Etika Dalam Menyikapi Kehidupan

Mahasiswa Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, memiliki hobi membaca, olahraga, dan berbicara :). Pegiat komunitas sosial kemasyarakatan berbasis literasi (TBM kolong fly over Ciputat).
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Resna Sollehudin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah kalian merasakan bahwa kehidupan yang kalian dapatkan begitu kejam serta menyakitkan? Begitu banyak masalah-masalah serta berbagai macam persoalan yang kian hari kian menghampiri? Mulai dari hubungan keluarga, pertemanan, ekonomi, pekerjaan, bahkan percintaan? Semua masalah datang bertubi-tubi bagaikan tetesan hujan yang turun dari langit tanpa henti.

Sepertinya sudah menjadi hal yang tidak aneh serta lumrah bahwasanya setiap manusia pasti memiliki problematika atau permasalahan hidupnya masing-masing yang begitu beragam. Masing-masing Individu menanggung berbagai macam persoalan-persoalan yang berbeda-beda dalam kehidupannya. Mulai dari anak-anak, kaula muda, orang dewasa, hingga para orangtua renta masing-masing dari mereka pasti memiliki permasalahan di dalam kehidupannya.
Kemudian jika memang setiap manusia memiliki persoalan atau permasalahan di dalam kehidupannya, lalu apa yang membuat masing-masing dari mereka terkadang berbeda dalam menjalani kehidupan? Bukankah setiap manusia memiliki permasalahan? Namun mengapa tak jarang banyak berita yang mengabarkan akan kematian seseorang yang bunuh diri karena tidak kuat menjalani kehidupan? Kemudian tak jarang juga kita mendengar berita, banyak orang yang hidupnya bahagia bagaikan tidak memiliki permasalahan? Apakah yang sebenarnya membedakan antara dua contoh di atas?
Seorang tokoh filsuf yunani pernah berkata :
"Kehidupan yang tidak diuji tidak layak untuk dijalani." - Socrates
Oleh karena itu, kehidupan sebenarnya bukan mengenai siapa orang yang lebih banyak permasalahan atau persoalan dalam menjalani hidup keseharian kemudian saling membandingkan dan saling mengutuk kesialan atau bahkan sampai berani mengilangkan nyawa! karena pada hakikatnya setiap insan memiliki permasalahan dan persoalan dalam kehidupan.
Yang menjadikan perbedaan dalam menjalani kehidupan, sehingga ada orang yang tak kuasa sampai menghilangkan nyawa dan ada orang yang biasa saja bahkan sampai terlampau bahagia dalam memandang kehidupan adalah apa yang disebut penulis dengan "Etika Hidup".
Etika Hidup yang dimaksud oleh penulis adalah berupa rasa syukur. Bagaimana cara kita dalam menghadapi berbagai persoalan atau permasalahan yang muncul dalam kehidupan. Bagaimana cara kita memandang terhadap berbagai macam persoalan serta permasalahan secara beretika serta tidak secara membabi buta membabad habis semuanya dan memandangnya sebagai hal yang negatif!
Etika Hidup juga berkaitan dengan bagaimana cara kita supaya bisa tetap bersyukur terhadap segala persoalan yang ada dan memandangnya bukan sebagai permasalahan yang harus dipikirkan secara berkelarutan. Namun dengan etika hidup kita belajar bagaimana caranya agar lebih legowo atau tidak risau terhadap persoalan serta permasalahan yang kita punya.
Dengan demikian bahwa sebenarnya permasalahan serta persoalan pada diri setiap orang pasti nyata adanya, namun semua kembali lagi bagaimana cara kita beretika terhadap permasalahan dan persoalan yang ada. Yakni dengan mengutamakan rasa syukur dibanding mengutuk serta meratapi! Dengan beretika terhadap hidup, saya yakin semua hal yang mungkin kita anggap permasalahan atau persoalan akan hilang dan kalah dengan rasa syukur yang kita punya. Oleh karena itu;
"Ber-etika lah dalam hidup, niscaya hidup yang mungkin kau anggap sebagai musibah sebenarnya ia merupakan sebuah anugerah tuhan yang tak ternilai harganya!"
~Resna Sollehudin~
