Wisata Ziarah di Lampung Selatan: Peluang dan Tantangan

Mahasiswa Magister Pariwisata Universitas Pendidikan Indonesia
ยทwaktu baca 5 menit
Tulisan dari Somadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Lampung Selatan adalah salah satu kabupaten yang menyimpan potensi besar dalam sektor pariwisata, termasuk wisata ziarah. Wilayah ini tidak hanya kaya akan panorama alam seperti pantai, bukit, dan taman nasional, tetapi juga memiliki warisan sejarah dan nilai-nilai spiritual yang kuat. Salah satu bentuk warisan tersebut adalah keberadaan situs-situs religi dan makam tokoh-tokoh penting yang telah berjasa dalam menyebarkan agama dan membentuk peradaban di tanah Lampung. Sayangnya, potensi wisata ziarah di Lampung Selatan hingga kini belum dikembangkan secara optimal, padahal jika dikelola dengan baik, wisata ini bisa memberikan manfaat besar, baik dari sisi spiritual, sosial-budaya, ekonomi, hingga pendidikan. Oleh karena itu, pengembangan wisata ziarah di Lampung Selatan menjadi sangat penting, terutama dalam konteks memperkuat identitas lokal, memperluas pilihan destinasi wisata, dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah berbasis partisipasi masyarakat.

Salah satu alasan utama perlunya pengembangan wisata ziarah di Lampung Selatan adalah karena wisata ini memiliki nilai spiritual yang tinggi bagi masyarakat. Kegiatan ziarah telah menjadi bagian dari tradisi dan praktik keagamaan masyarakat Lampung, terutama umat Islam yang secara turun-temurun mengunjungi makam para tokoh agama seperti makam Ratu Darah Putih, makam Ratu Menangsih, Makam Habib Ali Bin Alwi Al Idrus, dan makam Pangeran Raden Intan II yang pahlawan nasional sekaligus pejuang Islam yang sangat dihormati di Lampung Selatan. Kunjungan ke situs-situs tersebut bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga sarana mengenang sejarah perjuangan dan mempererat hubungan antargenerasi. Jika tempat-tempat ini dikembangkan sebagai bagian dari destinasi wisata ziarah yang terkelola baik, maka pengunjung tidak hanya mendapatkan pengalaman spiritual, tetapi juga edukasi sejarah dan budaya lokal yang memperkaya wawasan dan nilai keimanan mereka.
Selain dari segi spiritual, potensi wisata ziarah di Lampung Selatan juga memiliki peluang besar dari sisi ekonomi dan pemberdayaan masyarakat. Dengan meningkatnya tren wisata religi di Indonesia, banyak orang dari luar daerah yang melakukan perjalanan ziarah ke berbagai provinsi, terutama saat libur panjang atau bulan-bulan khusus dalam kalender keagamaan. Lampung Selatan dengan akses strategis dari Pulau Jawa melalui Pelabuhan Bakauheni memiliki peluang besar untuk menangkap arus wisatawan tersebut. Jika wisata ziarah dikembangkan dengan konsep terintegrasi yakni melibatkan penginapan, pusat kuliner lokal, pasar oleh-oleh, hingga jasa pemandu wisata, maka masyarakat sekitar lokasi ziarah dapat langsung merasakan manfaat ekonomi dari kedatangan para peziarah. Peluang ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, menciptakan lapangan kerja baru, dan mengurangi ketimpangan wilayah, terutama di desa-desa yang selama ini belum tersentuh geliat pariwisata.
Di sisi lain, pengembangan wisata ziarah juga berkontribusi pada pelestarian budaya dan sejarah daerah. Banyak situs ziarah di Lampung Selatan yang tidak hanya memiliki nilai keagamaan, tetapi juga nilai sejarah dan arsitektur yang tinggi. Sayangnya, sejumlah makam dan bangunan tua belum terawat dengan baik, bahkan ada yang terancam rusak akibat kurangnya perhatian. Wisata ziarah dapat menjadi cara efektif untuk melestarikan situs-situs tersebut, karena pengelolaan berbasis wisata akan mendorong pemeliharaan, konservasi, dan revitalisasi situs agar tetap lestari. Selain itu, generasi muda yang kerap kurang mengenal sejarah daerahnya, dapat mendapatkan pengalaman langsung dan pemahaman yang lebih utuh melalui kunjungan ke lokasi-lokasi ziarah, sehingga memperkuat rasa bangga dan cinta terhadap warisan lokal.
Namun demikian, pengembangan wisata ziarah di Lampung Selatan tidak lepas dari sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi dan dikelola secara bijak. Tantangan pertama adalah infrastruktur pendukung yang masih terbatas di sekitar lokasi ziarah. Banyak situs makam keramat yang berada di daerah pedesaan dengan akses jalan yang sempit, belum beraspal, atau minim fasilitas publik seperti toilet, parkir, tempat ibadah, dan warung makan. Tanpa infrastruktur yang layak, kenyamanan dan keamanan pengunjung akan terganggu, dan hal ini dapat menghambat pertumbuhan minat wisatawan. Dengan demikian, Pemerintah Daerah perlu bekerja sama dengan pemerintah provinsi dan pusat untuk mengalokasikan anggaran pembangunan infrastruktur wisata, serta mendorong partisipasi swasta dalam penyediaan fasilitas pendukung.
Tantangan berikutnya adalah rendahnya promosi dan pengemasan destinasi ziarah sebagai produk wisata yang menarik. Hingga kini, banyak orang di luar Lampung belum mengetahui keberadaan makam-makam tokoh agama atau situs religi di Lampung Selatan. Minimnya promosi melalui media sosial, website pariwisata, atau kolaborasi dengan agen perjalanan membuat potensi wisata ziarah belum tergali maksimal. Untuk itu, diperlukan strategi promosi yang kuat dan konsisten, termasuk pembuatan materi digital, peta wisata religi, pameran pariwisata, hingga penyelenggaraan event keagamaan yang terjadwal secara rutin. Melibatkan generasi muda dan komunitas digital juga bisa menjadi langkah efektif untuk menyebarkan informasi secara luas.
Di samping itu, aspek pengelolaan dan koordinasi antarinstansi serta pelibatan masyarakat juga menjadi tantangan tersendiri. Wisata ziarah bukan sekadar sektor pariwisata, tetapi menyangkut nilai-nilai agama dan tradisi yang sakral. Oleh karena itu, pengembangannya tidak bisa dilakukan secara sembarangan atau semata-mata untuk komersialisasi. Harus ada dialog dan kerja sama yang erat antara tokoh adat, ulama, pemerintah, serta pelaku wisata agar pengembangan dilakukan dengan tetap menghormati nilai-nilai kearifan lokal dan tidak menyalahi aturan agama. Penerapan tata kelola wisata berbasis masyarakat sangat penting untuk memastikan bahwa manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh warga sekitar dan tidak merusak nilai-nilai luhur yang ada.
Selain itu, keberlanjutan lingkungan juga menjadi perhatian penting. Beberapa situs ziarah berada di kawasan alami seperti bukit atau hutan kecil. Peningkatan jumlah pengunjung bisa menimbulkan dampak negatif jika tidak dikontrol, seperti sampah yang menumpuk, kerusakan vegetasi, dan pencemaran air. Oleh karena itu, perlu diterapkan prinsip wisata ramah lingkungan, termasuk penyediaan fasilitas pengelolaan sampah, edukasi pengunjung tentang etika berziarah, serta pembatasan jumlah kunjungan pada waktu tertentu jika diperlukan.
Secara keseluruhan, pengembangan wisata ziarah di Lampung Selatan merupakan langkah strategis yang sangat potensial untuk mendukung pembangunan daerah secara berkelanjutan. Dengan kekayaan nilai spiritual, sejarah, dan budaya yang dimilikinya, Lampung Selatan bisa menjadi destinasi wisata religi unggulan di Sumatera. Namun, keberhasilan pengembangannya akan sangat ditentukan oleh sinergi antara pemerintah, masyarakat, tokoh agama, dan dunia usaha. Dengan perencanaan matang, promosi yang tepat, serta pelibatan masyarakat secara aktif, wisata ziarah di Lampung Selatan bukan hanya akan menghidupkan kembali warisan leluhur, tetapi juga menghidupkan roda ekonomi dan memperkuat jati diri daerah.
Penulis:
Somadi, Rosim, dan Sumarga M. Efendi
Mahasiswa Magister Pariwisata Universitas Pendidikan Indonesia
