Konten dari Pengguna

Runtuhkan Stereotipe Masyarakat Melalui Kemenangan Johnny Depp di Persidangan

Sofia Firdausia

Sofia Firdausia

Mahasiswa S1 Fakultas Psikologi Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS)

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sofia Firdausia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aktor Johnny Depp bersaksi selama persidangan pencemaran nama baik terhadap mantan istrinya Amber Heard, di Fairfax County Circuit Courthouse di Fairfax, Virginia, Kamis (21/4/2022). Foto: Jim LO SCALZO/Pool/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Aktor Johnny Depp bersaksi selama persidangan pencemaran nama baik terhadap mantan istrinya Amber Heard, di Fairfax County Circuit Courthouse di Fairfax, Virginia, Kamis (21/4/2022). Foto: Jim LO SCALZO/Pool/AFP

Setelah juri Amerika Serikat telah menemukan adanya tuduhan yang dilakukan oleh Amber Heard, kepada mantan kekasihnya, Johnny Depp, Depp akhirnya memenangkan persidangan kasus pencemaran nama baiknya tersebut pada hari Rabu, 1 Juni 2022. Kasus pasangan aktor dan aktris Hollywood ini menjadi trending topic di berbagai media masyarakat.

Dilansir dari CNBC (1/3/2022), aktris Hollywood, Amber Heard telah terbukti melakukan pencemaran nama baik kepada Depp dengan membuat artikel bahwa Heard merasa telah menjadi korban KDRT dari hubungannya dengan Depp.

Heard menggiring opini publik dengan mengklaim bahwa ia telah mengalami kekerasan, baik verbal maupun fisik selama hubungannya bersama Depp. Selain itu, Heard juga menulis sebuah artikel yang menjadi alasan utama tuntutan pencemaran nama baik Depp.

Pada artikel yang ditulis oleh Heard pada tahun 2018 di The Washington Post yang berjudul “Amber Heard: I spoke up against sexual violence – and faced our culture’s wrath. That has to change”. Meskipun Heard tidak secara eksplisit menyebutkan nama Depp, dalam tulisannya, pengacara Depp mengatakan bahwa tulisan tersebut secara tidak langsung merujuk pada tuntutan yang Heard berikan sebelumnya saat perceraian mereka pada tahun 2016 lalu.

Dalam artikelnya, Heard menyebut Depp sebagai ‘figur publik yang mewakili kekerasan dalam rumah tangga’. Artikel yang ditulis Heard ini kemudian menimbulkan kerugian hingga Depp kehilangan pekerjaannya di berbagai projek film, salah satunya ialah peran ikonisnya sebagai Jack Sparrow di film Pirates of the Carribean. Oleh karena hal tersebut, akhirnya Depp menuntut ganti rugi sebesar 50 juta dollar AS atas pencemaran nama baik yang dilakukan oleh Heard. Tuntutan tersebut Depp ajukan pada Maret 2019.

Dalam gugatan pengadilan pencemaran nama baik yang dilakukan oleh Depp , Heard berusaha menolak tuntutan tersebut dengan memberikan beberapa contoh dugaan kekerasan yang dilakukan oleh Depp kepadanya. Heard mengatakan bahwa selama hubungan pernikahan mereka, Depp telah melakukan berbagai bentuk kekerasan verbal maupun fisik kepada Heard dan menyebut Depp sebagai “Monster”. Heard juga sempat menyertakan foto memar yang ada di wajahnya, dengan mengatakan bahwa Depp telah melemparkan ponsel ke arahnya (21/5/2016) hingga mengenai pipi dan matanya.

Selain itu, artikel yang ditulis oleh Heard juga turut membangun pandangan masyarakat bahwa Depp adalah pihak yang bersalah dan menjadi pelaku KDRT di hubungan pernikahan mereka. Masyarakat memfokuskan pandangan mereka pada opini yang telah disampaikan oleh Heard tanpa melihat klarifikasi dari sisi Depp.

Dari berbagai opini publik yang telah dibangun oleh Heard, akhirnya terbentuklah persepsi publik bahwa Heard merupakan korban KDRT yang dilakukan oleh suaminya, Depp. Persepsi yang terbangun dalam masyarakat, tanpa disadari terdapat distorsi publik yang bergulir dimana masyarakat pada umumnya tidak lagi berusaha untuk melihat dan mencari tahu fakta terlebih dahulu pada sisi Depp. Masyarakat lebih terfokuskan pada opini-opini yang telah dicecar oleh Heard mengenai tuduhan KDRT yang dia alami sebagai seorang istri. Akhirnya, Depp tertuduh menjadi pelaku KDRT dimata publik.

Masyarakat dengan mudah menyimpulkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga selalu dilakukan oleh seorang laki-laki dan perempuan selalu jadi korban. Dalam kasus Depp dan Heard, publik menuduh dan menyalahkan Depp atas tindakan KDRTnya, dikarenakan adanya stereotipe dalam masyarakat bahwa perempuan lah yang selalu menjadi korban dari KDRT.

Dalam psikologi sosial, stereotipe adalah keyakinan tentang karakteristik, atribut, dan perilaku anggota kelompok tertentu. Lebih dari sekedar keyakinan tentang kelompok, stereotipe juga teori tentang bagaimana dan mengapa atribut tertentu berjalan bersama.

Sifat dan tujuan dari teori-teori ini memainkan peran penting dalam menentukan kapan stereotipe ditetapkan dan kapan mereka cenderung berubah (Iih Leyens dkk,, 1992, Oakes & Turner, 1990, Synder & Miene, 1994, Rothbart & Taylor, 1992, Wittenbrink, 1994).

Secara singkat, stererotipe dapat mendorong seseorang untuk menyimpulkan bahwa individu memiliki karakteristik dan kemampuan yang telah diasumsikan dimiliki oleh seluruh anggota dari kelompok individu tersebut (McLeod, 2017).

Kelompok-kelompok pada stereotipe biasanya didasarkan oleh jenis kelamin, identitas gender, ras, dan etnis, umur, status sosioekonomi, bahasa, dan lain-lain.

Laki-laki seringkali dituding sebagai pelaku kekerasan pada kasus KDRT karena laki-laki lebih dianggap sebagai makhluk yang agresif, sedangkan perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah.

Atribut-atribut pada diri laki-laki, seperti maskulin, agresif, dan kuat lebih mendorong masyarakat untuk berpikir bahwa tidak mungkin makhluk lemah seperti perempuan menjadi seorang pelaku perilaku kekerasan.

Dari hal ini, Heard menggunakan stereotipe yang ada di masyarakat, mengingat posisinya pada kasus KDRT ini adalah seorang perempuan.

Pada salah satu rekaman audio Johnny Depp dan Amber Heard yang diputar pada persidangan, Heard mengatakan :

“Tell the world, Johnny, tell them, Johnny Depp- I, Johnny Depp, a man, I’m a victim too of domestic violence”

Selanjutnya, Heard juga menantang Depp dengan mengatakan :

“see how many people believe or side with you”

Heard mengatakan hal tersebut dengan lantang kepada Depp untuk menegaskan akan adanya stereotipe yang ada di masyarakat dunia. Menurut apa yang Heard katakan, dia telah memanfaatkan dan mengambil kesempatan atas stereotipe yang ada di masyarakat, bahwa laki-laki selalu menjadi pelaku KDRT dan perempuan selalu menjadi korban.

Namun, berdasarkan hasil putusan sidang yang dinyatakan pada tanggal 1 Juni 2022, Heard dinyatakan telah melakukan pencemaran nama baik kepada Depp. Mengartikan bahwa Depp bukanlah pelaku KDRT seperti apa yang telah digugat oleh Heard. Dalam persidangan, fakta yang terungkap justru Depp lah yang menjadi korban dari kekerasan yang dilakukan oleh Heard. Kasus ini menjadi sorotan publik karena Depp telah berhasil meruntuhkan stereotipe yang ada di masyarakat, bahwa tidak selalu perempuan yang menjadi korban dalam KDRT, kemenangan Depp di persidangan ini menunjukkan bahwa laki-laki juga bisa menjadi korban dari KDRT.

Setelah memenangkan persidangan, Depp mengunggah curahan hatinya pada akun Instagram pribadinya.

“from the very beginning, the goal of bringing this case was to reveal the truth, regardless of the outcome,”

“speaking the truth was something that I owed to my children and to all those who have remained steadfast in their support of me. I feel at peace knowing I have finally accomplished that.”

“the jury gave me my life back. I am truly humbled.”

Depp merasa sangat berterima kasih atas keputusan yang diambil dalam persidangan mereka dan mengatakan bahwa juri telah berhasil mengembalikan kehidupannya.

Depp mencurahkan isi hatinya ketika dirinya dihujani hujatan-hujatan dari masyarakat hingga ia kehilangan pekerjaannya enam tahun lalu.

Selain itu, Depp juga menuliskan ucapan terima kasih kepada banyak pihak yang telah membantu dan mendukungnya. Pada akhir kata, Depp menuliskan :

“Yang terbaik belum datang dan babak baru akhirnya dimulai. Veritas numquam perit. Kebenaran tidak pernah musnah”.

Referensi :

BBC News. (2022). Depp-Heard trial: Jury sides mostly with Depp in defamation case. https://www.bbc.com/news/world-us-canada-61668780. Diakses pada 5 Juni 2022

Gendered Innovations. https://genderedinnovations.stanford.edu/terms/stereotypes.html. Diakses pada 5 Juni 2022

Hilton, J. L., & Hippel, W. (1996). Stereotypes. Annu. Rev. Psychol. 47: 237-263

Madani, D., Dasrath, D., & Hamedy, S. (2022). Johnny Depp wins defamation suit against Amber Heard. https://www.cnbc.com/2022/06/01/johnny-depp-wins-defamation-suit-against-ex-wife-amber-heard.html. Diakses pada 5 Juni 2022

Mcleod, S. (2017). Sterotypes. https://www.simplypsychology.org/katz-braly.html. Diakses pada 5 Juni 2022

Oakes PJ, Turner JC, (1990). Is limited informational processing capacity the cause of social. Stereotyping?. European Review of social Psychology, ed. W Stroebe, M. Hewstone, 1:112-35, London: Wiley.

Rothbart, M. & Taylor, M. (1992). Category labels and social reality: Do we view social categories as natural kinds? In Language, In interaction and Social Cognition, ed, GR Semin, K. Fiedler, hh. 11-36. London: Sage.

Wittenbrink, B. (1994). Stereotypes as social concepts in a knowledge-based approach to categorization. Tesis PhD. Univ. Mich., Ann Arbor. Hh 113.