Dikendalikan, Dipandu, atau Penakluk Algoritma: Yang Manakah Anda?

Soleh Hasan Wahid is currently working as a Lecturer of Islamic Law and Economics at the Sharia Faculty, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. He is the Secretary of the Internal Audit Department of IAIN Ponorogo.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Soleh Hasan Wahid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemarin, artikel saya di kumparan (17/08/2025) sempat menjelaskan soal bagaimana algoritma secara sabar dan konsisten mendidik generasi kita. Ia memiliki jam dan intensitas interaksi lebih tinggi jika dibandingkan dengan pendidik di ruang kelas. Ia cukup berhasil membentuk kebiasaan, menanamkan standar, dan menggeser makna nilai maupun aturan.
Kali ini, saya ingin bercerita soal argumen menarik dari Yuval Noah Harari yang beberapa waktu lalu saya temukan, sehingga mau tidak mau saya perlu melanjutkan tulisan ini. Harari, dengan lugas, menyatakan bahwa “in a world flooded with irrelevant information, clarity is power.”
Dengan kata lain ia ingin membuka mata kita bahwa banjir informasi sering membuat kita bingung, bingung antara yang benar dengan apa yang merupakan pembenaran. Ia juga sempat mengisahkan dalam buku "Homo Deus" bahwa informasi dalam beberapa kasus juga bisa menjadi alat kuasa, siapa yang bisa menyaring, mengarahkan, dan membungkam informasi, dialah yang mengendalikan realitas kolektif.
Atas kutipan tersebut, tampaknya sudah saatnya kita melakukan refleksi diri. Sebab, di tengah arus informasi hari ini, kita sering menjelma menjadi tiga macam sosok. Pertama sosok yang dikendalikan oleh algoritma,ia sering membuat realitas bergeser dan membingungkan, sampai-sampai kita kesulitan membedakan mana kebenaran dan mana pembenaran.
Kedua, sosok yang dipandu algoritma atau golongan penikmat rekomendasi algoritma, sistem ini kadang menuntun ke jalan yang benar, kadang juga menyesatkan; dan ketiga sosok penakluk algortima, dengan ciri berupa kesadaran penuh menempatkan algoritma sebagai alat yang kita kelola sesuai tujuan kita. Supaya lebih jelas, mari kita bedah bagaimana ketiga sosok ini bisa lahir di tengah arus digital ini.
Contoh pertama, beberapa tahun lalu, jagat digital ramai oleh kasus Cambridge Analytica. Perusahaan ini mengambil data puluhan juta akun Facebook lewat sebuah aplikasi kuis bernama This Is Your Digital Life, yang dikembangkan oleh Aleksandr Kogan. Investigasi The Guardian dan The New York Times pada 2018 mengungkap bahwa sekitar 50 juta akun terekspos, dan Facebook kemudian memperkirakan jumlahnya bisa mencapai 87 juta akun. Aplikasi itu meraup informasi dari pengguna yang ikut kuis dan termasuk juga daftar teman mereka, sehingga jejak digital orang-orang terkumpul tanpa izin dari pengguna.
Data yang terkumpul kemudian dipakai untuk membuat pesan politik yang sangat personal: ada kelompok yang dibombardir isu imigrasi, ada yang diyakinkan dengan janji ekonomi, ada pula yang dipanaskan emosinya dengan isu keamanan. Strategi ini dikenal sebagai psychographic targeting, di mana setiap orang dipetakan menurut kerentanan psikologisnya.
Pada pemilu Amerika Serikat 2016 dan referendum Brexit, jutaan orang merasa sedang membuat pilihan secara bebas dan merdeka, padahal layar mereka sudah diarahkan lewat algoritma yang tertanam di gawai-gawai mereka. Kasus ini menunjukkan betapa algoritma bisa mengendalikan arus informasi, hingga batas antara kebenaran dan pembenaran semakin kabur.
Kalau kasus Cambridge Analytica memperlihatkan tentang bagaimana manusia bisa dikendalikan algoritma, maka situasi “dipandu” algoritma sebenarnya lebih mudah kita temui di kehidupan sehari-hari. Spotify lewat fitur Discover Weekly meramu daftar putar berdasarkan kebiasaan pribadi sekaligus pola jutaan pengguna lain. Hasilnya, banyak orang menemukan lagu baru yang terasa pas dengan suasana hati mereka.
Netflix, aplikasi film terbesar dunia, menyatakan bahwa lebih dari 80 persen tontonan dipilih dari rekomendasi sistemnya, angka yang menegaskan betapa besar peran algoritma dalam menentukan apa yang kita lihat. TikTok dengan For You Page-nya bahkan secara mendetail merekam pola interaksi Anda: ia merekam setiap interaksi, mulai dari durasi menonton, momen saat layar digulir, hingga detik ketika kita berhenti atau mengulang video. Semua jejak kecil itu diolah menjadi rangkaian konten berikutnya yang membuat pengguna betah berlama-lama.
Kemudahan ini tentu dalam beberapa aspek di nilai membantu dan relate dengan kondisi "efisiensi" semakin digandrugi. Kita tidak perlu repot mencari musik atau film, dan kadang justru menemukan sesuatu yang tak pernah terpikir sebelumnya. Banyak pengguna mengaku mendapat pengalaman baru, entah mengenal musisi baru, ide kreatif, atau tren budaya yang tak akan muncul tanpa rekomendasi tersebut.
Tetapi, kenyamanan itu juga punya sisi lain. Sistem yang terus-menerus menghitung pola kebiasaan, baik Anda sadari atau tidak, akan membuat layar kita dipenuhi hal-hal yang mirip dan secara konsisten tampil di gawai kita. Di TikTok, misalnya, seseorang yang menonton satu-dua video bertema konspirasi bisa dengan cepat dibanjiri video serupa. Di Netflix, orang yang menonton drama romantis berulang kali akan jarang ditawari film dokumenter atau genre lain yang lebih menantang.
Lama-kelamaan, layar gawai Anda akan menjadi cermin kebiasaan Anda, dan secara tidak langsung mempersempit cara pandang kita terhadap keberagaman, dan kadang kreativitas itu sendiri. Itulah wajah ganda dari pola “alat pemandu” algortima, di satu sisi ia dapat memperkaya dan menuntun pada hal yang berguna, pada sisi lain ia justru mengurung kita dalam lingkaran dan mempersempit cara pandang kita.
Yuval Noah Harari, dalam Sapiens: A Brief History of Humankind, menegaskan bahwa manusia sepanjang sejarah selalu dikelilingi oleh narasi yang membentuk realitas kolektif. Agama, ideologi, hingga kapitalisme modern semuanya bekerja melalui “cerita” yang kita sepakati bersama. Dalam perspektif ini, algoritma dapat dipahami sebagai mesin penyampai narasi baru, medium yang terus-menerus mengalirkan cerita tertentu sehingga membentuk horizon persepsi kita. Oleh karena itu, menurutnya, tantangan kita hari ini terletak pada bagaimana narasi yang dibawa algoritma dapat dinegosiasikan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Selanjutnya, jika kita merujuk pada pendapat Marshall McLuhan dalam "Understanding Media: The Extensions of Man" dikatakan bahwa platform digital tidaklah netral, ia akan ikut menentukan apa yang dianggap penting dan apa yang harus disisihkan. Netflix, TikTok, maupun Spotify sebagaimana ilustrasi sebelumnya jelas telah berperan mengarahkan pola atensi dan preferensi kita pada suatu kecenderungan tertentu. Di titik ini, algoritma adalah bagian dari ekologi budaya dan sosial, sekaligus sebagai kekuatan yang patut dikritisi dari sisi teknis, sosial, etis, maupun politis.
Perkembangan algoritma harus kita akui telah memberikan manusia kemudahan, layaknya fungsi teknologi pada umumnya. Dalam banyak kasus, sistem rekomendasi algoritma dapat memberikan akses baru terhadap sumber belajar, peluang ekonomi, dan solidaritas sosial. Algoritma bisa menjadi jembatan antara pengetahuan dan orang-orang yang sebelumnya terhalang. Seorang pelajar di daerah terpencil dapat menemukan materi pembelajaran melalui YouTube, atau UMKM lokal memperoleh pasar baru lewat algoritma e-commerce.
Melihat kondisi di atas, setidaknya mari kita pegang dan ingat-ingat salah satu kaidah fikih "al-muḥāfaẓah ʿala al-qadīm al-ṣāliḥ wa al-akhdzu bi al-jadīd al-aṣlaḥ" yang artinya memelihara yang lama yang masih relevan, serta mengadopsi yang baru yang lebih membawa kemaslahatan. Kaidah ini dapat menjadi pijakan kita untuk menghadapi sisi positif dan negatif dari algoritma. Menutup diri sepenuhnya dari teknologi hanya akan memperbesar jarak dan kehilangan kendali, sedangkan sikap kritis dan selektif akan menjadikan kita manusia yang dapat menentukan arah algoritma pada tujuan kemaslahatan.
Dengan begitu, manusia masih mungkin berada di posisi pengendali. Kesadaran kritis dan nilai etika akan dapat membuat kita mampu menentukan kapan mengikuti rekomendasi, kapan menolaknya, dan kapan membiarkan algoritma bekerja untuk kepentingan kita. Pada titik ini, teknologi berfungsi sebagai penopang perjalanan intelektual, spiritual, dan sosial kita. Dan di sinilah letak tantangan sekaligus peluang kita, apakah kita sekadar menjadi manusia pasif dalam arus digital ini, atau justru nakhoda yang mampu menavigasi algoritma menuju peradaban yang lebih manusiawi.
Pertanyaannya kini Anda mau jadi yang mana? Dikendalikan, dipandu, atau mengontrol algoritma?”
