Konten dari Pengguna

Cerita Keberagaman dari Pura Penataran Luhur Medang Kamulan di Desa Mondoluku

Sofia Masulah

Sofia Masulah

Mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah Institut Al Azhar Menganti Gresik

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sofia Masulah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi Kunjungan Mahasiswa KKN ISTAZ 2025 bersama Bapak Kadek Sumanila
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Kunjungan Mahasiswa KKN ISTAZ 2025 bersama Bapak Kadek Sumanila

Indonesia merupakan negara multikultural yang kaya akan keberagaman suku, agama, dan budaya, yang semuanya menyatu dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Keberagaman tersebut tidak hanya terlihat di kota-kota besar, tetapi juga hidup dan terpelihara hingga ke tingkat desa. Salah satu potret nyata harmonisasi ini dapat ditemukan di Desa Mondoluku, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik. Desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Mojokerto di sebelah barat ini memiliki sebuah pura yang cukup besar dan dikenal luas, yaitu Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Pura tersebut berdiri di tengah lingkungan masyarakat yang mayoritas beragama Islam, meskipun terdapat sejumlah warga Mondoluku yang memeluk agama Hindu. Keberadaan pura ini tidak hanya menjadi tempat peribadatan, tetapi juga menjadi simbol kerukunan dan toleransi antarumat beragama yang terjaga dengan baik di desa tersebut.

Pada tanggal 09 November 2025, Mahasiswa KKN Institut Al Azhar berkesempatan berkunjung ke pura tersebut dan bertemu langsung dengan Bapak Arya Kadek Sumanila, yang merupakan Jero Sepuh Lanang sekaligus ketua pengurus rumah tangga Pura Penataran Luhur Medang Kamulan. Bapak yang memiliki nama abiseka Romo Sepuh Setya Buana Medang Kamulan ini berasal dari Bali dan saat ini telah menetap di Desa Mondoluku. Beliau merupakan salah satu tokoh yang berjasa dalam perkembangan pura hingga sebesar sekarang. Beliau menjelaskan bahwa pura yang beralamat di Jl. Raya Medang Kamulan No. 9, Dusun Buku, Desa Mondoluku ini telah ada sejak tahun 1980-an. Pada masa awal berdirinya, umat Hindu di desa ini berjumlah sekitar 75 KK. Perubahan demografi dari waktu ke waktu membuat jumlahnya kini menjadi sekitar 13 KK.

Dokumentasi Sharing bersama Bapak Kadek Sumanila

Meskipun berdiri di lingkungan yang mayoritas beragama Islam, kehidupan masyarakat di sekitar Pura Penataran Luhur Medang Kamulan berlangsung dengan damai. Hal ini sejalan dengan penuturan Bapak Kadek yang menyampaikan:

“Selama ini hubungan kita dengan masyarakat sekitar terjaga dengan sangat baik, tidak ada masalah, dan saling menghormati. Warga di sini juga luar biasa toleransinya, karena kami pun tidak memiliki niat untuk memengaruhi apa pun yang ada di lingkungan ini. Dengan demikian, kita dapat hidup berdampingan sesuai keyakinan masing-masing, namun tetap dalam bingkai persaudaraan.”

Salah satu wujud nyata dari harmonisasi tersebut adalah keterlibatan umat Hindu dalam berbagai kegiatan sosial desa. Mereka turut berpartisipasi dalam Ruwah Desa dan Barikan pada perayaan Hari Kemerdekaan, sehingga hubungan antarwarga terjalin tidak hanya melalui sikap saling menghormati, tetapi juga melalui kebersamaan dalam budaya lokal.

Selain menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial, Pura Penataran Luhur Medang Kamulan juga kerap dikunjungi sebagai destinasi wisata budaya. Pura ini sering menjadi lokasi edukasi bagi siswa sekolah yang datang untuk mengenal sejarah dan kebudayaan Hindu. Melalui kegiatan ini, para pelajar memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai keberagaman agama dan tradisi yang ada di Indonesia. Pura ini juga sering dikunjungi umat Hindu dari Bali untuk melakukan persembahyangan maupun mengikuti ritual keagamaan. Untuk mendukung kenyamanan para tamu, pura menyediakan fasilitas seperti kamar mandi, serta penginapan bagi pengunjung dari jauh yang membutuhkan tempat bermalam.