Konten dari Pengguna

Budaya ''Titip Absen'' Mahasiswa dan Makna Kehadiran di Bangku Kuliah

Sofie Arsita

Sofie Arsita

Mahasiswi Ilmu Komunikasi dan Desain Universitas Pamulang

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sofie Arsita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi praktik absensi perkuliahan by Chat GPT
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi praktik absensi perkuliahan by Chat GPT

Di lingkungan perkuliahan, kehadiran sering dianggap sebagai salah satu indikator partisipasi mahasiswa dalam proses belajar. Namun, di balik aturan tersebut, terdapat fenomena yang cukup familiar dan telah lama menjadi bagian dari kehidupan kampus, yaitu budaya "titip absen". Praktik ini terjadi ketika seorang mahasiswa meminta temannya untuk mencatat atau mengonfirmasi kehadirannya meskipun ia sebenarnya tidak berada di kelas.

Bagi sebagian mahasiswa, titip absen mungkin dianggap sebagai bentuk solidaritas pertemanan. Membantu teman yang terlambat, memiliki urusan mendadak, atau sedang mengalami kendala tertentu sering kali dipandang sebagai tindakan yang wajar. Namun, jika dilihat lebih jauh, fenomena ini menghadirkan pertanyaan mengenai makna kehadiran itu sendiri dalam dunia pendidikan.

Kehadiran di kelas pada dasarnya bukan sekadar persoalan angka dalam daftar absensi. Kehadiran juga mencerminkan keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran. Saat seseorang hadir secara fisik maupun mental, ia memiliki kesempatan untuk berdiskusi, bertanya, dan memahami materi secara langsung. Sebaliknya, ketika absensi menjadi tujuan utama, proses belajar dapat kehilangan maknanya.

Fenomena titip absen juga menunjukkan adanya perbedaan antara kepatuhan terhadap aturan dan kepatuhan terhadap nilai. Seseorang mungkin berhasil memenuhi persyaratan administrasi kehadiran, tetapi belum tentu menjalankan tanggung jawab sebagai peserta pembelajaran. Dalam situasi ini, yang dipenuhi hanyalah formalitas, bukan esensi dari pendidikan itu sendiri.

Di sisi lain, budaya titip absen dapat bertahan karena dianggap sebagai hal yang biasa. Ketika sebuah perilaku dilakukan berulang kali oleh banyak orang, perilaku tersebut perlahan menjadi norma yang diterima dalam kelompok. Akibatnya, mahasiswa yang menolak praktik tersebut justru terkadang dianggap kurang solidaritas terhadap teman-temannya.

Padahal, solidaritas tidak harus diwujudkan melalui tindakan yang melanggar aturan. Dukungan kepada teman dapat diberikan dalam bentuk lain, seperti membantu menjelaskan materi yang tertinggal atau berbagi catatan kuliah. Dengan cara tersebut, nilai kebersamaan tetap terjaga tanpa mengabaikan tanggung jawab akademik.

Pada akhirnya, fenomena titip absen bukan hanya tentang hadir atau tidak hadir di kelas. Fenomena ini mengajak kita untuk kembali mempertanyakan tujuan utama pendidikan. Apakah kehadiran hanya sebatas tanda centang dalam daftar absensi, ataukah merupakan bentuk komitmen untuk terlibat dalam proses belajar yang sesungguhnya? Pertanyaan tersebut menjadi refleksi penting bagi mahasiswa dalam memaknai perannya di dunia akademik.