Delay Di Era Milenial Yang Semakin Lalai

Mahasiswa Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, memiliki hobi membaca, olahraga, dan berbicara :). Pegiat komunitas sosial kemasyarakatan berbasis literasi (TBM kolong fly over Ciputat).
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Resna Sollehudin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Rasa sepi dan sendiri merupakan dua rasa yang senantiasa selalu menghampiri di beberapa individu generasi milenial saat ini. Entah mengapa dan bagaimana hal itu dapat terjadi? Apakah hal tersebut memang wajar? Merasa sepi dan sendiri, serta selalu mencari cara agar diri tidak merasa-kan hal yang demikian?

Merasa sepi dan sendiri menurut pendapat para ahli merupakan hal yang wajar dan sering dirasakan di dalam diri seseorang. Mengutip pendapat dari website Alodokter bahwa, "Merasa sendiri bisa dilami oleh siapa saja, mulai dari anak-anak, orang dewasa, hingga orang lanjut usia". Dengan demikian hal tersebut merupakan suatu hal wajar yang dialami oleh seseorang. Namun berbeda lagi jika rasa tersebut sifat-nya sudah menjadi berlebihan. Maka perlu dikonsultasikan kepada ahli yang memiliki kecakapan akan bidang tersebut, seperti psikolog atau sejenis-nya.
Setiap generasi milenial saat ini terkadang merasa bingung, hal apa yang akan dilakukan dalam menjalani hari selama 24 jam. Generasi saat ini berusaha ingin produktif dan berusaha ingin mengisi hari-harinya selama 24 jam itu dengan hal-hal yang berarti dan dapat meningkatkan value(nilai) dalam diri.
Namun ternyata dalam melakukan peningkatan value(nilai) pribadi seseorang, tidak semudah apa yang dibayangkan diri ini. Mengisi hari selama 24 jam dengan hal-hal produktif ternyata tidak semudah membalik-kan kedua telapak tangan. Pikiran, perasaan, dan bahkan terkadang lingkungan, menjadi tantangan tersendiri dalam melakukan hal-hal produktif yang diri ini ingin lakukan.
Tidak jarang bahkan diri ini telah merencanakan hal-hal produktif apa yang ingin besok dilakukan, namun diri ini malah abai serta melalaikan akan semua yang telah direncanakan.
Memang benar, ada pepatah yang mengatakan;
" Yang terberat bukanlah melawan musuh yang ada di hadapan, akan tetapi yang terberat adalah melawan rasa kemalasan dan berbagai macam penundaan atas segala kesempatan ".
Oleh karena itu, memang terasa apa yang Rasulullah ﷺ pernah sabdakan ;
" Jihad terbesar bukan-lah jihad dalam peperangan! Namun jihad terberat dan terbesar adalah, jihad dalam menundukkan hawa nafsu! ".
Dengan demikian, memang tidak dapat dipungkiri bahwa kemalasan serta berbagai macam penundaan memang tidak mudah untuk kita entas-kan. Oleh sebab itu, memang sangat dibutuhkan kesungguhan serta kesigapan. Dalam rangka mencegah berbagai rasa kemalasan serta penundaan.
Salah satu cara-nya adalah dengan mengurangi retensi terhadap hal-hal yang memang tidak perlu dilakukan, dan mulai fokus terhadap tujuan-tujuan yang ingin dijalankan. Dengan begitu, lambat laun berbagai macam rasa kemalasan serta penundaan akan sedikit demi sedikit tersingkirkan dan tergantikan dengan kedisiplinan.
Semoga kedepan-nya, kita dapat lebih memaksimalkan lagi diri kita agar tidak terjebak dalam kemalasan serta penundaan. Dan kita dapat lebih fokus dalam melakukan peningkatan diri serta tidak terjebak dalam rasa sepi, dan tidak menjadi generasi milenial yang banyak lalai dan banyak melakukan delay(penundaan) dalam menjalani kehidupan.
