Pahlawan di Zaman Tanpa Peperangan
Tulisan dari Ahmad Shalihin, S Pd, M Pd tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sekitar tahun 2010, saya pertama kali berkunjung ke Tugu Pahlawan di Surabaya dalam rangka kegiatan memperoleh TISKA ( Tanda Ikut Serta Kegiatan ) Bravet Wings Tapak Tilas Pramuka. Saat itu saya merasakan kebanggaan yang sulit dijelaskan. Atmosfer jiwa kepahlawanan terasa hidup di sana. Tugu itu bukan sekadar bangunan, melainkan simbol keberanian. Ia berdiri untuk mengenang 10 November 1945, ketika ribuan warga Surabaya bertahan melawan pasukan Sekutu yang jauh lebih kuat. Banyak dari mereka hanyalah pelajar, pedagang, buruh, dan santri. Mereka tahu peluang menang kecil, tapi tetap berdiri.
Kini, 81 tahun kemudian, kita hidup di zaman tanpa peperangan. Tidak ada lagi meriam dan kapal perang. Lalu, jika medan tempurnya sudah tiada, seperti apa wajah pahlawan hari ini?
Nilai Perjuangan dari Pesantren
Sebelum pertempuran pecah, KH Hasyim Asy'ari menyerukan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Seruan itu menegaskan bahwa membela tanah air adalah kewajiban. Para kiai dan santri dari berbagai daerah pun bergerak menuju Surabaya.
Sebagai santri Pondok Pesantren Al-Qodiri Jember, saya ingat satu nasihat dari pengasuh kami, KH Ach Muzakki Syah: "Kemuliaan tidak diperoleh karena keturunan, tetapi karena jerih payah". Saya memahami maksud beliau sebagai pesan agar santri terus menumbuhkan nilai perjuangan dalam meraih kesuksesan. Nasihat itu terus kami bawa sampai sekarang.
Bagi saya, pesan itu juga menjelaskan kepahlawanan. Para pejuang 1945 tidak menjadi mulia karena nama besar atau garis keturunan, melainkan karena pengorbanan yang mereka berikan, dan banyak di antaranya tak pernah tercatat namanya. Kemuliaan selalu lahir dari kerja keras, bukan dari warisan.
Musuh yang Lebih Sunyi
Di zaman tanpa peperangan, musuh kita tidak datang dengan ultimatum. Ia hadir sebagai kemiskinan, anak yang putus sekolah, bencana yang datang tiba-tiba, dan sikap tidak peduli. Musuh seperti ini tidak bisa dikalahkan dalam satu pertempuran. Ia hanya bisa dilawan dengan ketekunan, hari demi hari.
Contohnya terlihat dalam beberapa pekan terakhir. Kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia belum juga teratasi, dan Republika mencatat sedikitnya 10 relawan meninggal dunia saat menanganinya hingga 23 Oktober 2026. Di kawasan Bromo, enam relawan yang terjebak api pada 15 Oktober akhirnya semuanya meninggal dunia. Di tempat lain, relawan masih berjibaku di lapangan sambil menyoroti kondisi logistik pemadaman, seperti yang terjadi di Gunung Lawu.
Mereka tidak dipanggil negara untuk berperang. Mereka datang karena api mengancam hutan, kampung, dan sesama. Inilah wajah kepahlawanan masa kini: bekerja tanpa jaminan, tanpa sorotan, kadang dengan nyawa sebagai taruhan. Pengorbanan seperti ini semestinya dibalas dengan perlindungan yang layak, bukan hanya ucapan duka dan apresiasi.
Pahlawan yang Tidak Terlihat Seperti Pahlawan
Semangat santri 1945 sebenarnya masih hidup, hanya bentuknya berbeda. Ia ada pada santri yang menjadi guru ngaji di kampung dan pada alumni pesantren yang mendirikan sekolah dan usaha untuk warga sekitar. Hal yang sama berlaku bagi guru di sekolah terpencil dan tenaga kesehatan yang tetap bertugas saat orang lain menjauh.
Ada pula kepahlawanan yang lebih sulit dilihat: menjaga amanah. Pekan ini publik dikejutkan oleh kabar bahwa tiga jenderal polisi, termasuk mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo, ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden. Menurut Bareskrim, penyadapan itu diduga menyasar bukan hanya Presiden, tetapi juga pejabat negara, tokoh politik, media, tokoh ormas, hingga pengusaha. Proses hukum masih berjalan, dan asas praduga tak bersalah tetap harus dihormati.
Terlepas dari bagaimana akhir perkaranya, kasus ini mengingatkan kita pada satu hal. Kekuasaan dan alat negara dititipkan untuk melindungi rakyat, bukan untuk mengintai. Di tengah godaan menyalahgunakan wewenang, orang yang memilih lurus, menolak perintah yang salah, dan berani melapor adalah pahlawan juga. Menurut Bareskrim, kasus ini terungkap setelah seorang petugas mengetahui peristiwanya dan membuat laporan polisi. Keberanian semacam itu sering tidak dielu-elukan, tetapi menentukan apakah hukum benar-benar tegak.
Jangan Berhenti di Seremoni
Setiap 10 November kita mengadakan upacara, menabur bunga, dan mengunggah ucapan di media sosial. Semua itu baik. Tapi penghormatan yang berhenti di seremoni mudah menjadi rutinitas tanpa makna. Ukuran yang sebenarnya adalah seberapa jauh nilai para pejuang itu hidup dalam keseharian, dan seberapa sungguh kita memperlakukan mereka yang hari ini bertaruh demi orang lain.
Keberanian tidak harus besar. Ia bisa berupa jujur saat tidak ada yang mengawasi, membantu tetangga yang kesulitan, ikut menjaga hutan dan lingkungan, atau berani berkata "tidak" ketika diajak curang. Para pemuda dan santri 1945 pun awalnya hanyalah orang biasa. Mereka menjadi pahlawan karena pada saat yang menentukan, mereka memilih tidak berpangku tangan.
Maka pertanyaan di Hari Pahlawan sebaiknya bergeser. Bukan hanya "siapa pahlawan kita?", tetapi "bagaimana kita memperjuangkan nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu, di zaman yang tidak lagi mengenal peperangan?".

