Konten dari Pengguna

AI dalam Pembelajaran: Ketika Siswa SMA Mengubah Luka Menjadi Karya Sastra

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Sofyan Firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siswa diajak mengenal emosi melalui ekspresi wajah. Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Siswa diajak mengenal emosi melalui ekspresi wajah. Dok. Istimewa

Penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran semakin banyak diterapkan di berbagai sekolah di Indonesia. Sayangnya, masih banyak yang memandang AI hanya sebagai alat untuk mencari jawaban instan atau bahkan mencontek tugas. Padahal, jika dimanfaatkan secara tepat, AI dapat menjadi media yang membantu siswa belajar, berpikir kreatif, sekaligus mengekspresikan emosi secara sehat.

Pengalaman di SMA Negeri 2 Tegal menunjukkan bahwa jawabannya tidak selalu demikian. Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dikembangkan oleh tim dosen Universitas Harkat Negeri, AI justru dimanfaatkan sebagai teman berdialog dalam proses menulis kreatif. Program bertajuk AI-Augmented Narrative Writing ini mengajak siswa mengubah pengalaman emosional mereka menjadi puisi dan prosa berbahasa Inggris dengan tetap mempertahankan keaslian ide sebagai penulis.

Kegiatan ini berangkat dari kenyataan bahwa banyak remaja mengalami tekanan akademik, kecemasan, maupun kesulitan mengungkapkan perasaan. Di sisi lain, menulis dalam bahasa Inggris sering kali menjadi sumber kecemasan tersendiri karena keterbatasan kosakata dan rasa takut melakukan kesalahan. Akibatnya, banyak siswa memilih diam atau mencari jalan pintas melalui AI tanpa benar-benar belajar.

Dalam program ini, siswa tidak diminta meminta AI menuliskan cerita mereka. Sebaliknya, mereka diajak terlebih dahulu mengenali emosi melalui pendekatan Honest Mapping, kemudian menyusun ide pokok cerita berdasarkan pengalaman pribadi. Setelah itu, AI digunakan untuk membantu memperkaya pilihan kata, metafora, maupun gaya bahasa sehingga tulisan tetap menjadi milik siswa, bukan hasil karya mesin.

Siswa melakukan penerjemahan kondisi emosi mereka mejadi metafora dengan bantuan AI. Dok. Istimewa

Pendekatan tersebut memberikan pengalaman baru bagi peserta. Mereka menyadari bahwa AI dapat menjadi alat belajar yang mendorong kreativitas, bukan menggantikannya. Selama proses pendampingan, siswa belajar menyusun prompt yang efektif, memilih hasil yang paling sesuai dengan gagasan mereka, serta melakukan penyuntingan secara mandiri. Dengan demikian, proses berpikir kreatif tetap berada di tangan penulis.

Dampak kegiatan ini cukup menggembirakan. Evaluasi program menunjukkan adanya penurunan tingkat distres emosional sebesar 54,4 persen, penurunan kecemasan menulis bahasa Inggris sebesar 58,9 persen, serta peningkatan literasi penggunaan AI melalui teknik prompting sebesar 8,8 persen. Sebanyak 26 siswa juga berhasil menghasilkan karya puisi dan prosa berbahasa Inggris yang kemudian diterbitkan dalam e-antologi berjudul Story-Healing: Unvoicing the Unspoken.

Guru Bimbingan Konseling SMA Negeri 2 Tegal, Bagus Okta, menilai pendekatan yang digunakan dalam program ini memberikan alternatif baru bagi sekolah dalam mendampingi perkembangan emosional siswa. Menurutnya, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan justru membuat proses pendampingan terasa lebih menarik dan dekat dengan kehidupan remaja saat ini. "Kegiatan pelatihan ini sangat baik sehingga siswa memiliki media pelampiasan emosi yang terarah dan tidak membosankan karena menggunakan teknologi kecerdasan buatan," ujarnya.

Senada dengan itu, Ahmad Fadil, Ketua Program Studi S1 Psikologi Universitas Harkat Negeri, menyampaikan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah menjadi sarana untuk menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. *"Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menjadi salah satu cara agar pendidikan dapat berdampak kepada masyarakat,"* ungkapnya.

Lebih dari sekadar menghasilkan buku, program ini membuktikan bahwa menulis dapat menjadi media katarsis yang sehat bagi remaja. Ketika siswa diberikan ruang untuk bercerita, mereka tidak hanya belajar bahasa Inggris, tetapi juga belajar memahami diri sendiri, mengelola emosi, dan menghargai pengalaman hidup sebagai sumber inspirasi.

Di era AI saat ini, tantangan pendidikan bukan lagi melarang penggunaan teknologi, melainkan mengajarkan cara memanfaatkannya secara bertanggung jawab. AI seharusnya menjadi alat yang memperkuat kemampuan manusia untuk berpikir, berkreasi, dan berempati, bukan menggantikan proses tersebut.

Pengalaman di SMA Negeri 2 Tegal memberikan pelajaran penting bahwa pendidikan, teknologi, dan kesehatan mental tidak perlu dipertentangkan. Ketika dipadukan melalui pendekatan yang tepat, ketiganya justru dapat melahirkan ruang belajar yang lebih manusiawi sekaligus relevan dengan kebutuhan generasi muda. Pada akhirnya, yang perlu kita bangun bukanlah ketakutan terhadap AI, melainkan budaya belajar yang tetap menempatkan kreativitas dan nilai kemanusiaan sebagai pusat dari setiap proses pendidikan.