Upacara 17-an Di Desa: Bukan Paskibraka, Ini Kesederhanaan Penuh Makna

Mahasiswi Prodi Pendidikan Sejarah Universitas Jember
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sofa Faizatin Nabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di lapang desa yang masih berembun, kemerdekaan tidak dirayakan dengan seragam rapi atau sepatu mengkilap. Di sini, di Desa Andongsari Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember, kemerdekaan dirayakan dengan apa adanya yakni menggunakan sandal jepit dan baju kerja. Suara kokok ayam yang saling bersahutan menjadi lonceng pagi, mengundang warga untuk berkumpul, bukan di gedung megah, melainkan di hamparan tanah.

Upacara ini dimulai tanpa banyak aba-aba. Para bapak dan ibu datang dengan pakaian yang sama seperti saat mereka ke bekerja,baju lusuh yang sudah memudar, celana yang sedikit kotor, dan tentunya, sandal jepit andalan mereka. Tiang bendera yang terbuat dari bambu sudah tegak berdiri, dengan selembar kain merah putih yang sedikit lusuh, tetapi berkibar dengan gagah di ujungnya.
Momen inti pun tiba. Tokoh masyarakat berdiri sebagai inspektur upacara, pemuda desa sebagai pemimpin upacara dan penggibar bendera bukan dengan gerakan seragam yang sempurna, melainkan dengan hati yang teguh dan penuh rasa hormat. Saat lagu "Indonesia Raya" dilantunkan, suaranya terdengar dari setiap sudut lapang, tidak selalu merdu, tetapi penuh dengan ketulusan yang murni.
Sandal jepit dan baju kerja yang mereka kenakan bukan hanya sekadar pakaian. Keduanya adalah simbol dari kerja keras dan perjuangan sehari-hari mereka. Upacara ini bukan tentang formalitas, melainkan tentang kebersamaan dan rasa memiliki. Di sini, kemerdekaan adalah milik setiap individu, dirayakan bersama-sama sebagai satu kesatuan yang erat. Semangat kemerdekaan tidak diukur dari kemegahan, tetapi dari ketulusan hati. Di balik kesederhanaan upacara di desa ini, terpancar makna kemerdekaan yang sesungguhnya, sebuah perayaan akan persatuan, kerja keras, dan kebebasan yang dirasakan hingga ke relung hati terdalam.
