Konten dari Pengguna

Masa Depan Koleksi Ilmiah: Tantangan Besar BRIN?

Sofian Nasution

Sofian Nasution

Pegawai Negeri Sipil di Badan Riset dan Inovasi Nasional,

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sofian Nasution tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengapa penting mengangkat data koleksi ilmiah? Sebagai masyarakat umum, kita kerap disuguhkan berbagai berita, baik cetak maupun daring, tentang penemuan-penemuan baru. Misalnya, penemuan jenis tumbuhan baru, jenis bakteri atau virus yang sedang mewabah di beberapa wilayah Indonesia, hingga berita tentang ditemukannya bagian-bagian situs bersejarah di berbagai daerah.,

Merupakan suatu kebanggaan ketika koleksi-koleksi ilmiah tersebut berasal dari wilayah kita sendiri. Kekayaan alam Indonesia tidak hanya berupa pulau, danau, daratan, dan laut, tetapi juga mencakup keanekaragaman hayati yang sangat potensial untuk dieksplorasi. Keanekaragaman ini bahkan mampu menarik perhatian para ilmuwan untuk datang dan meneliti lebih lanjut.

Sayangnya, hasil-hasil eksplorasi tersebut sering kali tidak memiliki keberlanjutan setelah dipublikasikan. Informasi yang semula menjadi sorotan justru cepat tenggelam, sehingga eksplorasi ilmiah hanya meninggalkan euforia sesaat. Contohnya adalah penemuan “Situs Gunung Padang” yang sempat menjadi perbincangan nasional. Selama berbulan-bulan, situs tersebut diliput secara intensif, bahkan dianggap sebagai penemuan arkeologis terbesar setelah Candi Borobudur di Jawa Tengah. Situs ini juga dikaitkan dengan berbagai peristiwa masa lampau. Namun, seiring berjalannya waktu, pemberitaan tersebut perlahan meredup, karena data dan informasinya tidak disampaikan secara berkelanjutan kepada masyarakat.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat ini mendapat amanat untuk menyimpan dan merawat koleksi-koleksi ilmiah karena lembaga ini memiliki fungsi riset yang berkelanjutan. Objek-objek koleksi ilmiah yang telah dikumpulkan dan dikelompokkan berdasarkan jenisnya — seperti tumbuhan hidup, fauna, herbarium, biji-bijian, batuan, manuskrip, dan mineral — diharapkan dapat menjadi sumber informasi mengenai keragaman hayati yang dimiliki Indonesia. Para ilmuwan BRIN sendiri telah banyak terlibat dalam kegiatan eksplorasi keragaman hayati, termasuk penemuan jenis tumbuhan baru yang memiliki spesies berbeda dan tersebar di wilayah-wilayah tertentu di Indonesia. Wilayah tersebut memiliki karakteristik yang beragam, seperti ketinggian, kelembaban, dan tingkat kekeringan yang berbeda. Tidak hanya itu, beberapa ilmuwan juga turut serta dalam eksplorasi benda-benda bersejarah yang ditemukan di suatu kecamatan. Hasil eksplorasi tersebut menunjukkan bahwa objek serupa juga dapat ditemukan di berbagai wilayah lain di Indonesia — misalnya di wilayah A, B, dan C. Penemuan-penemuan ini diharapkan dapat membentuk narasi yang utuh mengenai apa yang terjadi di masa lampau.

Apakah kita masih sering mendapatkan informasi tentang penyebab kelainan genetika pada manusia, tumbuhan, atau hewan? Apakah kita masih dapat mengetahui jenis-jenis virus dan bakteri yang masih beredar luas di masyarakat beserta kategorinya? Saat ini, yang sering disajikan hanyalah informasi mengenai akibat yang ditimbulkan oleh virus atau bakteri, tanpa disertai penjelasan apakah mikroorganisme tersebut telah mengalami metamorfosis menjadi berbagai varian, termasuk varian dengan tingkat bahaya yang lebih tinggi ketika menginfeksi tubuh manusia.

Padahal, penting bagi kita untuk memahami bagaimana proses metamorfosis tersebut terjadi. Data ilmiah seperti ini seharusnya dapat dihimpun dan dikelola oleh BRIN. Sebagai lembaga riset nasional, BRIN memiliki peran penting dalam menyimpan dan merawat koleksi-koleksi ilmiah tersebut. Namun sayangnya, alih-alih mendapatkan informasi yang membanggakan terkait kekayaan koleksi ilmiah, lembaga ini sempat mendapat sorotan negatif pada masa awal pembentukannya. BRIN dianggap sembrono dalam mengelola aset koleksi ilmiah; beberapa laporan menyebutkan adanya kerusakan pada koleksi yang telah tersimpan dan belum terdatanya secara baik sejumlah objek prasejarah hasil eksplorasi.

Harapan besar masyarakat terhadap BRIN adalah agar lembaga ini mampu memberikan edukasi publik melalui koleksi-koleksi keanekaragaman hayati yang dimilikinya. Dengan demikian, masyarakat dapat mengetahui jenis-jenis koleksi ilmiah yang ada di Indonesia. Selain mengeksplorasi kekayaan alam, Indonesia juga memiliki potensi besar dalam menemukan objek-objek ilmiah baru, termasuk spesies-spesies yang belum teridentifikasi, sehingga dapat memperkaya khazanah koleksi ilmiah nasional.

Sayangnya, hingga saat ini BRIN belum memublikasikan koleksi-koleksi hayati yang telah terkumpul dari hasil penggabungan berbagai unit penelitian dan pengembangan dari beberapa kementerian dan lembaga. Misalnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional memiliki balai-balai arkeologi yang telah mengumpulkan banyak koleksi benda prasejarah dan sejarah. Lembaga Eijkman memiliki koleksi biologi molekuler yang sangat penting dalam mendukung riset penanganan virus dan upaya penanggulangannya. Ada juga koleksi bebatuan yang sebelumnya dikumpulkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Sepengetahuan penulis, BRIN lebih banyak melakukan edukasi secara mandiri hanya ketika ada permintaan dari pihak tertentu, seperti perguruan tinggi atau sekolah.

Gambar 1. Salah satu koleksi ilmiah fosil sisa jasad manusia yang telah mengalami proses pelapukan atau mineralisasi (pembatuan) dalam jangka waktu lama, yang berada di Gedung Kehati, KST Soekarno, BRIN.

Namun, untuk memperkenalkan koleksi-koleksi hayatinya secara lebih luas dan global, BRIN masih belum memiliki strategi nilai jual atau media komunikasi yang kuat. Akibatnya, masyarakat belum mendapatkan edukasi yang memadai. Jika suatu saat ditemukan jenis tumbuhan, makhluk hidup langka, atau benda sejarah di lingkungan sekitar mereka, masyarakat bisa saja tidak memahami nilai pentingnya. Bahkan, masyarakat cenderung merasa takut ketika mendengar kabar kemunculan varian baru virus atau bakteri yang mematikan, seperti virus HMPV yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut. Harapan besar tertuju pada BRIN agar segera menyusun suatu media atau platform edukasi publik yang mampu memperkenalkan koleksi-koleksi hayati yang dimiliki. Saat ini, proses edukasi masyarakat sebenarnya lebih mudah dilakukan dibandingkan masa lalu, berkat hadirnya internet, media elektronik, media sosial, serta perangkat teknologi lainnya yang memungkinkan penyebaran informasi secara cepat dan luas.

Informasi cepat memang penting, tetapi keakuratan data dan bukti pendukung merupakan tanggung jawab Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Melalui lembaga ini, pertanyaan-pertanyaan sederhana mengenai koleksi ilmiah dan mutu riset dapat dijawab secara valid. Informasi yang akurat ini berpotensi menyebar secara organik melalui komunikasi publik, memperkuat peran BRIN dalam pembangunan nasional.

Dengan tersedianya informasi koleksi ilmiah yang terbuka, diharapkan generasi muda semakin terdorong untuk terlibat dalam kegiatan eksplorasi ilmiah, baik di jenjang pendidikan dasar, menengah, maupun tinggi. BRIN perlu menyediakan informasi yang sahih dan mudah diakses untuk mendukung proses pendidikan serta menyiapkan kader-kader eksplorasi ilmiah di masa depan.

BRIN juga diharapkan dapat berperan aktif dalam mengamankan aset-aset penemuan bersejarah, agar tidak hilang atau disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab demi keuntungan pribadi atau kelompok tertentu.

Indonesia, dengan ribuan pulaunya dan wilayah bahari yang luas dari Sabang sampai Merauke, menyimpan kekayaan alam hayati yang sangat besar. Potensi ini hanya dapat dieksplorasi secara bijak dengan tetap menghormati kearifan lokal dan budaya setempat. Setiap penemuan ilmiah akan membawa nilai baru jika disertai pemahaman mendalam terhadap konteks budaya dan sejarah.

Teknologi tidak mungkin maju tanpa sejarah. Sejarah bukanlah sekadar hal kuno, melainkan jejak proses yang masih relevan hingga kini dan terus berkembang. Kita tidak akan memahami masa kini jika generasi terdahulu tidak mencatat pengetahuan dan pengalamannya. Maka, koleksi ilmiah berfungsi bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi juga sebagai dasar dalam merumuskan solusi masa depan—tanpa memandang siapa penemunya, dari golongan, agama, atau suku apa.