa kenyamanan. Kadang justru sebaliknya. Ia membawa kesepian yang panjang dan pertanyaan yang tidak pernah selesai.
Namun dari kesepian itulah lahir pelajaran yang masih relevan hingga hari ini. Bahwa kebebasan berpikir bukan hanya soal hak untuk berbicara. Kebebasan berpikir adalah keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri ketika dunia menginginkan kita menjadi seperti yang lain.
Di zaman yang semakin ramai oleh opini, mungkin yang paling dibutuhkan bukan lebih banyak suara, melainkan lebih banyak keberanian. Keberanian untuk berpikir sendiri, mempertanyakan yang dianggap wajar, dan menerima kemungkinan bahwa jalan yang benar tidak selalu menjadi jalan yang paling ramai.
Dan barangkali itulah warisan paling berharga yang ditinggalkan oleh Soe Hok Gie. Bukan tentang demonstrasi, bukan tentang politik, melainkan tentang keberanian sederhana yang semakin sulit ditemukan, keberanian untuk berbeda.
