Terjebak Algoritma: Siapa yang Lebih Tekun, Mesin atau Pendidik?

Soleh Hasan Wahid is currently working as a Lecturer of Islamic Law and Economics at the Sharia Faculty, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. He is the Secretary of the Internal Audit Department of IAIN Ponorogo.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Soleh Hasan Wahid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa waktu lalu saya mendengar cerita, bahkan melihat sendiri di berbagai video pendek yang berseliweran di TikTok dan Instagram. Anak-anak muda terlihat berseliweran di gawai dengan pakaian yang terasa kurang pas: ada yang terlalu ketat, ada yang nyeleneh, bahkan kadang tidak memakai atribut resmi yang mestinya menyertai.
Yang menarik, potongan video semacam ini hampir selalu memancing komentar di kolom diskusi. Ada yang geleng-geleng kepala sambil menulis, “Kok anak-anak zaman sekarang begini, ya?” Ada pula yang sinis: “Pendidikannya di mana? Orang tuanya ke mana?” Bahkan tak jarang yang menuntut lembaga terkait lebih tegas soal aturan. Singkatnya, urusan pakaian memang sering jadi bahan perbincangan di berbagai media.
Sayangnya, kita sering berhenti di situ. Kita menilai soal pakaian ini hanya dalam konteks kepatuhan semata. Kita kadang agak lupa, atau memang tidak ingat, bahwa bisa saja ada sesuatu yang salah dan lebih besar yang tersembunyi di baliknya. “Thick description,” begitu Clifford Geertz menyebutnya—membaca fenomena bukan hanya dari kulitnya, melainkan kita perlu menggali lapisan makna di dalamnya.
Namun di balik riuh komentar itu, ada pertanyaan lain yang layak kita renungkan: apakah benar ini murni soal ketaatan pada aturan, atau ada pola yang lebih substantif dan harus segera kita perbaiki sehingga dapat membentuk dan memperbaiki cara mereka berperilaku?
Tentu saja ada banyak kemungkinan di sini, di antara berbagai kemungkinan itu kita bisa simulasikan dalam beberapa hal, pertama tindakan kolektif itu terjadi secara sengaja, kedua tindakan kolektif itu terjadi tidak sengaja, dan kemungkinan lainnya adalah tindakan itu tidak disadari, inilah yang menurut saya berbahaya.
Nah, di titik inilah kita mesti menoleh pada sesuatu yang sering luput: algoritma. Dunia digital tidak pernah netral. Algoritma media sosial, mesin pencari, hingga aplikasi tertentu bekerja diam-diam membentuk kebiasaan kita tanpa disadari.
Dari cara berpakaian, cara berbicara, sampai cara memaknai simbol sosial, semuanya diarahkan oleh logika: apa yang paling sering muncul di layar. Jika setiap hari anak-anak dijejali OOTD ala selebgram, wajar bila standar berpakaian resmi terasa kaku, bahkan asing.
Yang membuatnya rumit, algoritma ini bekerja nyaris tanpa henti. Ia tidak mengenal jam pelajaran atau ruang kelas. Ia mengajar setiap kali jari menyapu layar, setiap kali notifikasi muncul, setiap kali konten viral ditonton berjuta kali. Pola hidup, nilai, bahkan cara anak-anak menilai “benar” dan “salah” sebagian besar dibentuk dari sana. Mereka menyerap pelajaran bukan dari guru, tetapi justru dari algoritma yang secara sabar dan konsisten mengulang-ulang pesan yang sama.
Di sisi lain, kita sering menganggap hal semacam ini sekadar soal pilihan pribadi. Padahal, kebiasaan yang muncul terus-menerus akhirnya membentuk cara pandang kolektif. Kalau algoritma setiap hari mengajarkan bahwa pakaian adalah gaya, lambat laun itu menjadi kesadaran bersama, yang lebih kuat daripada seribu pengumuman dan aturan.
Masalahnya, kita para pendidik pun sering ikut hanyut. Fokus kita terlalu banyak tersedot pada aturan yang kaku, metrik, dan angka-angka administratif. Kita merasa sudah mendidik dengan disiplin, padahal yang kita lakukan lebih mirip menjaga kulit. Substansi yang lebih dalam, kesabaran menjelaskan makna, membimbing perilaku, dan membentuk kesadaran, sering terabaikan.
Fenomena inflasi nilai yang ramai dibicarakan beberapa waktu lalu memberi kita gambaran jelas soal terjebaknya kita pada metrik ini. Nilai rapor makin tinggi, IPK rata-rata melesat, namun banyak yang meragukan apakah kualitas belajar sungguh meningkat. Tulisan di kumparan (15 Juli 2025) oleh Syamsul Nurip Hidayat bahkan mencatat, hampir 30 persen lulusan sudah menyandang predikat cum laude. Ia menyebut inflasi IPK ini berbahaya karena membuat standar akademik longgar dan kehilangan makna substantif.
Nilai akhirnya berubah jadi metrik: indah di atas kertas, tetapi miskin makna. Ia memberi rasa puas yang semu, sementara aspek-aspek penting seperti kejujuran, daya kritis, dan kesabaran belajar justru terpinggirkan.
Begitu pula dengan kedisiplinan sehari-hari. Kita rajin dan bahkan terlalu berfokus pada kepatuhan, tetapi lupa menanamkan makna di balik aturan. Akhirnya, anak-anak membaca pesan yang salah: pakaian dianggap kostum, aturan jadi formalitas, nilai hanyalah angka. Pendidikan kehilangan kedalaman, padahal yang paling dibutuhkan justru latihan makna yang konsisten, sesuatu yang menuntut kesabaran jauh lebih panjang dan butuh ketahanan.
Semua ini menunjukkan bahwa kita sebenarnya sedang berhadapan berada di jurang jebakan algoritma. Anak-anak generasi ini; mereka tumbuh dalam arus algoritma yang secara sabar, konsisten, dan tanpa henti membimbing jalan hidup mereka. Sementara itu, kita para pendidik terlalu sering berhenti pada aturan, angka, dan laporan, lupa bahwa pendidikan sejatinya adalah proses menanamkan makna.
Maka, jangan-jangan masalahnya bukan pada mereka, melainkan pada kita yang ikut terlena. Kita yang sibuk menjaga kulit saja dan membiarkan algoritma mengambil alih ajaran yang lebih bersifat substansi. Kita yang lebih percaya pada metrik daripada kesadaran moral yang memang sangat butuh kesabaran dan umumnya tidak instan.
Pakaian bisa diluruskan, aturan bisa ditegakkan, nilai bisa dicatat. Tapi makna tidak bisa dibentuk secepat algoritma. Kalau kita hanya sibuk dengan kulit luar, maka yang tersisa hanyalah generasi angka dan laporan. Itulah jebakan algoritma yang harus segera kita sadari.
