Benarkah Memberi Pujian ke Anak Berbahaya? Ini Penjelasannya

Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sofie Utami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jika kalian adalah orang tua atau sosok guru yang kerap memuji keberhasilan anak, artikel ini adalah bacaan yang tepat untuk memberikan perspektif baru tentang efek dari hal tersebut.
“Wah, Kamu keren banget, Nak.”
“Anak mama hebat banget sih.”
“Kerja bagus, Nak.”
Kurang lebih, begitulah ungkapan pujian yang kerap terucap dari orang tua kepada anaknya ketika mereka berhasil melakukan sesuatu yang pantas dipuji.
Membangun harga diri dan memunculkan rasa percaya diri anak adalah maksud utama mengapa orang tua memuji mereka. Alih-alih memunculkan rasa percaya diri, hal ini justru akan meningkatkan kecemasan dan melemahkan kepercayaan diri anak pada akhirnya. Mengapa bisa begitu? mari kita kupas dengan lebih dalam terkait efek pemberian pujian pada anak
Bukankah memuji anak adalah hal yang baik untuk meningkatkan rasa percaya dirinya?
Jangankan anak-anak, sebagai orang dewasa kitapun senang jika mendapatkan pujian dari orang lain. Sejatinya, sebagai manusia normal kita membutuhkan validasi yang terbukti dapat meningkatkan harga diri juga kepercayaan diri. Memuji anak itu boleh, namun harus dengan cara yang tepat.
Cara kita memuji anak akan memberi pengaruh yang sangat kuat terhadap perkembangan mereka.
Sebuah penelitian oleh Psikolog Carol Dweck dan rekannya membandingkan anak yang dipuji atas keberhasilan mereka dengan anak yang dipuji atas usaha mereka. Hasilnya, ditemukan bahwa anak-anak yang dipuji karena keberhasilan jadi selalu berfokus kepada hasil, sehingga ketika suatu hari anak itu mengalami kegagalan, ia akan mengaitkan kegagalan itu dengan ketidakmampuannya. Secara otomatis, hal itu juga akan berpengaruh terhadap menurunnya harga diri dan kepercayaan diri mereka.
Dweck mengungkapkan bahwa memuji anak atas keberhasilannya akan membuat mereka takut dengan kesulitan karena mereka mulai menyamakan kegagalan dengan kebodohan.
Dari penemuan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa memuji anak atas usaha dan kerja kerasnya akan lebih baik dibandingkan karena keberhasilannya.
Bagaimana cara menghargai keberhasilan anak dengan tepat?
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, memuji anak atas usahanya akan jauh lebih baik. Seorang Psikolog anak, Kenneth Barish mengemukakan bahwa memuji kecerdasan anak akan menumbuhkan pola pikir tetap sedangkan memuji usaha anak akan mendorong pola pikir berkembang.
Anak dengan pola pikir tetap cenderung menghindari tantangan, serta merasa cemas dan takut ketika menghadapi kegagalan, sebaliknya anak dengan pola pikir berkembang akan menganggap kegagalan adalah sebuah kesempatan untuk kembali belajar.
Dikutip dari Psychology Today, memuji anak yang baik itu adalah dengan cara memuji usahanya secara spesifik. Misalnya ketika anak mendapatkan nilai sempurna dalam ujiannya, orang tua bisa mengatakan “Kamu sudah bekerja keras sekali untuk mempersiapkan ujian ini.”
Alternatif lain selain pujian ialah ajukan pertanyaan kepada anak tentang apa yang mereka pikirkan dan rasakan terkait pencapaian mereka. Misalnya ketika anak menyelesaikan penampilannya pada acara pentas seni sekolah, coba tanyakan bagaimana perasaan mereka dan apa yang paling mereka nikmati dari penampilan itu. Dengan begini, anak akan mendapat kesempatan untuk mengungkapkan perasaan atas pencapaiannya dan menghargai usaha mereka sendiri.
Jim Taylor dalam Psychology Today menekankan jika anak dapat menyadari usaha dan pencapaian mereka sendiri, mereka akan belajar menjadi pribadi yang tangguh, tidak haus pujian serta bergantung pada orang tua atau gurunya.
Kesimpulan
Memuji anak atas keberhasilannya bukanlah suatu larangan. Kita harus sadar bahwa bagaimana cara kita memuji mereka akan sangat berpengaruh pada proses perkembangannya. Maka dari itu memuji dengan beberapa cara seperti yang telah diungkapkan oleh para ahli di atas adalah sebuah pilihan yang dapat diambil oleh kita sebagai orang tua dalam memuji keberhasilan anak.
Referensi:
Taylor, J. (2009, September 3). Parenting: Don’t praise your children! The Power of Prime. Psychology Today. Diakses dari https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-power-of-prime/200909/parenting-dont-praise-your-children
Barish, K. (n.d.). Are our children overpraised? Child Mind Institute. Diakses dari https://childmind.org/article/are-our-children-overpraised/
