Menjadi Anak Pertama di Keluarga yang Mampu: Tidak Selalu Tentang Uang

Mahasiswa Farmasi Universitas Indonesia Lahir di Yogyakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syofia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Apa sih susahnya jadi kamu? Hidup enak, semua tersedia.”
Kalimat itu pernah kudengar, beberapa kali. Mungkin maksudnya bukan menyindir. Tapi jujur, kadang menyakitkan.
Aku lahir di keluarga yang serba cukup. Orang tuaku bekerja keras sejak muda, dan hasilnya kami hidup dengan nyaman. Punya rumah sendiri, sekolah di tempat terbaik, bisa liburan setiap tahun. Tapi jadi anak pertama, bahkan di keluarga yang tidak kekurangan, tetap datang dengan peran yang tidak ringan.
Sejak kecil, aku terbiasa jadi yang “baik-baik saja”. Nilai harus bagus, sikap harus sopan, dan engga boleh bikin malu. Bukan karena orang tuaku galak, tapi mereka justru sangat suportif karena aku tahu betapa kerasnya mereka membangun semua yang kami punya. Aku tidak ingin mengecewakan.
Sebagai anak pertama, aku juga jadi tolok ukur. Apa pun yang kulakukan, secara tidak langsung akan jadi standar untuk adik-adikku. Dan itu sangat berat. Bukan karena aku tidak sanggup, tapi karena aku merasa tidak boleh gagal.
Aku harus sukses, atau setidaknya terlihat seperti itu.
Orang tua tidak pernah memaksaku untuk menjadi pengganti mereka, tapi entah kenapa, dari kecil aku sudah merasa itu tugas yang tertulis diam-diam di punggungku. Jadi perantara saat ada masalah keluarga, jadi penengah saat adik bertengkar, bahkan sering jadi tempat cerita mama saat ia lelah.
Aku bukan kepala rumah tangga. Tapi kadang, rasanya aku menyandang sebagian bebannya.
Dan karena keluarga kami cukup berada, aku merasa tidak punya “alasan” untuk mengeluh. Saat lelah, aku bilang ke diri sendiri, "Malu, kamu kan nggak kekurangan." Tapi justru karena itu, aku sering menekan perasaanku sendiri.
Sampai satu titik aku sadar bahwa perasaan tidak pernah bisa dibandingkan dengan keadaan finansial.
Lucunya, meskipun sering dipercaya memegang kendali, dalam hati aku juga ingin dimengerti. Ingin dibilang “nggak apa-apa gagal sekali-sekali.” Ingin dimanja, seperti dulu sebelum jadi kakak.
Tapi menjadi
Padahal, tidak selamanya kuat itu pilihan. Kadang hanya satu-satunya cara bertahan.
Meski begitu, aku tidak menyesali peranku. Justru, semua itu membentukku. Aku belajar bagaimana mendengar sebelum bicara, mengalah tanpa merasa kalah, dan mencintai orang lain tanpa banyak syarat.
Menjadi anak pertama mengajarkanku bertanggung jawab, bukan karena diminta, tapi karena tahu bahwa kehadiranku berpengaruh. Di keluarga kami, bukan hanya uang yang diwariskan, tapi juga nilai. Aku juga ingin meneruskan itu ke adik-adikku.
Aku tidak selalu tahu jawabannya, tidak selalu tampil sempurna. Tapi aku belajar mengakui bahwa bahkan anak pertama pun butuh waktu untuk memahami dirinya sendiri.
Tidak apa-apa merasa lelah, merasa bingung, dan merasa iri sesekali. Karena menjadi anak pertama bukan soal siapa paling tua. Tapi tentang siapa yang lebih dulu belajar jadi dewasa, bahkan sebelum waktunya.
