Konten dari Pengguna

Tradisi Tirakatan: Peringatan Kemerdekaan, Kebersamaan dan Kedekatan dengan Alam

Sofa Faizatin Nabila

Sofa Faizatin Nabila

Mahasiswi Prodi Pendidikan Sejarah Universitas Jember

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sofa Faizatin Nabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap menjelang tanggal 17 Agustus, semarak perayaan kemerdekaan mulai terasa. Selain upacara bendera dan berbagai lomba, ada satu tradisi yang tak kalah penting, yaitu malam tirakatan. Tradisi ini biasanya digelar pada malam 16 Agustus, di mana warga berkumpul untuk merenung dan berdoa bersama. Malam tirakatan berasal dari kata "tirakat," yang berarti prihatin atau menahan diri. Dalam konteks kemerdekaan, tradisi ini menjadi momen untuk mengenang dengan cara mendoakan para pejuang atau pahlawan yang telah berkorban demi meraih kemerdekaan di negeri Indonesia tercinta ini.

Tradisi malam tirakatan sering diadakan di lokasi terbuka seperti lapangan, jalan, kebun, atau pinggir sungai. Salah satunya contohnya di Desa Andongsari Kecamatan Ambulu Kabupaten jember memilih lokasi jalan pertigaan dengan menyatu dibawah pepohonan dan jalan diiringi suara alam yang dapat menciptakan pengalaman spiritual yang lebih mendalam. Hal inilah tentu mengajak para warga untuk merenung dan menyatu dengan lingkungan.

Tradisi Tirakatan di Desa Andongsari Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember. Sumber: Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Tradisi Tirakatan di Desa Andongsari Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember. Sumber: Pribadi

Tidak hanya kedekatan dengan alam namun tradisi yang telah mengkar secara turun temurun ini juga menciptakan suasana kebersamaan atau kedekatan secara otomatis di jiwa masyarakat dan pastinya mengandung makna mendalam di hati masyarakat. Terciptanya gotong royong dengan proses persiapan tirakatan yang melibatkan seluruh warga mulai dari membersihkan lokasi, menyiapkan makanan sederhana (seperti tumpeng atau jajanan pasar).

Ini menunjukkan semangat gotong royong yang masih hidup. Ruang Diskusi dan Silaturahmi menjadi ajang bagi warga dari berbagai usia untuk berkumpul, berdiskusi, dan mempererat tali silaturahmi. Doa Bersama menyoroti momen puncak tirakatan, yaitu saat doa bersama dipanjatkan. Doa ini bukan hanya untuk para pahlawan, tetapi juga untuk kebaikan bangsa dan keutuhan desa.

Dengan berada di alam, jauh dari hiruk-pikuk modern, warga diingatkan untuk menghargai hal-hal esensial dan bersyukur atas kemerdekaan yang diraih. Ini adalah pengingat bahwa kebebasan dan kebahagiaan sejati sering kali ditemukan dalam kesederhanaan. Tirakatan juga menjadi pengingat bagi kita tentang pentingnya menjaga kemerdekaan itu sendiri. Tirakatan bukan hanya sekadar acara peringatan, tetapi memiliki makna yang lebih dalam sebagai simbol kebersamaan warga dan kedekatan dengan alam.