Setahun di kumparan: Menyambung Asa, Menepis Kecemasan

Konten dari Pengguna
10 November 2018 16:22
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Soezono Eben Ezer Sarsum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setahun di kumparan: Menyambung Asa, Menepis Kecemasan (95312)
zoom-in-whitePerbesar
ADVERTISEMENT
Menjadi wartawan kumparan bagi saya sebuah kepuasan. Di sana, saya leluasa bergerak dan berbuat demi dan untuk kemanusiaan.
ADVERTISEMENT
***
Kenapa rupanya kau mau jadi wartawan? Kebahagiaan apa rupanya kau dapat dari wartawan? Berapa rupanya gaji wartawan?
Tiga pertanyaan tersebut menjadi awal pembicaraan saya satu tahun lalu bersama seorang teman di salah satu lapo (kedai) tuak di Cilitan, Jakarta Timur.
Saat itu, kebetulan saya baru saja resmi bergabung dan diterima menjadi seorang reporter di kumparan. Seperti biasanya, kedai tuak adalah wadah berafiliasi para perantau Batak dari lintas kelas dan generasi saling bertemu untuk bercerita, mencari jodoh, hingga mencari kerja.
Tak banyak jawaban yang aku bisa beri, dengan terbata-bata aku jawab dengan singkat, "Ya, ya, yang penting kerja lae," ujarku.
Terus terang, sebagai Freshgraduate nafsu mendapat pekerjaan itu pastilah menggebu-gebu. Ditambah di dalam kebiasaan orang Batak, tamat kuliah pantang minta uang kepada orang tua. Kalau sempat minta, malu kalilah itu dan bisa kupastikan enggak cowok atau cewek lah dia itu.
ADVERTISEMENT
Sedikit kesal dan emosi memang waktu itu, tapi kucoba untuk menahan diri dan emosi. Kala itu aku memang kebingungan menjawab ketiga pertanyaan tersebut.
Kini, setahun sudah saya bekerja dan belajar di kumparan. Dalam perjalanan 12 bulan tersebut, saya akhirnya sadar dan menemukan jawaban dari ketiga pertanyaan berat itu. Sekitar bulan Oktober, saya bertemu kembali dengan temanku tersebut dan dengan lantang aku jawab pertanyaanya.
"KEPUASAN" ini jawaban untuk pertanyaanmu selama ini," ujarku.
"Kenapa?" sahutnya lagi.
"Ya, menjadi seorang wartawan nafsu dan hasrat ingin tahuku selama ini terjawab. Yang tidak kau tahu, tanyakan padaku juga bisa kujawab. Segala hal yang tak pernah kutahu di bangsa ini menjadi aku tahu dan keinginan yang sempat tersirat dalam benak malah menjadi kenyataan. Semua orang bertanya aku bisa jawab dan beritahu, aku puas dan udah memuaskan banyak orang," ujarku.
Eben membersihkan teras markas Korem, tempat dia beristirahat. (Foto: Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Eben membersihkan teras markas Korem, tempat dia beristirahat. (Foto: Istimewa)
"Hari ini aku bebas menulis, menuangkan ide-ide, menyusun kata sesuai fakta dan tentunya berguna bagi pembaca, juga bangsa dan negara, kebenaran itu harus diikhtiarkan bukan didiamkan," timpalku lagi.
ADVERTISEMENT
"Soal kebahagiaan, kepuasan adalah puncak kebahagiaan dan itu tak bisa diukur dengan uang. Perihal gaji bagiku adalah faktor kesekian yang tak bisa diganti dengan kepuasaan dan itu adalah berkat Tuhan yang harus kita syukuri. Kalau soal jumlahnya, berapun jumlah gaji ya kurang, tak ada manusia yang tak butuh uang, tapi kalau kau syukuri kau pasti bisa mengelola dan membatasi," ucapku sedikit berceramah.
Malam itu memang adalah panggung kemenangan bagi saya, tak sedikit pun ia menepis dan malah berbalik memuji. "Iya aku salut samamu lae," balasnya .
Udah cukup puaslah aku ngegas dia, lanjut ke paragraf selanjutnya. Huehehe.
***
Setahun di kumparan faktanya saya bisa menyambungkan asa, bukan hanya untuk keperluan pribadi, bahkan juga untuk keperluan keluarga. Makan dari uang pinjaman hingga memberi pinjaman. Faktanya, saya bisa bertahan hidup di Jakarta dan bisa terbang ke mana-mana dan punya tujuan dan prinsip dalam hidup.
Kantor kumparan dari ketinggian. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Kantor kumparan dari ketinggian. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
Bagi saya, kumparan bukan sekadar soal pekerjaan namun juga tempat belajar. Kenapa saya tambahkan kata belajar? ya, karena di sini memang saya dihajar, dilatih habis-habisan untuk menaklukkan dan menang dalam peperangan--yakni perang kompetisi mendaur kata-kata jadi berita yang sesuai dengan fakta dan berguna bagi pembaca.
ADVERTISEMENT
Terkesan sporadis memang tapi itulah faktanya.
Kendati demikian, selama di kumparan sering kali kekhawatiran terjadi. Ini bukan rahasia umum lagi bagi pekerja media manapun. Jam kerja yang tak teratur, jam istirahat yang amburadul, membuat keluarga dan orang tersayang khawatir. Ironisnya teman juga segan mengajak bergaul. Sok sibuk katanya.
Keluarga begitu khwatir saya jatuh sakit, khwatir semakin kurus hingga khawatir frustasi. Tapi Puji Tuhan, setahun sudah di kumparan saya tak pernah masuk rumah sakit apalagi frustasi.
Sialnya dengan jam kerja demikian, momen-momen penting pun sering terlewatkan hingga tuduhan tak peka dan tak romantis dari si gadis menyasar padaku. "Padahal banting tulang begini untuk kau jua dek, ini modal nikah kita," dalam hatiku.
ADVERTISEMENT
Untunglah aku punya senjata pamungkas merangkai kata yang bisa menenangkan khawatir dan prasangka yang tak sengaja semakin lama makin tajam dilatih para redaktur dan editor saat menulis berita.
Jangan tanya berantam, sering, bahkan tiap malam. Wajar, ditungguin sampai saya pulang giliran di video call saya ketiduran hingga besoknya si boru Sinaga kumat darah tingginya--Risiko jadi wartawan bosku.
Jadi wartawan terkadang juga situasi membuat kita berpenampilan amburadul, pacar hingga teman pura-pura tak kenal.
Puncaknya, apalagi saat bertugas di daerah bencana. Bukan main kalau sudah dalam situasi ini. Orang tua khawatir hingga melarang untuk tidak ikut bertugas, butuh kesabaran untuk meyakinan mereka. Terakhir saat dinas ke Palu (baca: Suka Duka di Balik Liputan 4 Wartawan kumparan di Palu-Donggala), saya harus berdebat alot dengan orang tua dan si gadis, alasannya khawatir dan mereka takut kehilangan.
ADVERTISEMENT
"Udah mak doakan saja, takut kalilah mamak ini macam gak ber-Tuhan, udah tenang aja mamak," ucapku meyakinkan orang tuaku.
Bagi saya itu semua kekhawatiran yang wajar, tapi semakin hari mereka juga akhirnya terbiasa dan paham dengan pola kerjaku yang seperti itu. Berkat doa mereka berkat Tuhan terus mengalir.
Wartawan kumparan, Jamal dan Eben, berada di Palu. (Foto: kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Wartawan kumparan, Jamal dan Eben, berada di Palu. (Foto: kumparan)
Tak hanya berkat bagiku, demikian juga bagi kumparan yang terus melesat menjadi media online tepercaya dan berpengaruh di Indonesia. Terakhir, suka cita besar tengah dirasakan media yang megusung semangat kolaborasi ini. Seluruh wartawan kumparan dinyatakan lulus 100 persen dalam Uji Komptensi Wartawan (UKW) yang digelar Dewan Pers dengan London Public Relation Jakarta.
kumparan itu bagi saya soal sensasi dan rasa. Hari ini saya merasa bangga belajar bersama orang-orang terbaik di bidangnya. kumparan adalah jawaban, itu adalah slogan yang hingga saat ini tetap hidup di tengah-tengah keluarga besar kami.
ADVERTISEMENT
Jawabannya tentu berbeda-beda dari jawaban atas pencarian pekerjaan, jawaban dan solusi atas permasalahan, jawaban atas kekhawatiran dan juga jawaban atas pencarian teman hidup (pacar).
Tak sampai 12 bulan saya benar-benar menemukan jawaban, kumparan mengenalkan saya banyak teman dan kenalan. saya percaya Link is Power dan ini adalah saatnya menggapai mimpi dan terbang tinggi bersama kumparan.

“Jika ingin menjadi pemimpin besar menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.”

- Tjokroaminoto

Saya terngiang kata-kata Tjokroaminoto: “Jika ingin menjadi pemimpin besar menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.”
Wartawan kumparan, Jamal dan Eben, berada di Palu. (Foto: kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Wartawan kumparan, Jamal dan Eben, berada di Palu. (Foto: kumparan)
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020