Eco-Theology: Mahasiswa UIN Ponorogo Tawarkan Solusi Pertanian Ramah Lingkungan

Soleh Hasan Wahid is currently working as a Lecturer of Islamic Law and Economics at the Sharia Faculty, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. He is the Secretary of the Internal Audit Department of IAIN Ponorogo.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Soleh Hasan Wahid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ponorogo, 6 Agustus 2025 — Mahasiswa KPM 16 UIN Ponorogo menyelenggarakan seminar bertajuk “Edukasi dan Pengenalan Teknologi Tabur Pupuk untuk Pertanian Berkelanjutan” bersama Kelompok Tani Kemiri Makmur di Desa Kemiri, Kecamatan Jenangan. Kegiatan ini menjadi ruang pengabdian yang tidak hanya teknis, tetapi juga membawa pesan spiritual tentang hubungan manusia dengan alam.
Mengusung semangat eco-theology, mahasiswa berupaya menghadirkan solusi pertanian yang tidak merusak alam dan menanamkan kesadaran bahwa bertani secara lestari adalah bentuk tanggung jawab keagamaan.
Pupuk Bokashi: Solusi Organik bagi Petani
Sebagai pemateri utama, Rohmad, S.P., penyuluh pertanian dari BPP Kecamatan Jenangan, memaparkan pentingnya penggunaan pupuk bokashi, yaitu pupuk organik hasil fermentasi jerami, sekam, dan kotoran ternak. Bokashi menjadi alternatif atas pupuk kimia yang mahal dan merusak struktur tanah jika digunakan berlebihan.
Para petani menyimak dengan antusias. Meskipun tidak dilakukan praktik langsung, materi yang disampaikan bersifat aplikatif dan menjawab keresahan riil petani di lapangan. Seminar ini ditutup dengan penyerahan simbolis pupuk bokashi dan sertifikat kepada perwakilan kelompok tani.
Alat Tabur Pupuk Sederhana: Efisien dan Tepat Guna
Salah satu puncak kegiatan adalah demonstrasi alat tabur pupuk sederhana karya mahasiswa. Dipandu oleh Syahrul dan Rengga, alat ini mempercepat proses pemupukan dan menjaga sebaran agar lebih merata. Alat tersebut dibuat dari bahan murah dan mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Para petani menunjukkan ketertarikan tinggi, bahkan langsung bertanya bagaimana cara membuat dan mengembangkan alat tersebut. Ini membuktikan bahwa teknologi tak harus mahal untuk bisa berdampak.
Gotong Royong dan Komitmen Ekologis
Kegiatan diakhiri dengan foto bersama dan aksi bersih-bersih lingkungan di sekitar lokasi acara. Momen ini bukan hanya simbolis, tapi menjadi bukti bahwa nilai-nilai gotong royong dan kepedulian ekologis dapat ditanamkan melalui kegiatan pengabdian.
Hal ini menunjukkan bahwa menjaga lingkungan tidak selalu dimulai dari hal besar atau teknologi canggih. Justru dari langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama, seperti membersihkan halaman setelah kegiatan, atau saling mengingatkan soal sampah, kesadaran ekologis dapat tumbuh secara alami. Ketika gotong royong dipadukan dengan nilai kepedulian terhadap alam, tindakan yang sederhana pun dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab kolektif yang bertahan lebih lama daripada sekadar ajakan formal. Inilah fondasi etika lingkungan yang hidup dalam praktik, bukan hanya dalam teori.
Menanam Kesadaran, Memanen Perubahan
Mahasiswa KPM 16 UIN Ponorogo telah menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat dapat menjadi wadah penerapan nilai-nilai keagamaan dalam bentuk konkret. Dengan mengenalkan teknologi tepat guna dan solusi pertanian organik, mereka tidak hanya mentransfer ilmu, tapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga bumi adalah bagian dari ibadah.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa eco-theology dapat berkembang dari tindakan nyata yang berpijak pada kepedulian terhadap tanah, kehidupan, dan sesama. Dari ladang-ladang desa, kesadaran ekologis bertumbuh bersama semangat belajar dan kebersamaan.
